Fakta atau palsu? Kebohongan tentang Jepang yang masih beredar

Fakta atau palsu? Kebohongan tentang Jepang yang masih beredar

Mana yang fakta, mana yang berlebihan — tanpa memuji Jepang secara membabi buta

Fakta atau hoax? Pertanyaan itu muncul setiap minggu di media sosial, tetapi kebohongan tentang Jepang jauh lebih tua daripada algoritma. Banyak yang sudah ditanamkan puluhan tahun sebelum ada yang mengecek sumbernya.

Orang suka menggeneralisasi negara lain supaya merasa lebih nyaman dengan negaranya sendiri. Beberapa rumor di bawah ini tidak sepenuhnya dusta — yang bermasalah adalah cara rumor itu menjadi cap untuk 123 juta orang. Saya tidak datang untuk memuji Jepang sebagai surga, hanya untuk mematahkan generalisasi yang sudah bosan terdengar.

Kereta Jepang di stasiun yang ramai
Daftar isi 21

Kebohongan dan fakta tentang makanan di Jepang

Banyak disinformasi tentang makanan di Jepang yang muncul di Barat. Beberapa mengklaim bahwa makanan sangat mahal, atau menciptakan gagasan gila bahwa orang Jepang hanya makan ikan mentah. Bahkan ada yang percaya bahwa orang Jepang makan anjing. Betapa banyaknya disinformasi.

Saya benar-benar marah dengan generalisasi dan kurangnya pengetahuan ini. Masakan Jepang termasuk yang paling beragam di dunia: selain memiliki variasi rasa yang hampir tak habis, ia juga termasuk yang paling sehat.

Restoran seperti McDonald? Di sana itu lebih dekat dengan makanan murah sehari-hari daripada “gaya hidup kaya”. Kalau Anda orang asing yang tinggal di Jepang dan makan tanpa aturan, justru mudah gemuk. Pertanyaan yang jarang dijawab adalah: bagaimana orang Jepang tidak gemuk?

Apakah benar makanan di Jepang mahal?

Media suka menampilkan buah seharga puluhan dolar dan menyimpulkan bahwa orang Jepang hanya makan ikan. Yang jarang disebutkan: buah semahal itu biasanya kualitas pajangan, hadiah, atau budidaya khusus — bukan belanja mingguan di supermarket biasa.

Makanan industri atau impor di Jepang — cokelat, camilan, permen, minuman, biskuit — sering kali sebanding, kadang lebih murah, daripada di banyak negara. Daging merah pun bisa ditemukan dengan harga masuk akal kalau tahu toko dan waktunya.

Orang Jepang mengonsumsi banyak makanan segar, sayuran, dan ikan. Buah dan sayuran memang bisa lebih mahal daripada di negara tropis yang memproduksinya sendiri. Yang sering dilupakan adalah upah per jam: membandingkan harga rak tanpa membandingkan gaji adalah cara paling cepat untuk berbohong dengan angka.

Untuk melihat gaji dan biaya hidup tanpa drama, ada dua titik awal: berapa gaji minimum di Jepang dan apakah biaya hidup di Jepang benar-benar mahal.

Sayuran di etalase toko Jepang
Sayuran di etalase Jepang — mahal kalau dibanding tropis, tidak otomatis “tak terjangkau”.

Apakah benar orang Jepang hanya makan sushi atau ikan mentah?

Banyak orang mengatakan ini. Saya pernah mendengar seorang teman menolak pergi ke Jepang karena “di sana hanya makan ikan mentah”. Saya marah, dan memutuskan menulis artikel ini.

Ya, Jepang dikelilingi lautan dan pulau. Rakyatnya memang makan banyak ikan dan makanan laut. Ikan mudah dijangkau, kaya protein, mineral, asam amino, vitamin, dengan lemak dan kolesterol yang relatif rendah.

Tapi tidak: orang Jepang tidak hanya makan ikan. Konsumsi ikan per orang per tahun di banyak negara Barat sekitar 10 sampai 20 kg; di Jepang angkanya lebih tinggi, tetapi daging merah dan ayam juga masuk piring setiap minggu. Biasanya ada panggangan di yakiniku.

Di restoran mana pun Anda akan menemukan resep dengan daging, hamburger, ayam, dan babi. Sushi hanya satu dari ribuan hidangan. Itu tidak dimakan setiap hari — lebih dekat dengan hamburger atau pizza: spesial, bukan nasi harian. Yang paling banyak di Jepang justru pilihannya, termasuk yakitori.

Masakan Jepang menawarkan panggangan, mie, sup, kari, donburi, dan restoran dari seluruh dunia. Hampir mustahil “hanya makan sushi” kecuali Anda memaksa diri. Selama dua perjalanan saya ke Jepang, masing-masing sekitar tiga bulan, saya ingat makan sushi hanya dua kali per perjalanan. Yang membuat masakan itu terasa kaya, bagi saya, adalah cara mereka menjaga rasa umami — rasa kelima yang sering dibahas dalam bahasa Jepang.

Panggangan yakiniku dengan daging di atas bara
Yakiniku — panggangan daging Jepang, jauh dari “hanya sushi”.

Apakah orang Jepang makan serangga dan anjing?

Orang punya kebiasaan buruk mencampuradukkan budaya Tiongkok, Korea, dan Jepang. Mungkin ada restoran yang menjual serangga atau daging anjing di Jepang, tetapi jangan pernah mengira itu makanan sehari-hari orang Jepang.

Ada makanan aneh di Jepang, tetapi langka, dan sebagian besar orang tidak pernah mencobanya. Itu mirip dengan kelinci atau katak di negara lain: ada, bukan menu rumah. Makanan paling aneh yang pernah saya lihat di sana, menurut saya, adalah sushi kuda.

Kebohongan dan fakta tentang orang Jepang

Orang Jepang semua kurus dan pendek. Jepang juga punya masalah dengan obesitas dan dengan standar tubuh kurus, tetapi standar itu pelan-pelan retak.

Apakah orang Jepang semua baik? Tidak semua mengikuti aturan, suka belajar, atau ingin bekerja. Jepang menderita perundungan, hikikomori yang tidak keluar rumah, orang jahat, dan pengecut — sama seperti tempat lain.

Apakah setiap orang Jepang kecanduan manga dan anime? Ini salah satu kebohongan yang paling sering digeneralisasi. Ada orang dewasa yang suka anime dan pemuda yang tidak peduli, persis seperti tidak semua orang di negara Anda suka karnaval atau musik yang sama.

Apakah semua orang Jepang pemalu? Mereka membedakan waktu untuk tertawa dan waktu untuk serius. Kesan pertama bisa kaku, lalu mereka rileks. Beberapa justru tidak punya rasa malu sama sekali.

Wanita Jepang memakai yukata

Apakah benar orang Jepang hanya bekerja?

Orang berpikir semua yang tinggal di Jepang bekerja 13 jam sehari. Ada kasus seperti itu, terutama pada orang asing yang datang untuk pabrik atau konstruksi. Jam kerja formal jauh lebih dekat dengan sembilan jam; yang membuat cerita “kerja tanpa henti” hidup adalah lembur dan budaya tidak pulang lebih dulu dari atasan.

Itu tidak berarti semua orang Jepang “suka menderita”. Ada yang paruh waktu, ada yang malas, ada yang tidak bekerja. Upah dihitung per jam, dan lembur biasanya dibayar lebih. Anda tidak wajib 12 jam sehari — kecuali atasan atau jenis pekerjaan menekan Anda ke sana. Detailnya ada di apakah benar orang Jepang bekerja terlalu banyak.

Pekerja kantor Jepang di lingkungan kerja

Apakah Jepang negara dengan bunuh diri terbanyak di dunia?

Setiap tahun puluhan ribu orang di Jepang mengakhiri hidupnya. Itu sedih, dan tidak boleh dijadikan lelucon. Tetapi menyimpulkan “karena Jepang negara buruk” adalah lompatan yang malas. Ada tekanan sekolah, ujian masuk, kehilangan kerja, perundungan, utang, penyakit — campuran yang juga ada di negara lain, dengan wajah budaya yang berbeda.

Angka terbaru pemerintah untuk 2025 mencatat 19.097 kematian, atau 15,4 per 100.000 penduduk — turun di bawah 20.000 untuk pertama kalinya dalam data terbaru itu. Jepang pernah punya tingkat yang jauh lebih tinggi sekitar tiga dekade lalu; puncaknya di awal 2000-an, lalu turun bertahun-tahun. Itu bukan “negara bunuh diri nomor satu di dunia”, dan juga bukan bukti bahwa masalahnya sudah selesai: bunuh diri pelajar justru mencatat rekor yang menyakitkan di tahun yang sama.

Alasan yang sering muncul di percakapan lokal termasuk perundungan, gagal ujian masuk universitas, kehilangan orang yang dicintai, kehilangan pekerjaan, putus cinta. Ada banyak masalah budaya terkait bunuh diri di Jepang — dan ada juga upaya negara yang membuat angka total turun. Saya sudah menulis lebih panjang di bagaimana Jepang mengurangi setengah angka bunuh diri.

Siswa Jepang dalam kegiatan klub sekolah

Apakah benar orang Jepang tidak punya kebebasan berekspresi?

Orang Jepang punya kebebasan berpakaian dan bertindak yang sering mengejutkan wisatawan. Anime dan acara TV, meski terasa “lebih bersih” di permukaan, berisi hal-hal yang membuat banyak orang luar mengangkat alis.

Karena itu mereka dicap aneh, gila, atau dipertanyakan seksualitasnya. Di Jepang, selera pria dan wanita tidak dihakimi dengan volume yang sama seperti di banyak negara lain. Menghakimi orang karena selera, warna rambut, atau isyarat adalah hal yang di sana terasa keterlaluan.

Saya sering mendengar kritik kasar terhadap gaya hidup Asia dari orang yang sendiri berbicara dengan slang seksual di tempat umum. Kalau yang mengganggu adalah kebebasan orang lain, mungkin yang perlu dicek bukan Jepang.

Pelayan kafe maid di Jepang dengan kostum khas

Apakah benar orang Jepang mesum?

Banyak yang menyebut Jepang negara paling cabul di dunia karena film, anime, toko, produk, lolicon, dan keanehan lain. Setiap tempat punya orang cabul. Menjadikan satu bangsa sebagai juara dunia nafsu adalah kebodohan lain. Kalau Anda belum tahu bedanya istilah yang sering dicampuradukkan, mulai dari apa arti lolita, loli, atau lolicon.

Ya, di Jepang ada keanehan seksual, hal menjijikkan, dan kolektor yang membuat dahi berkerut. Tetapi Anda bisa berjalan di jalan tanpa mendengar slang seksual dari pengeras suara. Ketidakmoralan ada — Anda harus mencarinya. Eksposurnya lebih kecil di ruang publik, dan bisa terasa lebih besar kalau Anda hanya melihat sudut yang dipilih kamera.

Potret wanita Jepang di luar ruangan

Apakah benar orang Jepang tidak suka seks?

Laporan TV suka bilang pasangan hanya berhubungan sekali seminggu, atau tidur di ranjang terpisah. Itu memang terjadi pada sebagian orang. Lalu orang yang sama, di kalimat berikutnya, masih menyebut Jepang negara cabul. Dua cap itu tidak bisa menang bersamaan tanpa konteks.

Kalau Anda takut berkencan atau menikah dengan orang Jepang, buang gagasan umum itu. Jarak di ranjang lebih sering datang dari lembur, rumah sempit, ritme pasangan, dan kelelahan — bukan karena “orang Jepang tidak mau”. Faktornya banyak, dan saya bahas lebih dalam di apakah orang Jepang kehilangan minat pada seks.

Pasangan berciuman di Jepang

Apakah benar orang Jepang rasis atau berprasangka?

Ada yang berpikir setiap orang asing yang ke Jepang pasti dihina. Saya pribadi lebih sering kena prasangka di negara sendiri, karena suka budaya Timur, daripada di sana. Di Jepang, kebebasan menyukai apa yang Anda sukai terasa lebih besar — asal Anda tidak mengganggu orang lain.

Meskipun orang Jepang tampak kaku, banyak yang berusaha keras menyenangkan dan membantu, terutama kalau Anda belajar bahasa dan adat. Kadang sikap yang terasa dingin hanya malu tidak bisa membantu dengan cara yang benar. Perbedaan budaya membuat orang terburu-buru menempel label.

Pria kulit hitam tersenyum di Jepang

Di mana pun akan ada kasus prasangka. Menyalahkan seluruh populasi adalah kebodohan. Penghinaan dan ijime menimpa orang Jepang maupun orang asing. Kalau Anda kurang beruntung bertemu orang jahat, Anda akan melihat sisi itu — bukan “cara Asia” sebagai takdir. Saya tulis soal ijime di sekolah Jepang dan juga sisi gelap Jepang: negara ini bukan seribu keajaiban.

Kebohongan untuk turis dan pelancong

Seluruh Jepang hanya Tokyo. Tidak semuanya seperti yang kita bayangkan, tetapi itu bukan alasan untuk kecewa. Jepang jauh lebih dari Tokyo: 47 prefektur, ribuan kota, gabungan sekitar enam ribu pulau, dengan adat yang berubah begitu kereta meninggalkan Yamanote.

Siapa pun yang pergi ke Jepang pulang kaya. Yang terjadi justru kerja keras untuk menutup biaya hidup dan menyisihkan sisa. Gaji bisa jauh lebih tinggi daripada di banyak negara asal, tetapi sebagian besar dipakai untuk bertahan, bukan untuk pamer di media sosial.

Saya tidak akan ke Jepang karena gempa bumi dan tsunami

Jepang dikritik sebagai negara berbahaya. Orang berpikir gempa membunuh setiap hari, dan tsunami akan menutupi seluruh pulau. Gempa memang sering, tetapi sebagian besar tidak merusak atau bahkan tidak terasa. Bencana 2011 menewaskan sekitar 20 ribu orang — angka yang mengerikan, dan justru karena itu Jepang membangun aturan, latihan, dan bangunan yang orang luar sering anggap berlebihan.

Tidak ada yang tahu hari esok. Tetap saja, untuk banyak orang, tinggal di kota tanpa persiapan bencana terasa lebih berbahaya daripada hidup di negara yang menganggap gempa sebagai bagian kalender. Ada pepatah lama di kepala saya: lebih mudah mati karena lubang di jalan daripada karena tsunami, kalau Anda memilih tempat tinggal dengan kepala dingin.

Pemandangan gedung-gedung Tokyo

Apakah orang Jepang tidak suka orang asing?

Saya masih bertanya-tanya dari mana gagasan ini lahir. Tidak ada manusia yang sama. Benar bahwa orang Jepang pendiam, pemalu, dan sebagian kesulitan bersosialisasi. Ya, ada yang — terutama lansia — tidak menyukai gaya Barat.

Tetapi jika Anda tahu cara bersosialisasi dan membuat teman Jepang, Anda akan melihat apa artinya persahabatan di sana. Tindakan mereka berbeda. Mengatakan “orang Jepang tidak suka orang asing” sebagai hukum alam adalah kebodohan.

Kalau Anda ingin teman atau bahkan pacar, jangan dengarkan rumor itu. Saya sendiri berteman dengan orang Jepang yang baru kenal di tengah Tokyo, bahkan tanpa bahasa yang lancar.

Pertunjukan tradisional Jepang di atas panggung

Takut dipenjara tanpa bersalah di Jepang

Setelah beberapa berita beredar, ada yang batal ke Jepang karena takut dihukum tanpa bersalah. Narasinya: begitu masuk sel, Anda bersalah sampai terbukti sebaliknya, dan hampir mustahil keluar.

Tidak sesederhana itu. Polisi Jepang memang bekerja dengan tingkat penuntutan yang tinggi, dan itu patut dikritik. Tetapi mereka juga tidak menahan orang secara acak di bandara karena wajah Anda. Saya sudah menulis soal ini di Keimusho — bagaimana penjara di Jepang.

Kebohongan dan fakta tentang Jepang

Jepang dikelilingi teknologi di semua sisi? Kalau Anda datang untuk melihat robot di setiap tikungan, maaf: robot ada di pameran, laboratorium, dan kesempatan khusus. Ada banyak kota alami dan tradisional yang justru memikat, lingkungan berusia ratusan tahun, hal-hal sederhana yang indah.

Tidak ada kemiskinan di Jepang. Ada. Jumlahnya lebih kecil dibanding banyak negara, tetapi sejumlah besar orang hidup di batas gaji, hanya dengan kenyamanan publik yang lebih teratur.

Di TV Jepang hanya ada program tanpa akal? Saya pribadi lebih suka program Jepang, karena tidak perlu menampilkan dada untuk punya kualitas. Media luar sering hanya memotong adegan yang terasa vulgar. Sisanya penuh cerita, reality, film, drama, dan animasi.

Rumah atap ilalang di desa Shirakawa-go

Negara tanpa ruang, hanya gedung, rumah kecil, dan tanpa hijau

Orang punya gambaran Jepang sebagai tumpukan beton tanpa ladang. Ada yang bahkan berpikir negara ini tidak punya pertanian.

Jepang jauh lebih kecil daripada banyak negara, tetapi kota kecilnya terasa lebih pedesaan daripada yang dibayangkan dari foto Shibuya. Anda tidak akan menemukan favela dengan pola yang sama, dan itu bukan berarti tidak ada sudut miskin.

Tokyo, dengan aglomerasi yang menyaingi kota raksasa lain, jauh lebih teratur di trotoar dan di kereta. Sebagian besar orang tinggal di apartemen. Rumah bisa lebih kecil dan mahal, tetapi hampir setiap rumah tangga punya ofuro (bak mandi), toilet terpisah dari area mandi, dan peralatan untuk iklim. Apakah mereka merasa tanpa ruang? Sering kali itu soal kebiasaan mata, bukan sentimeter.

Deretan rumah tinggal di Jepang

Apakah Jepang menghadapi kepadatan penduduk?

Gambar antrean dan kereta yang didorong petugas hanya milik pusat besar pada jam tertentu. Ada ribuan jalan di mana Anda akan merasa kesepian.

Sensus 2025 menempatkan penduduk Jepang di sekitar 123 juta — turun beberapa juta dalam lima tahun, bukan 127 juta yang masih beredar di artikel lama. Negara ini seukuran satu provinsi besar, dengan 47 prefektur, dan banyak kota mengecil karena kekurangan orang.

Jepang menghadapi kebalikan dari “meledak penduduk”. Kelahiran rendah, pemuda pindah ke Tokyo, rumah kosong di daerah. Tokyo raya menampung puluhan juta orang dan tetap terasa lebih tertib di lalu lintas dan trotoar daripada banyak kota dengan jumlah serupa. Osaka, Nagoya, dan Sapporo menonjol di belakangnya.

Rumah Jepang tampak kecil di mata orang yang terbiasa menempati ruang lebar. Ukurannya sering pas untuk cara hidup di sana. Sebelum mengeluh soal ruang, bandingkan juga sudut yang memang sempit dan miskin — mulai dari Kamagasaki, kawasan padat paling terkenal di Jepang.

Kereta Jepang melintas di rel kota

Apakah Jepang tertutup dan tidak suka Barat?

Yang lebih tua memang sangat tradisional, sebagian berprasangka. Orang lalu menggeneralisasi seolah seluruh negara rasis — seolah negara sendiri terbuka tanpa noda. (Tertawa kecil di sini.)

Pemuda sangat terbaratkan. Banyak yang jatuh cinta pada bahasa Inggris, Amerika, dan Eropa. Kalau Anda mengenal Jepang, Anda tahu itu campuran: kuil di pagi hari, toko donat di siang hari, karaoke di malam hari.

Siapa yang berani bilang Jepang tidak terbuka pada tren baru? Menurut saya, justru salah satu yang paling rakus menelan budaya luar — lalu mengubahnya sampai terasa Jepang.

Bahasa Jepang dan Tionghoa itu sama semua

Hal lain yang orang campur aduk: bahasa. Ada yang masih melempar lelucon “pastel flango” ke orang Jepang, padahal itu lelucon tentang logat Tionghoa. Orang Jepang bahkan kesulitan mengucapkan L; mereka akan bilang “pasuteru de furango”.

Meskipun bahasa Jepang meminjam sebagian ideogram Tionghoa, ia punya suku kata: hiragana dan katakana. Tionghoa, dalam tulisan, berdiri di atas karakter. Itu dua sistem, dua bunyi, dua cara berpikir. Kalau masih tertukar wajah dan bahasa, baca perbedaan antara orang Jepang, Tiongkok, dan Korea.

Tulisan Tionghoa di papan di samping aksara Jepang

Kesimpulan

Mungkin masih ada generalisasi lain tentang Jepang yang belum sempat masuk di sini. Itu yang teringat sekarang; kalau menumpuk lagi, nanti ada bagian kedua.

Jangan baca ini sebagai skor negara. Tujuannya menjawab cap, komentar, dan pendapat orang yang belum tinggal di Jepang — dan tetap menganggap satu foto di kereta sebagai seluruh kepulauan.

Media membentuk kepala orang. Kita harus berhati-hati sebelum berkomentar tanpa gambaran nyata, atau sebelum mengulang kalimat yang terdengar pintar hanya karena sudah diulang sepuluh tahun.

Sumber dan tautan berguna

Tentang penulis

Kevin Henrique

Spesialis dengan pengalaman lebih dari 10 tahun dalam budaya Asia, berfokus pada Jepang, Korea, anime, dan game. Otodidak, penulis, dan pelancong yang fokus mengajarkan bahasa Jepang, tips wisata, dan fakta menarik yang mendalam.

Komunitas

Komentar

0 komentar

Belum ada komentar yang diterbitkan dalam bahasa ini.

Kirim komentar

Komentari artikel ini

Memuat pemeriksaan keamanan...

Jangan kirim tautan, embed, atau promosi. Komentar melewati anti-spam dan terjemahan otomatis sebelum tampil.