Unagi adalah sebutan Jepang untuk sidat air tawar, terutama nihon unagi. Dalam dunia kuliner Jepang, bahan ini paling sering hadir sebagai fillet panggang dengan saus manis gurih. Karena bentuknya mirip, banyak orang langsung menyamakan unagi dengan anago, padahal anago adalah belut laut yang rasanya lebih ringan dan teksturnya tidak selemak unagi.
Yang membuat unagi begitu disukai bukan hanya rasanya, tetapi juga cara memasaknya. Saat dipanggang, lemaknya meleleh ke daging dan memberi tekstur lembut dengan aroma asap yang khas. Tidak heran jika unagi sering masuk daftar makanan mewah di Jepang, baik di restoran spesialis maupun sebagai menu musiman ketika cuaca mulai panas.

Daftar isi 3
Cara populer menikmati unagi
Bentuk paling terkenal adalah kabayaki, yaitu unagi yang dibelah, ditusuk, lalu dipanggang sambil dilapisi tare berbahan dasar kecap asin, mirin, dan gula. Hasilnya manis, gurih, dan sedikit berasap. Jika disajikan di atas nasi dalam mangkuk, hidangan ini disebut unadon. Jika wadahnya berupa kotak lak yang lebih formal, namanya berubah menjadi unaju.
Bagi yang ingin rasa sidatnya lebih terasa, ada shirayaki. Versi ini dipanggang tanpa saus tebal, sehingga rasa asli daging dan aromanya lebih menonjol. Di beberapa tempat, unagi juga muncul sebagai umaki, telur gulung berisi potongan sidat, atau kimosui, sup bening yang memakai hati unagi sebagai pelengkap.
Perbedaan kecil seperti ini penting karena banyak orang mengenal unagi hanya dari sushi atau nasi belut. Padahal, cara penyajiannya cukup luas dan tiap bentuk memberi pengalaman rasa yang berbeda: kabayaki cenderung kaya, shirayaki lebih bersih, sedangkan umaki terasa lebih lembut dan rumahan.

Mengapa unagi identik dengan musim panas di Jepang?
Di Jepang, unagi punya hubungan kuat dengan doyo no ushi no hi, hari khusus pada masa doyo yang identik dengan tradisi makan unagi. Tanggalnya berubah setiap tahun, jadi bukan hari Sabtu tetap seperti yang kadang ditulis di internet. Kebiasaan ini sudah dikenal sejak zaman Edo dan membuat unagi lekat dengan gagasan penambah stamina saat musim panas terasa berat.
Menariknya, sumber kuliner Jepang dari Kementerian Pertanian Jepang juga mencatat bahwa unagi liar justru sering dianggap paling berlemak menjelang musim gugur. Jadi, citra unagi sebagai makanan musim panas lebih dekat dengan tradisi makan dan budaya kota, bukan semata-mata soal musim terbaik secara alami.

Hal yang perlu diketahui sebelum mencoba unagi
Unagi hampir selalu disajikan matang. Dalam masakan Jepang, sidat ini dipanggang atau dibakar terlebih dahulu, lalu disajikan sendiri, di atas nasi, atau sebagai pelengkap sushi. Rasanya lebih kaya dan lebih berlemak daripada anago, jadi biasanya cocok untuk orang yang menyukai ikan berdaging lembut dengan lapisan saus yang kuat.
Harga unagi juga cenderung lebih tinggi daripada banyak menu laut lain. Proses penyiapan, pasokan bahan, dan statusnya sebagai hidangan spesialis ikut membuatnya terasa istimewa. Kalau baru pertama kali mencoba, pilihan paling aman biasanya unadon atau unaju. Jika ingin rasa yang lebih ringan, cari shirayaki atau tambahkan sedikit sansho agar rasa manis saus tidak terlalu dominan.
Kalau Anda tertarik menjelajahi masakan Jepang yang lain, unagi juga cocok dijadikan pintu masuk untuk memahami bagaimana satu bahan bisa melahirkan banyak gaya penyajian. Dari semangkuk unadon yang sederhana sampai versi restoran lama di Tokyo atau Nagoya, daya tarik unagi selalu ada pada kombinasi lemak, asap, saus, dan nasi hangat.
Jika Anda sudah pernah mencoba unagi, bagian mana yang paling Anda suka: saus kabayaki yang karamel, tekstur lembut dagingnya, atau sensasi pedas harum sansho di atas nasi?
Kami juga merekomendasikan membaca:
Komunitas
Komentar
0 komentar
Belum ada komentar yang diterbitkan dalam bahasa ini.
Kirim komentar