15 Kotowaza: Peribahasa Jepang dan Artinya

15 Kotowaza: Peribahasa Jepang dan Artinya

Kumpulan peribahasa Jepang dengan kanji, romaji, arti, dan konteks penggunaan.

Ada kalanya satu kalimat pendek menyimpan gambar yang jauh lebih lama tinggal di kepala daripada nasihat yang panjang: katak di dalam sumur, paku yang dipukul, atau hujan yang justru memadatkan tanah. Itulah daya tarik kotowaza, peribahasa Jepang yang memakai gambaran sehari-hari untuk menyampaikan sesuatu tentang pilihan, kegagalan, kesabaran, dan cara memandang orang lain.

Terjemahan kata demi kata memang membantu, tetapi tidak selalu cukup. Beberapa ungkapan terdengar lucu bila dipindahkan langsung ke bahasa Indonesia; makna yang dipakai penutur Jepang sering berada di balik gambaran itu. Daftar ini memadukan arti harfiah dengan konteksnya agar kotowaza tidak berhenti sebagai hiasan kanji.

Daftar isi 18

Apa itu kotowaza?

Kotowaza (ことわざ, 諺) adalah peribahasa atau pepatah dalam bahasa Jepang. Banyak kotowaza lahir dari pengamatan atas alam, hewan, pekerjaan, dan hubungan manusia. Ada pula yang berakar pada sastra klasik atau ungkapan dari Tiongkok yang kemudian hidup dalam bahasa Jepang.

Karena itu, satu kotowaza tidak selalu punya padanan Indonesia yang persis sama. Yang paling penting bukan hanya mengetahui arti katanya, melainkan menangkap situasi ketika ungkapan itu terasa tepat. Beberapa masih akrab dalam percakapan atau tulisan modern, sedangkan yang lain lebih sering ditemui dalam pelajaran bahasa, buku, atau media.

15 peribahasa Jepang populer dan maknanya

猿も木から落ちる — Saru mo ki kara ochiru

Arti harfiah: Monyet pun bisa jatuh dari pohon.

Makna: Orang yang sangat ahli pun tetap dapat berbuat salah. Padanan Indonesianya dekat dengan “sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga”. Ungkapan ini lebih lembut daripada mengejek kesalahan seseorang: ia mengingatkan bahwa kemampuan tidak membuat siapa pun kebal dari kekeliruan.

出る杭は打たれる — Deru kui wa utareru

Arti harfiah: Paku yang menonjol akan dipukul.

Makna: Seseorang yang terlalu menonjol dapat menerima tekanan atau kritik dari lingkungan sekitarnya. Kotowaza ini sering dibaca sebagai gambaran tentang tekanan untuk menyesuaikan diri; bukan aturan bahwa orang tidak boleh punya pendapat atau prestasi sendiri.

花より団子 — Hana yori dango

Arti harfiah: Dango lebih penting daripada bunga.

Makna: Memilih manfaat nyata daripada keindahan semata. Gambarnya dekat dengan hanami: ada orang yang datang saat bunga sakura mekar, tetapi lebih sibuk menikmati makanan dan minuman. Nada ungkapan ini biasanya ringan, untuk menyebut pilihan yang praktis.

井の中の蛙大海を知らず — I no naka no kawazu taikai o shirazu

Arti harfiah: Katak di dalam sumur tidak mengenal lautan luas.

Makna: Pengalaman yang sempit dapat membuat seseorang mengira dunianya sudah lengkap. Saat dipakai untuk orang lain, ungkapan ini bisa terdengar tajam; lebih berguna bila menjadi pengingat bagi diri sendiri untuk mencari sudut pandang di luar kebiasaan.

二兎を追う者は一兎をも得ず — Ni to o ou mono wa itto o mo ezu

Arti harfiah: Orang yang mengejar dua kelinci tidak memperoleh seekor pun.

Makna: Terlalu banyak sasaran sekaligus dapat membuat semuanya lepas. Pesannya bukan bahwa seseorang dilarang punya banyak minat, melainkan bahwa pilihan dan fokus diperlukan ketika beberapa tujuan menuntut tenaga pada saat yang sama.

雨降って地固まる — Ame futte ji katamaru

Arti harfiah: Setelah hujan, tanah menjadi padat.

Makna: Kesulitan atau pertengkaran kadang dapat membuat keadaan lebih kuat setelah dihadapi dengan baik. Ungkapan ini cocok untuk suasana yang sudah membaik, bukan untuk mengecilkan masalah yang masih berlangsung.

継続は力なり — Keizoku wa chikara nari

Arti harfiah: Kelanjutan adalah kekuatan.

Makna: Hasil sering datang dari kebiasaan yang dijalankan terus-menerus. Kalimat ini kerap dipakai untuk menyemangati orang yang belajar bahasa, berlatih olahraga, atau mengerjakan keterampilan sedikit demi sedikit.

猫に小判 — Neko ni koban

Arti harfiah: Koin emas untuk kucing.

Makna: Memberikan sesuatu yang bernilai kepada pihak yang tidak dapat menghargainya. Pesannya sejalan dengan “mutiara di hadapan babi”, walaupun citra hewan yang dipakai dalam bahasa Jepang berbeda.

覆水盆に返らず — Fukusui bon ni kaerazu

Arti harfiah: Air yang tumpah tidak kembali ke nampan.

Makna: Ada tindakan atau keputusan yang tidak dapat dikembalikan seperti semula. Karena itu, ungkapan ini dekat dengan gagasan bahwa menyesali sesuatu yang sudah terjadi tidak akan mengubah kenyataan.

残り物には福がある — Nokorimono ni wa fuku ga aru

Arti harfiah: Ada keberuntungan pada barang yang tersisa.

Makna: Yang datang belakangan belum tentu buruk; kadang justru ada rezeki atau hasil baik di sana. Kotowaza ini sering terdengar sebagai penghiburan yang hangat ketika seseorang tidak mendapat pilihan pertama.

見ぬが花 — Minu ga hana

Arti harfiah: Tidak melihat adalah bunga.

Makna: Sesuatu yang belum dilihat dapat terasa lebih indah dalam bayangan. Ungkapan ini berbicara tentang jarak antara harapan dan kenyataan, tanpa harus menyimpulkan bahwa kenyataan selalu mengecewakan.

虎穴に入らずんば虎子を得ず — Koketsu ni irazunba koji o ezu

Arti harfiah: Jika tidak masuk ke sarang harimau, anak harimau tidak akan didapatkan.

Makna: Hasil besar menuntut keberanian mengambil risiko. Risikonya tidak dimuliakan begitu saja: inti ungkapan ini adalah bahwa tujuan sulit tidak selalu bisa dicapai dengan berdiri aman di luar persoalan.

郷に入りては郷に従え — Gō ni irite wa gō ni shitagae

Arti harfiah: Ketika memasuki suatu desa, ikutilah adat desa itu.

Makna: Hormati kebiasaan setempat ketika berada di lingkungan baru. Dalam perjalanan atau pergaulan lintas budaya, pesannya dapat dibaca sebagai ajakan untuk mengamati dulu sebelum menghakimi atau bertindak seenaknya.

蓼食う虫も好き好き — Tade kuu mushi mo sukizuki

Arti harfiah: Bahkan serangga yang memakan tade pun punya seleranya sendiri.

Makna: Selera orang berbeda-beda. Tade dikenal sebagai tanaman berasa tajam, sehingga gambaran ini menekankan bahwa kesukaan yang aneh bagi satu orang bisa saja wajar bagi orang lain.

頭隠して尻隠さず — Atama kakushite shiri kakusazu

Arti harfiah: Menyembunyikan kepala, tetapi tidak menyembunyikan pantat.

Makna: Menutup-nutupi masalah hanya sebagian hingga bagian pentingnya masih terlihat jelas. Ungkapan ini biasanya dipakai ketika usaha menyembunyikan kesalahan justru membuatnya semakin mudah dikenali.

Belajar kotowaza tanpa menghafal secara kaku

Pilih beberapa ungkapan yang gambarnya mudah diingat, lalu perhatikan kapan maknanya cocok dipakai. Misalnya, saru mo ki kara ochiru membantu mengingat bahwa ahli pun bisa salah, sementara hana yori dango mengajarkan pilihan praktis lewat suasana hanami. Dengan cara itu, kanji, bunyi, dan makna tidak terasa sebagai tiga hal terpisah.

Kotowaza tidak perlu dipaksakan ke setiap percakapan. Cukup mengenali nuansanya sudah membuka banyak hal tentang cara bahasa Jepang menyimpan nasihat dalam gambar kecil yang tajam.

Sumber dan tautan berguna

Tentang penulis

Kevin Henrique

Spesialis dengan pengalaman lebih dari 10 tahun dalam budaya Asia, berfokus pada Jepang, Korea, anime, dan game. Otodidak, penulis, dan pelancong yang fokus mengajarkan bahasa Jepang, tips wisata, dan fakta menarik yang mendalam.

Komunitas

Komentar

0 komentar

Belum ada komentar yang diterbitkan dalam bahasa ini.

Kirim komentar

Komentari artikel ini

Memuat pemeriksaan keamanan...

Jangan kirim tautan, embed, atau promosi. Komentar melewati anti-spam dan terjemahan otomatis sebelum tampil.