Monjayaki adalah salah satu hidangan Tokyo yang terlihat sedikit berantakan pada pandangan pertama, tetapi justru itulah daya tariknya. Adonannya jauh lebih encer daripada okonomiyaki, isiannya dicincang kecil, lalu semuanya dimasak langsung di atas teppan sampai bagian pinggirnya renyah dan bagian tengahnya tetap lembut.
Kalau Anda datang ke sini karena judul Tonari no Kaibutsu-kun, resep ini tetap berdiri sebagai monjayaki rumahan yang masuk akal untuk dibuat di rumah. Fokus utamanya bukan sekadar suasana anime, melainkan rasa gurih dari dashi, kol, saus, dan cara makan yang memang khas Tokyo.

Daftar isi 8
Apa itu monjayaki?
Monjayaki, atau sering disingkat monja, adalah hidangan teppan khas Tokyo yang dibuat dari adonan tepung tipis, kol, saus, dan bahan tambahan seperti udang, cumi, mochi, keju, atau mentaiko. Berbeda dari okonomiyaki yang berbentuk seperti panekuk padat, monjayaki sengaja dibiarkan lebih cair agar bisa diratakan tipis di atas panggangan.
Akar monjayaki biasanya dikaitkan dengan mojiyaki, camilan lama yang dijual di toko jajanan anak dan dimasak di atas pelat besi. Dalam perkembangannya, kawasan Tsukishima di Tokyo menjadi tempat yang paling erat dikaitkan dengan monjayaki, sampai sekarang pun orang masih datang ke sana untuk menikmatinya langsung di atas teppan.
Bahan monjayaki untuk 2 porsi
Versi rumahan ini menjaga karakter monjayaki tetap ringan dan gurih, bukan berubah menjadi okonomiyaki yang terlalu tebal.
- 200 g kol, iris tipis lalu cincang kasar;
- 200 ml dashi, atau air yang dicampur dashi bubuk;
- 20 sampai 25 g tepung terigu, sekitar 2 sendok makan;
- 1 sampai 2 sendok makan saus Worcestershire Jepang atau saus okonomiyaki;
- 60 g udang kecil atau cumi, potong kecil-kecil;
- 2 sendok makan tenkasu atau remah tempura;
- 1 batang daun bawang, iris halus;
- 1 sendok makan beni shoga, opsional;
- 1 sendok teh minyak netral untuk teppan atau wajan;
- aonori, saus tambahan, dan sedikit mayones untuk penyajian, opsional.
Kalau ingin versi yang lebih kaya rasa, tambahkan mochi, keju, atau mentaiko. Kombinasi seperti itu sangat umum di kedai monja modern dan tetap terasa cocok dengan tekstur aslinya.
Cara membuat monjayaki
- Buat adonan. Campur tepung dengan dashi sampai halus, lalu tambahkan saus. Hasil akhirnya harus tipis, lebih mirip sup kental daripada adonan panekuk.
- Siapkan isian. Satukan kol, udang atau cumi, tenkasu, daun bawang, dan beni shoga dalam satu mangkuk. Semua bahan sebaiknya dipotong kecil agar cepat matang dan mudah diratakan.
- Masak bahan padat lebih dulu. Panaskan teppan atau wajan datar lebar, oles tipis dengan minyak, lalu tumis isian selama 1 sampai 2 menit sambil dicincang ringan dengan spatula.
- Bentuk lingkaran. Kumpulkan isian membentuk cincin dengan lubang di tengah, lalu tuang adonan ke bagian tengah itu. Biarkan sebentar sampai mulai mendidih kecil.
- Campur dan ratakan. Tarik isian kembali ke tengah adonan, aduk cepat, lalu ratakan tipis di atas permukaan panas.
- Kerok dan makan selagi panas. Tunggu sampai bagian pinggir sedikit karamel dan renyah, lalu kerok sedikit demi sedikit dengan spatula kecil. Bagian tengah sebaiknya tetap lembut.
Tips agar monjayaki tidak gagal
- Jangan kebanyakan tepung. Kalau adonan terlalu kental, hasilnya akan lebih mirip okonomiyaki yang setengah jadi.
- Cincang kol cukup halus agar cepat layu dan rasa manis alaminya keluar saat dimasak.
- Gunakan api sedang sampai sedang besar. Anda butuh panas yang cukup untuk membuat pinggirannya renyah tanpa membakar seluruh adonan.
- Makan langsung dari teppan dengan spatula kecil. Inilah cara yang paling umum dan juga yang paling enak.
Monjayaki vs okonomiyaki
- Tekstur adonan: monjayaki jauh lebih encer, sedangkan okonomiyaki memegang bentuk panekuk yang jelas.
- Cara memasak: monjayaki diratakan tipis lalu dikerok dari teppan, sementara okonomiyaki dibalik dan dipotong.
- Hasil akhir: monjayaki punya bagian tepi yang garing dan tengah yang lembut, sedangkan okonomiyaki cenderung lebih padat dan empuk.
- Suasana makan: monjayaki terasa lebih sosial karena semua orang makan dari permukaan panas yang sama.
Kenapa resep ini sering dikaitkan dengan Tonari no Kaibutsu-kun?
Monjayaki cocok sekali dengan suasana santai yang sering dipakai serial sekolah atau komedi romantis Jepang. Hidangan ini tidak datang ke meja dalam bentuk porsi yang rapi. Orang-orang memasaknya bersama, mengobrol sambil menunggu pinggirannya garing, lalu makan sedikit demi sedikit. Ritme seperti itu yang membuat monjayaki mudah diingat para penggemar Tonari no Kaibutsu-kun.
Jadi, kalau Anda ingin membawa nuansa judul itu ke dapur, fokuslah pada cara menikmatinya: pakai teppan atau wajan datar, masak ramai-ramai, dan santap selagi masih mendesis.
Variasi topping yang enak dicoba
- Mochi keju: lembut, lengket, dan mudah disukai bahkan oleh yang baru pertama kali mencoba.
- Mentaiko keju: lebih gurih dan sedikit asin, salah satu kombinasi modern yang sangat populer.
- Seafood monja: paling dekat dengan gaya Tokyo klasik, terutama bila memakai udang dan cumi.
- Kol ekstra: pilihan sederhana kalau Anda ingin tekstur lebih segar tanpa menambah berat adonan.
Penutup
Monjayaki bukan makanan yang mengandalkan tampilan rapi. Kelezatannya justru ada pada adonan tipis yang mengering perlahan, aroma saus yang menempel di teppan, dan cara makannya yang ramai. Begitu teksturnya pas, Anda akan paham kenapa hidangan ini tetap menjadi salah satu ciri khas Tokyo sampai sekarang.
Komunitas
Komentar
0 komentar
Belum ada komentar yang diterbitkan dalam bahasa ini.
Kirim komentar