Pernah lihat foto atau video orang Jepang tertidur di kereta dengan posisi yang kelihatan mustahil? Kepala jatuh, badan masih berdiri, tangan masih pegang tas. Itu yang sering disebut inemuri: bukan tidur siang di kasur, tapi tidur sambil tetap ada di tengah aktivitas.
Kata inemuri merujuk pada tidur sebentar di tempat umum, di kantor, dan terutama di kereta, yang memang sangat sering kelihatan. Saya sendiri sudah sempat mencobanya di gerbong: perjalanan itu terlalu tenang, sampai mata nutup sendiri.
Daftar isi 5
Arti inemuri
Inemuri [居眠り] secara harfiah berarti tidur sambil hadir. Bisa dibaca sebagai memejamkan mata tanpa benar-benar keluar dari situasi: di tempat kerja, di kelas, di rapat, di acara, atau di kereta. Tidak selalu sehalus itu, tapi intinya bukan tidur di tempat tidur.
Ini berbeda dengan hirune [昼寝], tidur siang yang disengaja. Anak kecil di Jepang masih punya waktu hirune; orang dewasa kadang hirune di rumah saat akhir pekan. Di hari kerja, yang biasanya tersisa justru inemuri: tidur numpang di sela kegiatan, bukan istirahat yang dijadwalkan.
- Hirune (昼寝): tidur siang yang dipilih, biasanya di rumah atau di waktu istirahat.
- Inemuri (居眠り): ketiduran di tengah kegiatan, dengan tubuh masih kelihatan “hadir”.

Inemuri adalah tidur ringan: menutup mata, tertidur sambil duduk, kadang sambil berdiri. Jangan dibaca sebagai rumus “20 menit tidur polifasik setara semalaman yang bagus”. Yang kelihatan di kereta dan di kantor lebih sederhana: orang kelelahan, dan masyarakat Jepang sudah lama lebih toleran melihat seseorang tertidur di depan umum, asal masih bisa kembali ke situasi sosial kalau dipanggil.
Dari kata yang sama muncul inemuriunten [居眠り運転], mengantuk atau tertidur saat mengemudi. Bentuk kerjanya inemuru [居眠る]: mengantuk sampai ketiduran di tempat.
Orang Jepang tidur di tempat umum
Ketiduran di depan umum di Jepang bukan skandal otomatis. Orang tidur di kereta, toko, restoran, kafe, bangku, bahkan di trotoar. Yang perlu dibedakan: tidak semua tubuh tergeletak di jalan itu inemuri.

Banyak kasus orang tergeletak di jalan adalah orang yang mabuk atau yang ketinggalan kereta terakhir. Dalam kasus terburuk, bisa jadi penghuni jalanan. Inemuri yang “diterima” biasanya tetap duduk atau berdiri, masih kelihatan sebagai bagian dari keramaian, bukan tidur di lantai seolah sudah pulang ke rumah.
Orang Jepang lain di tempat itu biasanya tidak mengganggu dan hanya mengabaikan. Ada yang ketiduran bahkan saat potong rambut. Di sekolah umum, anak ketiduran di pelajaran masih sering berakhir dengan tarikan telinga dari sensei atau cubitan, bukan drama besar di ruang guru.

Di sekolah, teman sekelas biasanya tidak mengejek sampai hancur, dan tidak semua kasus langsung jadi surat peringatan. Tentu ada batas: bagaimana dan seberapa nyenyak kamu tidur. Mendengkur sudah jadi masalah besar, karena pecahnya ketenangan orang lain.
Orang Jepang tidur di kereta
Sangat umum menemukan orang tidur di kereta Jepang. Ada yang tidur berdiri. Ada yang kelihatan masih konsentrasi dengan postur tegak, padahal sudah ketiduran.

Yang lain melewati batas: tergeletak, berbaring, berguling di dalam gerbong, sampai orang sebelah perlu memberi cubitan. Kebanyakan orang, pada suatu saat, mempraktikkan inemuri di kereta. Saya sendiri sudah melakukannya.
Perjalanan kereta sering terlalu santai dan bikin mengantuk. Tidak peduli sudah tidur semalaman, saya pernah ketiduran di dalam gerbong. Naik kereta di Jepang kadang terasa seperti menonton video ASMR: getaran, pengumuman pelan, dan tubuh yang goyang pelan-pelan.

Praktik inemuri kelihatan menurun dari tahun ke tahun, terutama di kereta, berkat ponsel. Sekarang anak muda lebih sering masih terjaga: media sosial, game, video. Kereta tetap tempat yang nyaman untuk ketiduran, hanya saja layar menahan banyak orang lebih lama.
Meski begitu, masih mudah ketemu adegan lucu: kepala yang jatuh ke bahu orang asing, tangan yang masih pegang tas rapat-rapat, atau seseorang yang bangun persis sebelum stasiunnya. Kalau baru pertama kali naik kereta api di Jepang, jangan kaget. Itu bagian dari pemandangan, bukan undangan untuk merekam muka orang tanpa izin.
Orang Jepang tidur di tempat kerja
Ada yang bilang di Jepang boleh tidur di kantor. Jawabannya: di sebagian pekerjaan, ya — dengan syarat yang jarang ditulis di buku saku. Beberapa orang berani ketiduran bahkan dalam rapat.
Tidur sebentar saat kerja bisa dibaca sebagai tanda sudah bekerja habis-habisan: terlalu capek karena lembur, atau baru pulang larut dari nomikai. Bisa juga dibaca sebagai hak orang yang sudah “lunas” secara hierarki. Jangan langsung disalin sebagai izin universal.

Tidak semua orang dapat hak yang sama. Karyawan baru yang harus kelihatan aktif biasanya tidak boleh ketiduran. Pekerja pabrik atau bawahan di lini produksi hampir tidak punya ruang untuk inemuri; ketahuan bisa berabe. Yang lebih senior di pekerjaan kantor, terutama kalau topik rapat bukan tanggung jawab utamanya, lebih sering “lolos”. Ada juga yang tidur sembunyi-sembunyi kalau pekerjaan mengizinkan.
Aturan tak tertulis lainnya soal postur: tubuh harus masih kelihatan terlibat. Duduk tegak, kepala menunduk, siap kembali kalau dipanggil. Tidur di bawah meja, bikin kasur dari kursi, atau mendengkur di rapat bukan inemuri yang diterima — itu sudah kelihatan “pergi” dari situasi.
Kamu bisa bekerja dan melihat bos tidur siang, lalu tidak boleh melakukan hal yang sama. Mempraktikkan inemuri tidak otomatis berarti orang itu malas. Hanya saja, konteksnya yang menentukan: jabatan, jenis kerja, jam, dan bos.

Kurang tidur, bukan bukti malas
Kebutuhan tidur orang dewasa biasanya berkisar sekitar tujuh sampai sembilan jam, bukan rumus kaku “wajib 8, maksimal 10”. Yang lebih relevan di Jepang: banyak orang tidur lebih pendek dari itu. Dalam perbandingan OECD yang sering dikutip, rata-rata tidur di Jepang sekitar 442 menit sehari (kira-kira 7 jam 22 menit), yang terpendek di antara negara yang dibanding. Survei kesehatan MHLW tahun 2017 menunjukkan sekitar separuh pria dan wanita usia 40-an tidur kurang dari enam jam.
Penyebabnya campur: jam kerja panjang, perjalanan pulang-pergi, zangyo, minum setelah kantor, lalu layar sampai dini hari. Teman Jepang yang saya ajak bicara masih melewati jam dua pagi di media sosial. Ada yang memang kelelahan karena kerja; ada yang memotong tidur karena hiburan. Jangan digeneralisasi jadi “orang Jepang mati bekerja” — itu sudah saya bahas di artikel tentang etos kerja.

Periode tidur singkat inemuri bisa merilekskan kepala dan bikin lebih tahan rapat berikutnya. Itu bukan ramuan kecerdasan nasional, dan bukan pengganti tidur malam. Di beberapa tempat, aturannya justru: boleh “pergi” sebentar asal tetap kelihatan hadir secara fisik dan siap terlibat lagi.
Di banyak negara, ketiduran di kereta atau di rapat masih dibaca sebagai malu. Di Jepang, inemuri bisa jadi kebanggaan kecil, tanda sudah menghabiskan tenaga, atau sekadar cara bertahan di gerbong yang bergoyang. Tergantung siapa yang tidur, di mana, dan seberapa kelihatan dia masih “ada”. Kalau kamu pernah ketiduran di kereta dan bangun tepat di stasiun, kamu sudah mencicipi versinya yang paling halal.
Komunitas
Komentar
0 komentar
Belum ada komentar yang diterbitkan dalam bahasa ini.
Kirim komentar