Ketika kita tidak tahu cara mengucapkan sebuah kata dalam bahasa Jepang, penerjemah online sering menjadi jalan pertama. Google Translate, yang tampil sebagai Google Terjemahan dalam antarmuka bahasa Indonesia, adalah salah satu layanan yang paling mudah diakses, tetapi hasilnya perlu diperiksa sebelum dipakai dalam percakapan, pesan, atau dokumen. Artikel ini membahas cara memakai Google Translate untuk bahasa Jepang dengan lebih aman, mulai dari hal yang sering terlewat sampai tanda bahwa hasil terjemahannya belum bisa dipercaya.
Banyak kesalahan muncul karena bahasa Jepang sering menghilangkan subjek dan menandai hubungan antarkata dengan partikel. Mesin penerjemah harus menebak bagian yang tidak tertulis, dan tebakannya tidak selalu tepat. Sebelum menyalin hasilnya, ada baiknya Anda tahu bagian mana yang perlu dicek sendiri.
Daftar isi 6
Apa yang perlu Anda ingat sebelum menerjemahkan
Bahasa Jepang memakai urutan subjek, objek, dan verba (SOV), sedangkan bahasa Indonesia memakai subjek, verba, dan objek (SVO). Karena verba berada di akhir kalimat, susunan hasil terjemahan mesin kadang terasa terbalik ketika dibaca dalam bahasa Indonesia.
Subjek juga sering tidak ditulis. Kalimat 「私は学生です」 (watashi wa gakusei desu) berarti "Saya seorang pelajar". Partikel は (wa) menandai topik, が menandai subjek, を (o) menandai objek langsung, dan に menandai arah, waktu, atau tujuan. Ketika subjek dihilangkan, Google Translate harus menebak siapa yang melakukan tindakan.
Kanji menambah lapisan lain. Satu karakter bisa punya beberapa bacaan, dan bacaan yang dipilih bergantung pada kata di sekitarnya. Karakter 山 dibaca yama ketika berdiri sendiri (gunung), tetapi san dalam 富士山 (Gunung Fuji). Cara membaca kanji seperti ini perlu diperiksa sendiri, karena mesin tidak selalu memilih bacaan yang sesuai dengan konteks. Panduan membaca kanji lewat komponen fonetik bisa membantu Anda mengenali pola yang sama.
Kata seperti kokoro menunjukkan masalah yang sama. Kokoro bisa merujuk pada hati, pikiran, atau perasaan, dan satu padanan Indonesia belum tentu mewakili maksud kalimat. Google Translate harus memilih satu kata, sementara pembaca perlu mengetahui konteksnya.
Untuk gambaran yang lebih luas tentang proses penerjemahan, lihat panduan penerjemah dan penerjemahan bahasa Jepang.

Tips menggunakan Google Translate untuk bahasa Jepang
Beberapa kebiasaan berikut membantu Anda menilai hasil terjemahan sebelum dipakai.
Terjemahkan balik ke bahasa Indonesia. Setiap kali menerjemahkan ke bahasa Jepang, tempelkan hasilnya kembali ke kolom sumber dan terjemahkan ke bahasa Indonesia. Jika maknanya berubah, kalimat aslinya perlu disederhanakan. Jika Anda bisa memakai bahasa Inggris, lakukan hal yang sama sebagai pembanding.
Periksa frasa di Google. Ketik frasa Jepang yang Anda dapat, atau sebagiannya, di Google. Hasil yang muncul bisa menunjukkan apakah frasa itu dipakai dalam konteks yang mirip.
Cermati saran dan alternatif. Google Translate kadang menampilkan beberapa pilihan kata. Bandingkan pilihan itu dengan kamus sebelum memilih. Contohnya, 見る (miru) berarti melihat, sedangkan 見える (mieru) berarti tampak atau terlihat.
Gunakan Jisho. Jisho.org membantu Anda memeriksa arti, bacaan, dan contoh kalimat. Gunakan kamus ini untuk kata yang Anda ragukan, terutama ketika Google Translate hanya memberi satu arti.
Hindari kata ganti yang tidak perlu. Dalam percakapan bahasa Jepang, kata ganti seperti あなた (anata) tidak perlu muncul di setiap kalimat. Nama, sebutan, atau topik kalimat biasanya sudah cukup. Jika Google Translate menambahkan あなた, pertimbangkan untuk menghapusnya dan sesuaikan dengan situasi.
Hati-hati dengan romaji. Romanisasi otomatis bisa berbeda dari bacaan yang dipakai penutur. Fokus pada kana, lalu periksa kanji yang belum dikenal di Jisho untuk mendapatkan bacaan yang benar.
Kesalahan yang sering muncul
Kata pendek sering salah diterjemahkan karena maknanya bergantung pada kanji. はし bisa berarti 橋 (jembatan), 箸 (sumpit), atau 端 (ujung). かみ bisa berarti 紙 (kertas), 神 (dewa), atau 髪 (rambut). Tanpa kanji atau konteks, mesin hanya bisa menebak.
Partikel juga sering tertukar. は menandai topik yang sudah diketahui pembicara, sedangkan が menandai subjek yang menjadi fokus. Perbedaannya terlihat pada 私は学生です (Saya pelajar) dan 学生が来ました (Seorang pelajar datang). Pada kalimat kedua, が menempatkan pelajar sebagai informasi utama.
Karena verba baru muncul di akhir, mesin harus menunda keputusan tentang subjek dan objek. Pada kalimat panjang, kesalahan ini menumpuk dan hasilnya bisa terdengar acak. Penelitian terhadap hasil Google Translate dari bahasa Jepang ke bahasa Indonesia menemukan kecenderungan terjemahan harfiah, dengan partikel dan keterangan waktu yang sering tidak cocok.
Kapan hasilnya belum bisa dipercaya
Tingkat kesopanan atau keigo menjadi batas yang jelas. Bahasa Jepang memilih bentuk kata berdasarkan hubungan pembicara, lawan bicara, dan situasi. Google Translate sering memilih bentuk sopan standar, dan pilihan itu belum tentu sesuai untuk email bisnis, surat resmi, atau percakapan dengan atasan.
Nuansa budaya juga sulit dipindahkan. Ungkapan, sindiran, dan permainan kata sering kehilangan maksud ketika diterjemahkan kata per kata. Untuk dokumen penting, hasil mesin sebaiknya diperiksa penutur atau penerjemah yang memahami konteksnya.
Alternatif: Jisho dan DeepL
Jisho cocok untuk memeriksa kata, bacaan kanji, dan contoh kalimat. Google Translate lebih cepat untuk memahami garis besar teks, sedangkan Jisho membantu memastikan bagian yang paling berisiko.
DeepL juga mendukung bahasa Jepang sejak 19 Maret 2020. Untuk beberapa kalimat, hasilnya terasa lebih alami, tetapi partikel, kanji, dan keigo tetap perlu diperiksa. Pemeriksaan manusia tetap diperlukan untuk kalimat yang menyangkut hubungan sosial.
Checklist sebelum memakai hasil terjemahan
Gunakan empat pertanyaan ini sebagai pemeriksaan cepat:
- Apakah subjek dan objek kalimat sudah jelas?
- Apakah partikel は, が, を, dan に sesuai dengan peran kata?
- Apakah kanji yang muncul sudah Anda periksa bacaannya?
- Apakah tingkat kesopanan cocok dengan lawan bicara?
Jika satu jawabannya belum pasti, jangan langsung menyalin hasilnya. Periksa di Jisho, bandingkan dengan DeepL, atau tanyakan kepada penutur bahasa Jepang.
Kalau Anda punya contoh kalimat yang hasil terjemahannya terasa aneh, tulis di kolom komentar. Contoh dari pembaca sering menunjukkan bagian mana yang paling sulit diterjemahkan mesin, dan pembahasan itu membantu pembaca lain memeriksa kalimatnya sendiri.






Komunitas
Komentar
0 komentar
Belum ada komentar yang diterbitkan dalam bahasa ini.
Kirim komentar