Sudah pernah mencoba ngobrol di media sosial dengan orang Jepang, lalu mentok karena tidak ada pertanyaan menarik yang teringat? Kadang level bahasanya sudah lanjut, tapi tanpa latihan bicara, kepala kosong: mau tanya apa?
Orang Jepang justru sering nyaman dengan topik yang, bagi kita, terasa terlalu biasa untuk orang baru. Di Brasil, sudah lumrah kenalan lalu langsung menanyakan hampir segala hal tentang hidup orang itu. Di Jepang, ritmenya lain.
Pelan-pelan. Tanya yang tenang. Siapa tahu malah ngomongin roti. Menjawab pertanyaan biasanya masih gampang; yang susah justru menyusun pertanyaannya, apalagi kalau tata bahasa Jepang belum nempel di jari.
Daftar isi 4
Sebelum melempar pertanyaan pertama
Lewati dulu selamat pagi, selamat siang, apa kabar, senang bertemu. Kalau frasa itu belum hafal, lebih masuk akal mulai dari sapaan dalam bahasa Jepang.
Dengan orang yang baru dikenal, bentuk desu / masu masih yang paling aman. Bentuk pendek seperti 何してるの cocok di LINE, dengan teman, atau setelah lawan bicara sudah santai. Mencampur keduanya dalam satu kalimat terdengar aneh. Rincian verba ada di artikel tentang bentuk kamus dan bentuk masu.
Pertanyaan untuk memulai topik dalam bahasa Jepang
Ini pertanyaan pengantar, cukup umum untuk orang yang baru kamu kenal atau yang ingin kamu ajak bicara lagi.
Apa yang kamu lakukan di waktu luang?
暇なときに何をするんですか?
Hima na toki ni nani o suru n desu ka?
Dalam bahasa Jepang itu 暇なとき, bukan 暇の時. Dan hima bisa terdengar agak kering di depan atasan — dengan teman sebaya, biasanya lolos.
Sedang apa?
何してるの? Nani shiteru no? (santai)
何をしているんですか。 Nani o shite iru n desu ka? (sopan)
Yang pertama pas di chat. Yang kedua, di depan orang yang baru dikenal. Keduanya menanyakan hal yang sama — tidak perlu dilontarkan berurutan.
Apa hobimu?
趣味は何ですか。
Shumi wa nan desu ka?
Pertanyaan ini ada di hampir semua buku teks, tapi banyak orang Jepang justru terdiam: mereka tidak punya “satu hobi” siap tempel di kartu nama. Pertanyaan lanjutan yang lebih natural:
最近ハマっていることはありますか。
Saikin hamatte iru koto wa arimasu ka?
“Ada yang lagi kamu geluti akhir-akhir ini?”
Kalau jawabannya nyasar ke anime, lanjutkan dengan kosakata untuk ngobrol tentang anime dalam bahasa Jepang.
Bagaimana cuacanya?
天気はどうですか。
Tenki wa dou desu ka?
Lebih sering lagi, komentar dengan ね: 今日は暑いですね。 Kyou wa atsui desu ne. Partikel ね mengundang reaksi. Tanpa itu, kalimatnya jatuh datar.
Kamu lapar?
お腹が空いていますか。
Onaka ga suite imasu ka?
Ini apa?
これは何ですか。
Kore wa nan desu ka?
Kamu tinggal di mana?
どこに住んでいますか。
Doko ni sunde imasu ka?
Tanya kotanya, bukan alamatnya. どちらの出身ですか (dochira no shusshin desu ka) lebih membuka daerah asal, dan sering lebih subur: makanan, dialek, kenangan.
Apa pekerjaanmu?
仕事は何ですか。
Shigoto wa nan desu ka?
Di depan orang asing, お仕事は何をされているんですか。 (O-shigoto wa nani o sarete iru n desu ka?) lebih lembut. Hindari あなたの仕事は何ですか, terasa terlalu menohok.
Suatu hari nanti, mau jalan-jalan?
いつか遊びに行きませんか。
Itsuka asobi ni ikimasen ka?
遊び di sini bukan “main seperti anak-anak”: artinya nongkrong, menghabiskan waktu bersama. Simpan untuk orang yang obrolannya sudah agak jalan.
Menjaga percakapan tanpa jadi formulir
Pertanyaan tertutup (ya / tidak) sering memutus benang. Setelah 趣味は何ですか, lanjutkan: どんな〜ですか, いつから, 最近どうですか. Kalau seseorang bilang baru ke Okinawa, tanya berapa lama, makan apa, bukan cuma “oh, begitu”.
Percakapan bahasa Jepang lebih mirip saling lempar bola daripada interogasi. Kamu boleh sedikit bicara tentang dirimu, lalu mengembalikan bola. そうですね, へえ, なるほど kecil-kecil menunjukkan kamu mendengar — tanpa itu, pertanyaan bagus pun terdengar seperti daftar ceklis.
どうしたんですか。 (Doushita n desu ka?) bukan pemecah kebekuan. Artinya “ada apa?” / “kenapa, ada yang tidak beres?”. Simpan untuk teman yang kelihatan risau, bukan untuk membuka chat.
Yang lebih baik tidak ditanya terlalu cepat
Umur dan tinggi badan di banyak tempat terdengar seperti rasa ingin tahu yang ringan. Di Jepang, 何歳ですか (Nan sai desu ka?) dan 身長はどのくらいですか (Shinchou wa dono kurai desu ka?) terlalu menempel ke tubuh orang itu sejak percakapan pertama, apalagi dengan perempuan yang baru dikenal. Sama halnya gaji, status pernikahan, atau “akhir pekan ini ada rencana?” yang terasa seperti penyelidikan.
Kalau umur memang harus ditanya, 失礼ですが mendahului pertanyaannya. Kalau ragu, lewati saja: hobi, makanan, cuaca, dan kota sudah cukup menahan percakapan pertama.
Ada ribuan pertanyaan yang bisa dilontarkan. Yang di sini cukup supaya kamu tidak bungkam di utas Instagram atau di meja makan. Untuk nada lebih pendek, yang bisa ditempel di status, ada juga frasa Jepang untuk WhatsApp dan media sosial.
Komunitas
Komentar
0 komentar
Belum ada komentar yang diterbitkan dalam bahasa ini.
Kirim komentar