Di meja Tahun Baru Jepang, dua keping mochi yang ditumpuk bisa menjadi hiasan sekaligus tanda dimulainya tahun yang baru. Di warung manisan, bahan yang sama berubah menjadi daifuku berisi anko; di dapur, ia masuk ke sup dan mi. Teksturnya yang kenyal memang mudah dikenali, tetapi cerita mochi jauh lebih luas daripada satu jenis camilan.
Mochi [餅] hadir dalam masakan, wagashi, dan kebiasaan musiman Jepang. Ada yang manis, ada yang gurih, ada pula yang dinamai mochi karena teksturnya walau bahan dasarnya berbeda. Memahami perbedaan ini membuat setiap gigitan terasa lebih masuk akal.
Daftar isi 10
Apa itu mochi?
Mochi adalah kue beras Jepang yang dibuat dari mochigome, jenis beras ketan Jepang. Beras dikukus lalu ditumbuk hingga menjadi adonan halus, lembut, dan sangat lengket. Saat masih hangat, adonan dapat dibentuk bulat atau pipih; setelah dingin, mochi juga bisa menjadi padat dan dipotong untuk dimasak kembali.
Karena sifatnya netral, mochi tidak terbatas pada makanan penutup. Ia bisa dipanggang dan dimakan dengan shoyu, dibalut nori, diberi kinako, atau dimasukkan ke dalam sup. Dalam dunia wagashi Jepang, mochi juga menjadi kulit lembut untuk pasta kacang merah, stroberi, dan isian musiman lain.

Mochitsuki: cara tradisional membuat mochi
Mochitsuki bukan nama satu festival terpisah, melainkan proses menumbuk beras untuk membuat mochi. Beras mochigome yang telah dikukus dimasukkan ke dalam usu, lesung besar dari kayu atau batu. Seseorang menumbuknya dengan palu kayu besar bernama kine, sementara orang lain membalik dan membasahi adonan dengan gerakan yang teratur.
Kerja sama itu menjelaskan mengapa mochitsuki sering dilakukan bersama, terutama menjelang Tahun Baru. Bunyi palu, uap dari beras, dan ritme dua orang yang bekerja bergantian menjadikannya kebiasaan yang terasa lebih dekat dengan ritual keluarga daripada sekadar teknik memasak.

Di banyak rumah masa kini, mochi tidak selalu dibuat dengan lesung. Produk siap pakai dan mesin pembuat mochi membuatnya lebih mudah dinikmati. Namun, cara lama tetap penting karena memperlihatkan asal tekstur khas mochi: beras tidak sekadar digiling, melainkan ditumbuk sampai menyatu menjadi adonan elastis.
Mochi dan Tahun Baru Jepang
Mochi punya tempat khusus pada pergantian tahun. Salah satu bentuk paling dikenal adalah kagami mochi, susunan dua mochi bundar yang biasanya diberi jeruk daidai di atasnya. Bentuknya mengingatkan pada cermin kuno; setelah masa Tahun Baru, mochi itu dipecah dalam kebiasaan kagami biraki dan digunakan dalam masakan.
Mochi juga lazim hadir dalam zōni, sup Tahun Baru yang resepnya berubah menurut daerah. Ada wilayah yang memakai mochi kotak dalam kuah berbasis shoyu, sementara daerah lain mengenal mochi bulat dan kuah miso. Perbedaannya kecil di atas mangkuk, tetapi menunjukkan betapa luasnya ragam kuliner Jepang.
Saat ingin mencoba mochi panggang di rumah, paduan sederhana dengan shoyu Jepang, sedikit gula, atau nori sudah cukup untuk memperlihatkan sisi gurihnya. Tidak semua mochi harus berakhir sebagai makanan penutup.
Jenis mochi manis yang populer
Nama mochi sering dipakai untuk banyak penganan yang berbeda. Berikut beberapa jenis yang membantu membedakan isi, bahan, dan kesempatan menikmatinya.
Daifuku dan ichigo daifuku
Daifuku [大福] adalah mochi lembut yang biasanya diisi anko, pasta kacang azuki. Variasinya luas: ada pasta kacang putih, krim, hingga buah. Ichigo daifuku memakai stroberi utuh sebagai pusat isian, umumnya bersama anko. Kontras buah segar, pasta kacang, dan kulit mochi membuatnya menjadi salah satu wagashi yang paling mudah dikenali.

Kusa mochi dan kinako mochi
Kusa mochi berwarna hijau karena diberi yomogi, sejenis mugwort Jepang. Aromanya herbal dan berbeda dari mochi putih biasa. Sementara itu, kinako mochi disajikan dengan kinako, bubuk kedelai sangrai yang sering dicampur gula. Keduanya menunjukkan bahwa rasa mochi tidak harus datang dari isian.

Mochi es krim dan warabi mochi
Mochi es krim memadukan kulit mochi dengan isian es krim. Kulitnya biasanya dibuat dari tepung seperti mochiko agar tetap lentur saat dingin. Warabi mochi, sebaliknya, lebih mirip jeli lembut dan secara tradisional dibuat dari pati warabi, bukan beras. Meski begitu, ia lazim dikelompokkan bersama mochi dan sering disajikan dengan kinako atau kuromitsu.

Mochi dalam hidangan gurih dan manis
Untuk masakan sehari-hari, kirimochi atau kakumochi adalah potongan mochi keras yang praktis dipanggang, direbus, atau dimasukkan ke dalam kuah. Begitu panas, bagian luarnya bisa mengembang dan bagian tengahnya kembali lunak. Bentuk ini sering dipakai untuk zōni, semur, dan hidangan berkuah.

Oshiruko dan zenzai adalah hidangan kacang azuki manis yang dapat disajikan dengan mochi. Di sisi gurih, chikara udon adalah udon hangat dengan mochi panggang sebagai pelengkap. Tekstur kenyal mochi memberi nama chikara, yang berarti kekuatan, pada hidangan ini.


Dango sering muncul dalam pembicaraan yang sama karena sama-sama memakai bahan beras dan punya tekstur kenyal. Namun, dango adalah penganan tersendiri, bukan mochi dalam arti yang ketat. Jika ingin membandingkan keduanya, lihat ragam dango Jepang dan cara penyajiannya.
Mochi musiman dan bentuk khusus
Beberapa mochi terikat erat dengan kalender Jepang. Hishimochi berbentuk wajik dengan lapisan merah muda, putih, dan hijau; penganan ini hadir saat Hinamatsuri. Sakuramochi berkaitan dengan musim bunga sakura dan biasanya memakai isian anko serta daun sakura asin. Di Kanto dan Kansai, bentuk serta bahan pembungkusnya tidak sama.


Hanabira mochi, atau mochi kelopak bunga, memiliki tampilan setengah lingkaran dengan warna merah muda yang tampak dari balik lapisan putih. Penganan ini berkaitan dengan awal tahun dan upacara minum teh pertama. Sementara kagami mochi lebih dikenal sebagai dekorasi, hanabira mochi mengingatkan bahwa wagashi sering menyatukan rasa, bentuk, dan musim dalam satu gigitan.
Cara menikmati mochi dengan aman
Tekstur mochi yang sangat lengket adalah bagian dari daya tariknya, tetapi juga perlu perhatian. Potong mochi menjadi bagian kecil yang mudah dimakan, kunyah perlahan sampai benar-benar hancur, dan jangan terburu-buru menelannya. Orang yang memiliki kesulitan mengunyah atau menelan memerlukan pengawasan lebih saat menikmati mochi.
Dengan cara itu, mochi bisa dinikmati sesuai karakternya: pelan-pelan, hangat, dan tanpa mengabaikan teksturnya. Dari kue sederhana berbahan beras, mochi membuka jalan ke wagashi, tradisi Tahun Baru, serta banyak hidangan Jepang yang berbeda.
Komunitas
Komentar
0 komentar
Belum ada komentar yang diterbitkan dalam bahasa ini.
Kirim komentar