Nihongo [日本語] adalah sebutan paling umum untuk bahasa Jepang. Kata ini langsung dikenali oleh siapa pun yang mulai belajar bahasa Jepang, tetapi di dalam negeri Jepang sendiri terdapat berbagai istilah lain untuk merujuk pada bahasa mereka sesuai konteks linguistik, pendidikan, dan sejarah. Pembagian istilah ini menunjukkan bagaimana masyarakat Jepang memandang bahasa ibu mereka sendiri dan bagaimana mereka membedakannya dari bahasa asing.
Daftar isi 5
Mengapa Bahasa Jepang Disebut Nihongo?
Sama seperti penyebutan nama negara Jepang, kita juga bisa merujuk pada bahasa Jepang menggunakan kata nippongo [日本語], meskipun bentuk ini jauh lebih jarang terdengar dalam percakapan sehari-hari. Untuk memahami alasan di balik penamaan ini, kita perlu melihat kembali mengapa Jepang memiliki nama ini.
Dalam tata bahasa Jepang, nama bahasa pada umumnya dibentuk dengan rumus sederhana: nama negara ditambah sufiks go [語], yang bermakna bahasa atau tuturan. Pola pembentukan kata ini menjadi salah satu karakteristik praktis dalam kosakata bahasa Jepang.
Bahasa Jepang merupakan bahasa resmi negara secara de facto. Meskipun terdapat berbagai dialek regional di kepulauan Jepang, bahasa persatuan nasional yang dipelajari dan diakui secara luas adalah nihongo. Saat ini, lebih dari 125 juta orang menuturkan bahasa Jepang di seluruh dunia, termasuk komunitas pembelajar internasional yang terus berkembang.

Kokugo: Bahasa Nasional Jepang
Kokugo [国語] merupakan istilah resmi lain untuk menyebut bahasa Jepang. Secara harfiah istilah ini berarti bahasa negara atau bahasa nasional. Sudut pandang yang digunakan adalah perspektif penutur asli di dalam negeri, berbeda dengan nihongo yang sering dipakai dalam konteks internasional atau pengajaran bahasa untuk orang asing.
Di sekolah-sekolah di Jepang, mata pelajaran bahasa ibu yang setara dengan pelajaran bahasa nasional disebut kokugo, bukan nihongo. Selain itu, istilah ini juga sering digunakan dalam kajian linguistik untuk membedakan kosakata asli Jepang dari kosakata serapan luar negeri.
Sebagai perbandingan pembentukan kata, bahasa Mandarin dalam bahasa Jepang disebut Chuugokugo [中国語]. Istilah ini dibentuk dari nama negara Tiongkok, yaitu Chuugoku [中国], yang berarti negara tengah, lalu digabungkan dengan kanji bahasa [語].

Yamato Kotoba: Lapisan Bahasa Jepang Kuno
Istilah yamato kotoba [大和言葉] merujuk pada kosakata dan bentuk bahasa Jepang asli yang berkembang sejak zaman kuno, khususnya hingga Periode Asuka (538 hingga 710 M). Dalam linguistik modern, lapisan kata asli ini sering disebut sebagai wago [和語], yang membentuk dasar leksikal murni bahasa Jepang di samping kosakata serapan kango dan gairaigo.
Saat ini, istilah yamato kotoba kerap dikaitkan dengan bahasa puisi klasik waka dan pilihan kata bernuansa anggun. Istilah ini menekankan keaslian warisan tutur Jepang yang sudah berakar kuat jauh sebelum masuknya sistem aksara dan kosakata Tiongkok secara masif.
Sebagian besar partikel, kata bantu tata bahasa, kata kerja dasar, dan kata sifat asli tergolong ke dalam yamato kotoba. Dalam teks klasik dan tradisi sastra lama, Anda juga dapat menemukan sebutan puitis alternatif berupa yamato kotonoha [やまとことのは].

Ragam Istilah Lain untuk Merujuk Bahasa Jepang
Jyapaniizu [ジャパニーズ]: kata serapan dari bahasa Inggris yang ditulis dengan katakana untuk menyebut bahasa Jepang dalam gaya percakapan kasual modern.
Kodaigo [古代語]: istilah untuk bahasa Jepang kuno yang digunakan dalam periode sejarah klasik hingga abad pertengahan.
Hougo [邦語]: sebutan untuk bahasa negeri sendiri, umumnya digunakan di lingkungan domestik Jepang untuk membedakan bahasa lokal dari bahasa asing. Bentuk teks tertulisnya disebut Houbun [邦文].
Kougo [口語]: ragam bahasa lisan atau percakapan sehari-hari, yang dibedakan dari gaya bahasa tulisan formal.
Gendaigo [現代語]: bahasa Jepang modern kontemporer yang digunakan sejak era Meiji hingga pasca Perang Dunia II dan terus dipakai sampai saat ini.
Kango [漢語]: kosakata serapan dari bahasa Tionghoa klasik yang membentuk bagian besar dari perbendaharaan kata formal dalam bahasa Jepang.
Nichigo [日語]: singkatan tertulis untuk bahasa Jepang yang menggunakan kanji hari atau matahari, sering dijumpai dalam dokumen ringkas atau teks berbahasa Mandarin.
Bungo [文語]: ragam bahasa sastra tertulis klasik yang berakar dari tata bahasa era Periode Heian.
Hyoujungo [標準語]: bahasa Jepang standar nasional yang berbasis pada dialek kelas menengah Tokyo dan digunakan dalam penyiaran publik, pendidikan, serta dokumen kenegaraan.
Kokuyaku [国訳]: istilah untuk karya terjemahan dari bahasa asing ke dalam bahasa Jepang.
Joudaigo [上代語]: ragam bahasa Jepang era kuno yang terdokumentasi dari akhir abad ke-6 hingga akhir zaman Nara.
Yougo [洋語]: sebutan historis untuk istilah atau kosakata yang diserap dari bahasa-bahasa Barat.
Mikunikotoba [御国言葉]: sebutan kuno yang bermakna bahasa negeri yang mulia untuk menghormati bahasa Jepang.
Kogo [古語]: istilah umum untuk kosakata dan tata bahasa arkais yang sudah tidak lagi dipakai dalam percakapan modern.

Bahasa Isyarat dalam Budaya Jepang
Bahasa isyarat Jepang secara resmi dikenal dengan nama nihon shuwa [日本手話] dan kerap disingkat sebagai JSL. Dalam keseharian, masyarakat umumnya menyebut ragam ini sebagai shuwa [手話], yang memadukan kanji tangan [手] dan tuturan atau percakapan [話].
Sistem komunikasi ini diakui secara linguistik sebagai sistem bahasa mandiri melalui istilah shuwagengo [手話言語]. Untuk metode pengajaran dan penerapannya dikenal istilah shuwahou [手話法], sedangkan profesi penerjemah bahasa isyarat disebut dengan istilah shuwatsuuyaku [手話通訳].
Memahami variasi sebutan bahasa Jepang memperkaya wawasan linguistik setiap pembelajar. Ketika berkomunikasi dalam ranah internasional, kata nihongo menjadi pilihan yang tepat, sementara pemahaman terhadap istilah seperti kokugo dan yamato kotoba memberikan gambaran mendalam tentang sejarah identitas bangsa Jepang.






Komunitas
Komentar
0 komentar
Belum ada komentar yang diterbitkan dalam bahasa ini.
Kirim komentar