Teh Jepang tidak berhenti pada matcha. Di Jepang, kata ocha (お茶) sering dipakai untuk teh hijau sehari-hari, tetapi pilihan di toko, restoran, dan rumah jauh lebih luas: ada daun teh yang dikukus, dipanggang, dinaungi sebelum panen, atau dicampur beras. Ada pula minuman seperti mugicha dan sobacha yang disebut teh, meski tidak dibuat dari daun Camellia sinensis.
Panduan ini memisahkan jenis yang paling mudah ditemui dan menjelaskan perbedaannya lewat cara pengolahan serta rasa. Itu lebih berguna daripada menyamakan semua teh hijau Jepang atau menganggap matcha sebagai satu-satunya pilihan.
Daftar isi 19
Teh hijau Jepang yang paling dikenal
Sencha (煎茶)
Sencha adalah teh hijau seduh yang paling lazim dalam kehidupan sehari-hari di Jepang. Setelah dipetik, daun dipanaskan dengan uap untuk menghentikan oksidasi, lalu digulung dan dikeringkan. Hasilnya cenderung segar, sedikit sepat, dengan rasa hijau yang jelas. Bila baru mulai mencoba teh Jepang, sencha adalah titik awal yang baik karena karakternya mudah dikenali.
Matcha (抹茶)
Matcha adalah bubuk halus dari tencha, daun teh yang dinaungi sebelum panen. Tidak seperti sencha, bubuknya dikocok dengan air sehingga bagian daun ikut diminum, bukan hanya air seduhannya. Rasa umami dan sedikit pahitnya lebih padat; kualitas matcha sangat memengaruhi keseimbangan rasa. Matcha juga dipakai dalam wagashi, es krim, dan minuman, tetapi bentuk tradisionalnya disajikan dalam mangkuk dengan pengocok bambu bernama chasen.
Gyokuro (玉露)
Gyokuro juga tumbuh di bawah naungan, tetapi dijual sebagai daun teh untuk diseduh. Perawatan sebelum panen membuatnya berada di kelas yang lebih khusus daripada sencha. Rasa gyokuro biasanya dicari karena lembut dan kaya umami. Jangan menyeduhnya seperti teh kantong biasa: air yang terlalu panas dapat menutupi nuansa rasanya.
Genmaicha (玄米茶)
Genmaicha menggabungkan teh hijau dengan beras merah panggang. Beras memberi aroma hangat seperti kacang dan membuat profil rasanya terasa lebih ringan. Jenis ini cocok bagi orang yang menyukai teh hijau tetapi ingin rasa panggang yang tidak setajam hōjicha.
Hōjicha (ほうじ茶)
Hōjicha dibuat dengan memanggang daun teh, dan kadang batangnya, hingga warnanya berubah cokelat kemerahan. Pemanggangan membawa aroma yang mengingatkan pada karamel atau roti panggang, sementara rasa hijaunya menjadi lebih tenang. Hōjicha sering dipilih setelah makan atau saat ingin minuman hangat yang tidak terlalu tajam.
Bancha (番茶)
Bancha umumnya memakai daun yang dipanen lebih belakangan daripada sencha. Daunnya lebih besar dan karakternya lebih sederhana, sehingga bancha sering menjadi pilihan minum sehari-hari. Nama ini dapat dipakai dengan cara yang sedikit berbeda menurut daerah atau produsen; karena itu, perhatikan keterangan kemasan, bukan hanya namanya.
Kukicha atau bōcha (茎茶・棒茶)
Kukicha memakai batang dan tangkai dari pengolahan teh. Rasanya dapat terasa lembut, dengan aroma kacang yang halus. Ia bukan sisa yang harus dihindari; justru bagian batang memberi karakter tersendiri dan membuat kukicha berbeda dari teh daun utuh.
Minuman Jepang yang juga disebut teh
Mugicha (麦茶)
Mugicha dibuat dari jelai panggang, bukan daun teh. Karena itu mugicha tidak mengandung kafein secara alami. Di musim panas, minuman ini lazim disajikan dingin; aromanya panggang, ringan, dan mudah dipadukan dengan makanan. Mugicha adalah pilihan yang tepat bila Anda ingin rasa teh tanpa kafein dari Camellia sinensis.
Sobacha (そば茶)
Sobacha berasal dari biji soba panggang dan menghasilkan warna keemasan dengan rasa menyerupai kacang. Ini juga bukan teh dari daun teh. Orang yang memiliki alergi buckwheat atau soba perlu menghindarinya, jadi jangan menganggap sobacha sama dengan teh hijau hanya karena cara penyajiannya serupa.
Sakurayu atau sakuracha (桜湯)
Sakurayu dibuat dengan menyeduh bunga sakura yang diawetkan dengan garam. Saat terkena air panas, bunganya terbuka dan minuman ini memiliki rasa lembut dengan sedikit asin. Sajian tersebut lebih dekat pada infus bunga daripada teh hijau, namun kerap hadir pada momen perayaan.
Konbucha (昆布茶)
Konbucha Jepang dibuat dari kombu, sejenis rumput laut, dan rasanya gurih. Nama ini tidak sama dengan kombucha fermentasi yang dikenal di banyak negara. Perbedaan kecil ini penting saat membeli produk atau mencari resep.
Bagaimana memilih teh Jepang?
- Ingin rasa segar dan klasik: pilih sencha.
- Ingin rasa lebih pekat dan umami: coba matcha atau gyokuro.
- Suka aroma panggang: pilih genmaicha atau hōjicha.
- Mencari minuman tanpa kafein dari daun teh: pilih mugicha atau sobacha, sambil memperhatikan alergi soba.
Rasa teh tidak ditentukan nama saja. Suhu air, lama seduh, kualitas daun, dan cara penyimpanan dapat mengubah hasil di cangkir. Ikuti petunjuk pada kemasan terlebih dahulu; air yang mendidih dapat membuat beberapa teh hijau terasa jauh lebih pahit.
Teh dan upacara minum di Jepang
Upacara teh, atau chanoyu (茶の湯), berpusat pada persiapan matcha. Namun budaya minum teh Jepang tidak hanya hidup di ruang upacara. Sencha diseduh di rumah, hōjicha hadir bersama makanan, dan botol teh tanpa gula mudah ditemukan di minimarket. Jika ingin memahami sisi seremonialnya, lanjutkan ke Chanoyu – Upacara Teh Jepang.
Pertanyaan umum tentang teh Jepang
Apa bedanya matcha dan sencha?
Sencha diseduh dari daun lalu disaring, sedangkan matcha berupa bubuk halus yang dikocok langsung dengan air. Keduanya berasal dari tanaman teh, tetapi bahan awal dan cara menikmatinya berbeda.
Apakah semua teh Jepang adalah teh hijau?
Tidak. Jepang juga mengenal kōcha, yaitu teh hitam, oolongcha, serta minuman seperti mugicha dan sobacha. Dalam pemakaian sehari-hari, istilah ocha memang sering mengarah pada teh hijau Jepang, tetapi konteks tetap menentukan.
Teh mana yang cocok bersama makanan Jepang?
Sencha serbaguna untuk makanan sehari-hari. Hōjicha dan genmaicha menawarkan aroma panggang yang nyaman bersama hidangan gurih. Untuk mengenal hidangan yang biasa hadir di sekitar teh dan mi, lihat juga 15 jenis mi Jepang.
Komunitas
Komentar
0 komentar
Belum ada komentar yang diterbitkan dalam bahasa ini.
Kirim komentar