Kata-kata Jepang dapat memiliki asal-usul yang dibagi menjadi 3 jenis: wago, kango, dan gairaigo. Wago adalah kata-kata asli Jepang, kango adalah kata-kata serapan Tiongkok, dan gairaigo adalah kata-kata serapan dari bahasa asing lainnya. Pembagian ini menjadi kunci penting untuk memahami cara kerja kosakata serta pembacaan huruf kanji.
Menurut penelitian kamus bahasa Jepang, lebih dari setengah kosakata terdiri dari unsur serapan: sekitar 49% merupakan kango asal Tiongkok, 18% berasal dari bahasa asing lain serta bentuk campuran, dan sekitar 33% merupakan wago dari zaman Jepang kuno. Meskipun tata bahasa Jepang berbeda dari bahasa Tionghoa, adaptasi kosakata ini membentuk karakter bahasa Jepang modern yang kita kenal saat ini.
Lapisan tertua bahasa Jepang dikenal sebagai Yamato Kotoba [大和言葉], merujuk pada Zaman Yamato (250-710). Pada masa pembentukan ini, masyarakat kepulauan Jepang mengembangkan kosakata lisan asli mereka sebelum kontak intensif dengan aksara dan kebudayaan Tiongkok serta Semenanjung Korea memperkaya perbendaharaan kata.

Daftar isi 3
WAGO [和語]: Kata Asli Jepang
Wago adalah kata-kata asli Jepang, sering disebut juga yamato kotoba [大和言葉]. Kosakata ini mencakup perbendaharaan kata lisan yang sudah ada sebelum bangsa Jepang mengenal aksara kanji. Pada kanji, wago umumnya berkaitan erat dengan pembacaan KUN (kun'yomi), yaitu pelafalan makna asli Jepang untuk karakter tersebut.
Kosakata wago mencakup kata-kata dasar kehidupan sehari-hari, mulai dari kata benda sederhana bersuku kata tunggal atau ganda seperti te [手, tangan], me [目, mata], ki [木, pohon], yama [山, gunung], dan mizu [水, air], hingga kata kerja mandiri non-suru seperti taberu [食べる] serta kata sifat berakhiran i [い] seperti takai [高い]. Dalam penulisan modern, kata wago biasanya ditulis dengan kombinasi kanji dan okurigana hiragana.

Apabila sebuah kata gabungan dua kanji memadukan pembacaan ON (Tiongkok) dan KUN (Jepang), kata tersebut tidak tergolong wago murni, melainkan konshugo [混種語] atau kata hibrida. Contohnya adalah pola jūbako-yomi [重箱読み] (pembacaan on lalu kun) dan yutō-yomi [湯桶読み] (pembacaan kun lalu on seperti pada kata basho [場所]).
KANGO [漢語]: Kosakata Serapan Tiongkok
Pengaruh kebudayaan Tiongkok dalam bahasa Jepang sangat kuat melalui aksara kanji [漢字], yang secara harfiah bermakna aksara Han. Kango [漢語] merujuk pada kosakata Sino-Jepang, yaitu kata-kata serapan asal Tiongkok atau istilah yang dibentuk menggunakan kaidah pembentukan kata Tionghoa kuno.
Menariknya, tidak semua kango diambil langsung dari naskah klasik Tiongkok. Pada era Restorasi Meiji, para cendekiawan Jepang menciptakan banyak istilah majemuk kanji baru untuk menerjemahkan konsep ilmiah dan filsafat Barat, seperti shakai [社会, masyarakat], keizai [経済, ekonomi], dan kagaku [科学, ilmu pengetahuan]. Kata-kata bentukan Jepang ini disebut wasei-kango [和製漢語], dan sebagian besar istilah tersebut kemudian bahkan diserap balik ke dalam bahasa Mandarin modern.

Kata-kata kango umumnya diucapkan dengan pembacaan Tiongkok (on'yomi). Ciri khas kango terlihat pada kata kerja majemuk berpasangan dengan verba bantu suru [する] seperti benkyou suru [勉強する], kata sifat tipe na [な] seperti kirei [綺麗] dan shizuka [静か], serta istilah teknis formal yang tersusun dari gabungan karakter kanji tanpa hiragana di tengahnya.
Sistem penghitungan angka juga mencerminkan pembagian ini: angka kardinal standar diucapkan dengan pembacaan ON sebagai kango [ichi, ni, san], sedangkan pembacaan wago asli dipakai untuk penghitungan objek umum menggunakan akhiran tsu [hitotsu, futatsu, mittsu].
GAIRAIGO [外来語]: Kosakata Serapan Bahasa Asing
Gairaigo [外来語] secara harfiah berarti kata yang datang dari luar, merujuk pada kata serapan dari bahasa asing selain bahasa Tionghoa. Dalam sistem ejaan modern, gairaigo ditulis menggunakan aksara katakana untuk menandai bahwa istilah tersebut bukan kosakata asli Jepang maupun bentukan klasik Tiongkok.
Arus masuk gairaigo terjadi dalam beberapa gelombang sejarah. Gelombang awal bermula pada abad ke-16 melalui kontak dagang dengan bangsa Portugis yang menyumbang kata seperti pan [パン, roti] dan kasutera [カステラ, kue bolu]. Pada masa isolasi era Edo, bahasa Belanda menyumbang istilah seperti biiru [ビール, bir] dan koohii [コーヒー, kopi]. Sejak era pascaperang hingga sekarang, bahasa Inggris menjadi sumber terbesar serapan asing di bidang teknologi, mode, makanan, dan budaya populer.

Sama seperti bahasa Indonesia yang banyak menyerap istilah asing untuk teknologi dan gaya hidup seperti internet, komputer, atau televisi, bahasa Jepang menyerap dan menyesuaikan bunyi kata tersebut ke dalam fonologi lokal. Fenomena ini juga melahirkan wasei-eigo [和製英語], yaitu istilah bergaya bahasa Inggris yang dirangkai di Jepang seperti pasokon [パソコン, komputer pribadi] dan sarariiman [サラリーマン, pegawai kantoran].
Fleksibilitas gairaigo terlihat pada pembentukan kata kerja baru. Selain dipadukan dengan verba suru [する] seperti doraibu suru [ドライブする, berkendara], bahasa Jepang sering memendekkan kata serapan dan menambahkan akhiran verba ru, seperti kata guguru [ググる, mencari informasi di Google].
Ketiga lapisan kosakata ini tidak berdiri sendiri, melainkan saling melengkapi dalam komunikasi sehari-hari. Wago memberikan kehangatan dan nuansa alami dalam percakapan akrab, kango menghadirkan ketepatan formal untuk konteks akademis dan berita, sedangkan gairaigo menghubungkan bahasa Jepang dengan perkembangan global. Memahami ketiga asal-usul ini membantu pemelajar mengenali kapan harus menggunakan aksara hiragana, kanji, atau katakana secara tepat.






Komunitas
Komentar
0 komentar
Belum ada komentar yang diterbitkan dalam bahasa ini.
Kirim komentar