Futon Jepang: apakah orang Jepang masih tidur di lantai?

Futon Jepang: apakah orang Jepang masih tidur di lantai?

Futon tetap dipakai di Jepang karena hemat ruang, cocok untuk tatami, dan masih umum di ryokan, meski banyak rumah...

Jawaban singkatnya: ya, futon masih dipakai di Jepang, tetapi bukan berarti semua orang Jepang tidur langsung di lantai setiap malam. Di kamar bergaya Jepang dengan tatami, futon tetap masuk akal karena ringan, mudah dilipat, dan tidak memakan ruang. Di apartemen modern, banyak orang Jepang juga memakai ranjang biasa.

Itulah sebabnya futon bukan sekadar simbol tradisi. Bagi banyak orang, ia adalah solusi praktis untuk ruangan yang harus dipakai bergantian untuk tidur, duduk, belajar, atau menerima tamu. Logika ini terasa pas terutama bila Anda sudah pernah membaca kenapa rumah di Jepang sering terasa kecil dan serbaguna.

Futon tipis dibentangkan di atas lantai tatami dalam kamar bergaya Jepang.
Futon biasanya dipakai di atas tatami, bukan di lantai keras tanpa alas.
Daftar isi 6

Apa sebenarnya futon Jepang?

Dalam percakapan sehari-hari, futon sering dipahami sebagai kasur tipis untuk tidur di lantai. Namun, satu set futon Jepang biasanya mencakup beberapa bagian: shikibuton sebagai alas tidur, kakebuton sebagai selimut, dan makura sebagai bantal. Jadi, saat orang Jepang berkata tidur dengan futon, yang dibayangkan bukan hanya satu matras kecil, melainkan satu paket perlengkapan tidur.

Hal penting yang sering disalahpahami adalah permukaannya. Futon tradisional umumnya dibentangkan di atas tatami, sehingga rasanya berbeda dari tidur langsung di keramik atau lantai semen. Karena itu, pengalaman tidur dengan futon lebih dekat ke kamar washitsu yang empuk dan kering, bukan sekadar “tidur di lantai” dalam arti paling harfiah.

Mengapa futon masih dipakai?

Ada tiga alasan yang paling mudah dipahami. Pertama, futon hemat ruang. Setelah dipakai, alas dan selimutnya bisa dilipat lalu disimpan di lemari, sehingga kamar kembali lega pada pagi hari. Kedua, futon fleksibel. Satu ruangan bisa berganti fungsi tanpa harus diisi ranjang permanen. Ketiga, futon masih menjadi bagian kuat dari pengalaman menginap di ryokan Jepang, terutama di kamar dengan tatami.

Itu juga menjelaskan kenapa banyak pelancong pertama kali mengenal futon bukan dari rumah pribadi, melainkan dari ryokan, minshuku, atau penginapan tradisional lain. Di sana, futon bukan dekorasi, melainkan bagian normal dari cara kamar dipakai dari sore sampai pagi.

Perlengkapan futon disiapkan di kamar ryokan Jepang untuk tamu yang akan menginap.
Di ryokan, futon biasanya disiapkan pada malam hari setelah kamar selesai dipakai untuk duduk atau makan.

Apakah futon nyaman untuk semua orang?

Tidak selalu. Bagi orang yang terbiasa kasur tebal dan empuk, futon bisa terasa keras pada malam pertama. Di sisi lain, banyak orang justru menyukainya karena permukaannya rata, ringkas, dan tidak membuat badan tenggelam terlalu dalam. Kenyamanan futon lebih mirip soal kebiasaan dan jenis alasnya daripada soal “lebih baik” atau “lebih buruk” dari ranjang Barat.

Yang lebih jujur untuk dikatakan adalah ini: futon nyaman jika disiapkan dengan benar, dipakai di alas yang sesuai, dan cocok dengan preferensi tidur Anda. Jadi, jangan berharap semua orang akan langsung jatuh cinta padanya, tetapi jangan juga mengira futon pasti tidak nyaman hanya karena tipis.

Cara memakai dan merawat futon

Futon tidak dirancang untuk dibiarkan lembap terus-menerus. Karena menyerap panas dan kelembapan tubuh saat dipakai, alas tidur ini perlu rutin diangin-anginkan atau dijemur agar tetap kering. Inilah salah satu kebiasaan yang sering terlihat di Jepang: futon digantung sebentar di luar atau dibuka supaya uap airnya keluar.

Kalau futon dipakai setiap hari, kebiasaan dasar yang paling penting adalah membiarkannya bernapas. Jangan terus-menerus membiarkannya terlipat rapat dalam keadaan lembap, dan jangan anggap futon sebagai barang yang bisa dipasang permanen lalu dilupakan begitu saja.

Kalau ingin mencoba atau membeli futon, mulai dari mana?

Kalau tujuan Anda hanya ingin merasakan sensasinya sekali, cara termudah adalah menginap di ryokan atau kamar tradisional yang memang memakai tatami dan futon. Anda bisa memahami langsung bagaimana futon dibentangkan, kapan disimpan, dan kenapa sistem ini cocok untuk ruangan multifungsi.

Kalau tujuan Anda ingin membeli, perhatikan dulu konteks pemakaiannya. Futon Jepang paling masuk akal bila Anda punya alas yang baik, sirkulasi udara yang layak, dan ruang untuk melipat atau menjemurnya. Banyak orang membeli futon karena tertarik pada estetika Jepang, tetapi lupa bahwa kepraktisannya justru datang dari rutinitas merawat dan menyimpannya dengan benar.

Jadi, apakah orang Jepang tidur di lantai?

Ya, sebagian masih begitu, terutama dalam konteks tatami, kamar tradisional, dan penginapan seperti ryokan. Namun jawaban lengkapnya tidak sesederhana “semua orang Jepang tidur di lantai”. Jepang modern juga penuh dengan apartemen, ranjang biasa, dan gaya hidup yang jauh lebih campuran daripada stereotip lama.

Kalau Anda penasaran dengan futon, cara terbaik bukan berdebat soal mana yang paling benar, melainkan memahami kapan futon bekerja dengan baik. Dalam ruang yang tepat, dengan alas yang tepat, futon tetap menjadi salah satu cara tidur paling khas dan paling praktis yang lahir dari kehidupan rumah Jepang.

Sumber dan tautan berguna

Tentang penulis

Kevin Henrique

Spesialis dengan pengalaman lebih dari 10 tahun dalam budaya Asia, berfokus pada Jepang, Korea, anime, dan game. Otodidak, penulis, dan pelancong yang fokus mengajarkan bahasa Jepang, tips wisata, dan fakta menarik yang mendalam.

Komunitas

Komentar

0 komentar

Belum ada komentar yang diterbitkan dalam bahasa ini.

Kirim komentar

Komentari artikel ini

Memuat pemeriksaan keamanan...

Jangan kirim tautan, embed, atau promosi. Komentar melewati anti-spam dan terjemahan otomatis sebelum tampil.