Homestay di Jepang: hidup di rumah keluarga

Homestay di Jepang: hidup di rumah keluarga

Dari omiyage di genkan sampai air ofuro yang dipakai bersama

Rumah Jepang jarang dibuka untuk orang asing. Banyak kunjungan berhenti di genkan: sepatu dilepas, teh disuguhkan, lalu tamu pamit. Homestay memotong garis itu. Kamu tidur di ruang yang sama, makan dari piring yang sama, dan ikut jam keluarga yang punya kerja, anak, dan ofuro malam.

Itu terdengar hangat sampai kamu berdiri di depan pintu dengan koper. Oleh-oleh kecil dari negeri asal sering lebih berguna daripada kalimat Jepang yang sempurna. Sepatu, bak mandi, futon, nattō — semuanya baru terasa setelah kamu masuk, bukan di halaman pemesanan.

Keluarga Jepang menyambut tamu dari genkan dan makan bersama di meja kayu
Daftar isi 4

Homestay, minpaku, dan rumah teman

Tiga hal ini sering dicampur. Homestay yang dicari pelajar dan wisatawan biasanya berarti kamar di rumah keluarga tuan rumah: sarapan dan makan malam sering termasuk, kamar mandi dipakai bersama, dan ada orang yang pulang kerja. Kunci pintar di kotak apartemen kosong adalah cerita lain.

Minpaku (民泊) adalah menginap di hunian orang — bisa bersama tuan rumah, bisa sewa rumah atau apartemen utuh. Ada juga nouhaku: menginap di pedesaan sambil ikut pertanian, hutan, atau laut. Minpaku kosong tanpa keluarga di tempat tetap akomodasi. Itu bukan ritme rumah tangga yang dicari orang yang ingin makan malam di meja yang sama.

Program berbayar di kota besar sering jatuh di kisaran 4.000 sampai 8.000 yen per orang per malam jika makan ikut, kadang plus biaya pemesanan. Angka itu bergerak menurut kota, musim, dan lama tinggal. Beberapa listing mulai lebih rendah; agen yang menyertakan dua kali makan dan jemput di stasiun biasanya lebih tinggi. Yang tertulis di listing adalah yen — bandingkan itu, bukan perkiraan dari mata uang lain.

Ada minpaku yang tidak terdaftar. Pesan lewat layanan yang menampilkan hunian legal, baca deskripsi keluarga, dan tanyakan alergi atau makanan sebelum membayar.

Sebelum masuk rumah

Pilih lokasi dulu: stasiun terdekat, cuaca, jarak ke tempat yang ingin dikunjungi. Keluarga tuan rumah jarang tinggal di pusat kota. Komuter adalah bagian dari kehidupan Jepang, sama seperti bagi tetangga di kereta pagi.

Kenali keluarga lewat deskripsi: ada anak atau tidak, merokok, hewan, bahasa Inggris. Situs yang bagus menuliskan menu sarapan dan makan malam. Makan siang hampir selalu urusanmu sendiri — konbini, kantin, atau restoran dekat stasiun. Nattō, ikan, dan sayuran tertentu membuat sebagian orang kaget. Alergi harus dikatakan sebelum datang, bukan di meja.

Tanyakan juga laundry, jam mandi, dan apakah kamar mandi pribadi atau dipakai bersama. Kamar mandi pribadi jarang. Kalau keluarga hanya bicara Jepang, malam pertama akan lebih sunyi dan lebih berguna untuk telinga. Minta foto stasiun terdekat dan rute dari bandara sebelum hari H, supaya genkan pertama tidak dimulai dengan kebingungan di gerbang tiket.

Perempuan menerima buket bunga di pintu rumah; beberapa orang memasak bersama di dapur

Masuk rumah Jepang hampir selalu dengan hadiah. Omiyage dari negeri asal — makanan kemasan, permen, oleh-oleh kecil — cukup. Bukan kemewahan. Itu isyarat bahwa kamu paham ruang orang lain.

Di rumah keluarga Jepang

Sepatu dilepas di genkan. Boleh bawa sandal sendiri. Lepas lagi di ruang tatami. Toilet punya alas kaki sendiri; jangan dibawa ke koridor. Tempat ganti sepatu kelihatan, dan keluarga biasanya berdiri di situ pada hari pertama.

Deretan sandal dalam rumah dan geta di genkan di samping ruang tatami dengan tokonoma

Keluarga yang dibayar untuk homestay sering punya waktu untuk mengajak makan di restoran lokal, ke taman, atau jalan di luar kota. Siapkan diri untuk ikut, dan makan apa yang disuguhkan kecuali alergi yang sudah dibicarakan.

Di ofuro, cuci badan dulu di luar bak, duduk di bangku kecil kalau ada, lalu rendam. Air dalam bak dipakai bergantian oleh seluruh rumah, kadang dipanaskan lagi di antara giliran. Masuk kotor atau berbusa adalah kesalahan yang terasa lebih keras daripada salah partikel. Jangan mengosongkan bak kecuali keluarga minta.

Waktu makan malam, ucapkan itadakimasu dan pakai hashi (sumpit) sesuai aturannya. Ada kebiasaan lain di meja; yang ini cukup untuk malam pertama.

Kamar tamu khusus jarang. Sering ruang tamu ber-tatami dan futon di lantai. Lipat pagi-pagi, sebelum orang rumah mulai bergerak. Aneh hanya pada malam pertama. Setelah itu, futon yang dilipat adalah cara bilang kamu mengerti rumah itu dipakai siang hari, bukan hotel.

Saat pamit, sebagian orang terus melambaikan tangan sampai kamu hilang di belokan. Aku melihat itu setiap hari. Lucu, dan terasa sayang.

Lima rumah pada 2016

Selama perjalanan ke Jepang pada 2016 aku menginap gratis di lima rumah teman. Beda dengan homestay berbayar: keluarga yang dibayar sering lebih tersedia. Yang menampungku bekerja. Tetap nyaman di semua rumah.

Kolase foto perjalanan: makan bersama, malam kota, makanan Jepang, taman, dan kelompok teman

Keluarga pertama orang Brasil. Rumah dua lantai, mematahkan klise rumah Jepang yang sempit. Aku tidur di kasur double, cuma semalam. Mereka ajak makan di KFC, belanja di Costco, makan malam di restoran Tionghoa. Di Hamamatsu, tuan rumah Brasil lain mengajak yakiniku dan onsen.

Dua keluarga lain menampung hampir seminggu di Osaka. Jalan-jalan kota, malam yang ramai. Menginap di rumah orang — Jepang atau bukan — itulah yang membuat perjalanan itu lebih hidup daripada berjalan sendirian.

Homestay di Jepang terasa menakutkan kalau yang dibayangkan hanya perbedaan budaya dan keluarga asing. Yang terjadi di meja, di genkan, dan di ofuro lebih sederhana: kamu menyesuaikan ritme rumah itu, atau kamu memesan hotel. Kalau sudah pernah, tulis di komentar rumah mana, dan apa yang kamu bawa sebagai omiyage.

Sumber dan tautan berguna

Tentang penulis

Kevin Henrique

Spesialis dengan pengalaman lebih dari 10 tahun dalam budaya Asia, berfokus pada Jepang, Korea, anime, dan game. Otodidak, penulis, dan pelancong yang fokus mengajarkan bahasa Jepang, tips wisata, dan fakta menarik yang mendalam.

Komunitas

Komentar

0 komentar

Belum ada komentar yang diterbitkan dalam bahasa ini.

Kirim komentar

Komentari artikel ini

Memuat pemeriksaan keamanan...

Jangan kirim tautan, embed, atau promosi. Komentar melewati anti-spam dan terjemahan otomatis sebelum tampil.