Meskipun gambaran pertama tentang Jepang mengingatkan kita pada pusat kota besar seperti Tokyo dan Osaka, kepulauan ini menyimpan fauna yang jarang terlihat di luar negeri — dan beberapa di antaranya hampir hilang.
Garis antara pulih dan tinggal seratus ekor lebih tipis daripada yang kelihatan. Ahōdori, albatros yang sempat dianggap punah, adalah tempat yang pas untuk mulai.
Daftar isi 5
Ahōdori, albatros ekor pendek
Albatros ekor pendek (Phoebastria albatrus), di Jepang disebut Ahōdori, adalah burung laut besar dari famili Diomedeidae. Mereka hampir tidak mendarat kecuali saat musim kawin, membentuk koloni, dan cenderung monogami. Kaki berselaput membantu mendarat dan lepas landas di air; kelenjar garam membuang kelebihan natrium klorida dari darah.

Spesies inilah yang hampir hilang dari Jepang. Dari akhir abad ke-19 sampai awal abad ke-20, bulunya diburu habis-habisan untuk pasar internasional. Survei 1949 menyimpulkan burung itu sudah punah. Dua tahun kemudian, sekitar sepuluh ekor ditemukan kembali di Torishima, pulau vulkanik di Kepulauan Izu.
Pada musim kawin 2026, Institut Ornitologi Yamashina menghitung sekitar 11.067 ekor di Torishima, termasuk 1.591 anak burung — pertama kalinya populasi pulau itu melewati 10.000 sejak penemuan kembali. Kementerian Lingkungan masih menilainya rentan. Gunung berapi di pulau tak berpenghuni itu tetap ancaman, dan koloni cadangan di Mukojima, Ogasawara, masih kecil.
Paus biru dan jejak perburuan Jepang
Paus biru (Balaenoptera musculus) adalah hewan terbesar di planet ini: panjangnya bisa mendekati 30 meter, bobotnya melewati 100 ton, dan seekor dewasa mampu menelan beberapa ton krill dalam sehari. Nyanyiannya termasuk suara terkeras yang dihasilkan hewan; dalam kondisi ideal, suara itu merambat ratusan hingga ribuan kilometer.
Berbeda dengan kucing Iriomote atau salamander raksasa, paus biru bukan spesies endemik Jepang. Ia merayap di Samudra Pasifik — termasuk perairan yang pernah menjadi jalur perburuan paus Jepang. Jepang, bersama Norwegia, Amerika Serikat, dan Inggris, adalah salah satu negara yang memburu paus besar pada abad ke-19 dan ke-20. Komisi Perpausan Internasional melindungi paus biru sejak 1966; Jepang sendiri menghentikan tangkapan spesies ini pada dekade itu.

IUCN masih menilainya Endangered. Perkiraan individu dewasa di seluruh dunia berada di kisaran 5.000–15.000, jauh dari angka puluhan atau ratusan ribu sebelum era tombak modern. Perburuan komersial Jepang hari ini menarget spesies lain di zona ekonomi eksklusif — bukan paus biru — tetapi sejarah itu tetap menempel pada nama Jepang setiap kali topik paus muncul.
Tanchō, bangau mahkota merah
Tanchō (Grus japonensis), juga disebut tsuru, adalah bangau besar Asia Timur yang di Jepang hampir seluruhnya hidup di Hokkaido. Pasangan cenderung setia; tarian kawinnya sudah jadi gambar kartu pos Kushiro. Populasi Jepang sebagian besar menetap di pulau itu — berbeda dari kawanan benua yang bermigrasi di Rusia, Tiongkok, dan Korea.

Pada 1952, saat tanchō Kushiro ditetapkan sebagai monumen alam khusus, survei musim dingin hanya mencatat 33 ekor. Relawan di desa Tsurui dan sekitar Akan memberi makan sepanjang musim dingin. Survei musim dingin 2024 (akhir Januari 2025) menghitung 1.927 ekor. Pada 17 Maret 2026, Kementerian Lingkungan menurunkan statusnya dari terancam (VU) menjadi hampir terancam (NT): risiko punah, untuk saat ini, dinilai rendah.
Itu bukan undangan untuk berhenti mengurusnya. NT berarti fondasinya masih rapuh; tabrakan dengan mobil dan kereta sudah lebih sering terjadi seiring jumlah yang naik. Di budaya Jepang, tsuru tetap burung umur panjang dan keberuntungan — dan origami tsuru masih cara paling familiar bagi banyak orang untuk bertemu dengan burung ini.
Kucing Iriomote
Kucing Iriomote (Prionailurus bengalensis iriomotensis) hanya hidup di Pulau Iriomote, ujung selatan Kepulauan Yaeyama, Okinawa. Penduduk setempat memanggilnya yamapikaryā atau yamamayā. Dunia ilmiah mengenalinya pada 1965; makalahnya terbit 1967. Sejak itu ia dianggap terancam. Pusat Konservasi Satwa Liar Iriomote masih memakai perkiraan sekitar 100 ekor (data 2008) dan tren menurun.
Ia nokturnal, bisa memanjat dan berenang, dan makannya jauh lebih beragam daripada kucing liar daratan: kadal, katak, burung, serangga, bahkan udang sungai. Pulau itu terlalu kecil untuk menu mamalia kecil yang biasa. Ancaman utamanya hari ini adalah kehilangan habitat pesisir dan kecelakaan lalu lintas. Tes DNA menempatkannya sebagai subspesies kucing macan tutul Asia, bukan spesies sama sekali terpisah — status itu tidak membuat populasinya lebih aman.

Salamander raksasa Jepang
Salamander raksasa Jepang (Andrias japonicus), atau ōsanshōuo, adalah salah satu amfibi terbesar di dunia: panjangnya sekitar 1,5 meter. Bentuknya hampir tidak berubah selama puluhan juta tahun, sehingga sering disebut fosil hidup. Ia hidup di sungai berbatu di Honshu bagian barat, Shikoku, dan sebagian Kyushu — bukan di air beku dekat puncak, seperti yang kadang dikira.
Hewan ini keluar dari persembunyian terutama pada malam hari. Dulu diburu untuk dimakan; sejak 1952 ia dilindungi sebagai monumen alam khusus. IUCN dan Kementerian Lingkungan menilainya Vulnerable. Ancamannya sekarang konkret: tebing sungai dari beton, bendungan pertanian, air keruh, dan hibridisasi dengan salamander raksasa Tiongkok yang masuk ke beberapa sungai Jepang.
Lima nama itu tidak sedang menuju jurang yang sama. Tanchō baru saja keluar dari daftar terancam. Ahōdori melewati 10.000 ekor di Torishima. Kucing Iriomote masih di kisaran seratus. Salamander raksasa tetap Vulnerable. Paus biru adalah cerita samudra, dan Jepang adalah salah satu bab yang paling keras di abad yang lalu.
Yang tersisa hidup di lahan basah Kushiro, di satu pulau Yaeyama, di sungai-sungai Honshu barat, dan di koloni vulkanik yang tidak bisa dikunjungi sembarangan.
Komunitas
Komentar
0 komentar
Belum ada komentar yang diterbitkan dalam bahasa ini.
Kirim komentar