Apa perbedaan antara pemuda Jepang dan Barat?

Apa perbedaan antara pemuda Jepang dan Barat?

Kebebasan, sekolah, dan usia dewasa: di mana remaja Jepang dan Barat benar-benar berbeda.

Ada orang yang membayangkan remaja Jepang sebagai sosok yang sudah matang: sopan, diam, hampir dewasa sebelum waktunya. Lalu mereka masuk kelas dan melihat sebagian siswa tidur, berteriak, atau berulah — kadang tidak kalah dengan yang terjadi di Barat.

Cobalah pertimbangkan bahwa topik ini bersifat relatif dan tidak mewakili semua pemuda. Kami sepenuhnya menyadari bahwa setiap manusia berbeda satu sama lain. Oleh karena itu, kami membiarkan kata-kata yang dicetak tebal memperkuat bahwa kami tidak merujuk pada semua orang.

Pemuda remaja Jepang sangat berbeda dari Barat sehingga hampir tidak bisa dikenali — bukan karena mereka “lebih dewasa”, melainkan karena aturan mainnya lain.

Siswa SMA Jepang duduk di kelas dengan seragam sekolah

Mereka adalah pemuda dan melakukan hal-hal gila seperti di negara mana pun, meskipun ada perbedaan yang mencolok. Yang berubah bukan apakah remaja bisa nakal, melainkan seberapa cepat kenakalan itu menempel pada nama keluarga, sekolah, dan masa depan kerja.

Daftar isi 4

Perilaku pemuda Jepang vs Barat

Pemuda Barat cenderung lebih lantang, lebih memberontak, dan lebih mudah melakukan apa yang mereka inginkan tanpa memikirkan konsekuensi sosial yang panjang. Dalam budaya Jepang, kasar atau tidak sopan adalah sesuatu yang mengerikan dan membawa konsekuensi negatif baik bagi pemuda maupun seluruh keluarga.

Deretan gerbang torii merah di kuil Fushimi Inari, Kyoto

Remaja di Barat memiliki kebebasan yang jauh lebih besar dalam kehidupan sosial mereka. Di Jepang, satu kesalahan publik bisa merusak kehidupan sosial — dan, belakangan, peluang di pasar kerja — karena reputasi sekolah dan keluarga ikut terseret. Itu tidak berarti remaja Jepang tidak boleh salah; artinya, pandangan orang lain bekerja lebih keras daripada di banyak negara Barat.

Sudah jelas bahwa ada pemuda pemberontak yang berhasil berbuat nakal tanpa langsung hancur. Banyak hal konyol terjadi dalam kehidupan sekolah remaja Jepang, termasuk ijime, perundungan yang justru tumbuh di lingkungan yang kelihatan tertib.

Beberapa pemuda Jepang memiliki kebebasan yang sangat besar dan melakukan apa yang mereka inginkan, hanya berada di rumah pada malam hari. Gaya yankii dan bosozoku bukan mitos: mereka ada, hanya tidak mewakili mayoritas di kereta pagi.

Siswa berkumpul di lapangan saat festival sekolah SMA Kanoya

Remaja Jepang cenderung lebih kekanak-kanakan daripada remaja Barat dalam selera sehari-hari. Mereka menyukai hal-hal lucu, anime, bermain-main, dan memiliki reaksi yang tidak umum di kalangan remaja Barat. Kawaii di sini bukan kegagalan menjadi dewasa; itu bahasa visual yang sudah biasa sejak kecil.

Beberapa pemuda Jepang merasa sangat tidak nyaman saat mengobrol dengan orang dewasa. Mereka diam mendengarkan dan jarang berbicara, kemungkinan untuk menghindari melakukan sesuatu yang salah, tetapi di antara sesama pemuda mereka terbuka.

Siswa Jepang berpose di luar gedung sekolah

Kapan seseorang dianggap dewasa di Jepang?

Ada kebingungan yang masih beredar: di Jepang baru dianggap dewasa setelah usia 20 tahun. Itu dulu benar untuk usia sipil. Sekarang angkanya pecah.

Sejak 1 April 2022, usia dewasa menurut undang-undang perdata Jepang adalah 18 tahun. Minuman beralkohol, rokok, dan perjudian publik tetap dilarang sampai 20.

Pada usia 18, seseorang bisa menandatangani kontrak ponsel, kartu kredit, atau sewa apartemen tanpa izin orang tua — dan ikut menanggung risikonya. Upacara seijin shiki di banyak kota tetap menargetkan usia 20, sebagian karena Januari adalah musim ujian masuk universitas bagi siswa SMA berusia 18 tahun.

Sekolah, klub, dan waktu luang

Di sekolah menengah atas, siswa Jepang cenderung sangat berdedikasi pada studi mereka untuk masuk ke universitas dan pasar kerja. Pada masa itu, segala sesuatu dianggap sangat serius dan rutinitas mereka menjadi sepenuhnya fokus pada studi.

Yang sering tidak kelihatan dari luar adalah dua “sekolah kedua”: bukatsu, klub olahraga atau budaya yang latihan hampir setiap hari, termasuk liburan; dan juku, bimbingan belajar malam menjelang ujian masuk. Bukan semua siswa menjalani keduanya dengan intensitas yang sama, tapi keduanya menjelaskan mengapa sore hari di Jepang jarang terasa kosong seperti di banyak SMA Barat.

Pemuda Jepang cenderung belajar banyak, tetapi di waktu luang mereka keluar berkelompok untuk berbelanja atau pergi ke karaoke. Mereka cenderung mulai menjalin hubungan romantis kemudian, sering baru di SMA — dan bahkan itu tidak berlaku untuk semua sekolah atau semua orang.

Tampaknya remaja Barat lebih mudah merasa unggul dari yang lain, dengan otoritas tertentu, berpikir bahwa mereka bisa melakukan apa pun yang mereka inginkan. Orang Jepang, baik pemuda maupun dewasa, cenderung merendahkan diri di hadapan orang lain sebagai tanda penghormatan dan kerendahan hati. Di kelas, itu kelihatan sebagai diam: menunggu, mencatat, jarang memotong guru.

Pengunjung festival Jepang memakai yukata di area perayaan

Budaya Jepang modern saat ini mendorong individu untuk mengekspresikan diri. Ini bertentangan dengan budaya tradisional yang sangat tidak mendorong individualitas. Ini adalah salah satu alasan mengapa kita tidak boleh mencoba membayangkan bahwa pemuda Jepang mengikuti suatu pola. Gaya seperti gyaru hidup dari ketegangan itu: seragam di siang hari, eksperimen di akhir pekan.

Banyak remaja Jepang juga mengisolasi diri di internet dan media sosial. Percakapan di ponsel di Barat sering terasa lebih panjang dan lebih terbuka. Di Jepang, aplikasi chat yang mengikat remaja adalah LINE — fungsi sosialnya mirip WhatsApp di Indonesia, bukan versi yang jarang dipakai.

Jepang punya reputasi yang saling bertabrakan: di satu sisi stereotip cabul, di sisi lain remaja yang tampak sangat tertutup. Yang lebih jujur adalah pemisahan ruang. Percakapan dengan teman dan kencan remaja sering lebih tertahan daripada di banyak negara Barat; anime dan manga yang menunda ciuman sampai belasan episode adalah fiksi, bukan bukti moral nasional.

Interior kereta Jepang pada jam sibuk dengan penumpang berdiri

Pertimbangan akhir tentang pemuda Jepang dan Barat

Remaja cenderung punya subkultur yang berbeda, di Jepang maupun di Barat. Yankii, gyaru, atau gaya lolita bukan kunci untuk membaca semua pemuda; mereka hanya bukti bahwa pola tunggal tidak ada.

Gaya busana lolita dengan gaun, renda, dan aksesori

Tentu saja ada banyak faktor lain dalam budaya Jepang yang membedakan orang Jepang dari orang Barat. Hal-hal seperti pendidikan, penghormatan, kerendahan hati, dan karakteristik positif ditampilkan dengan baik dalam masyarakat Jepang, bahkan jika beberapa orang menginginkannya atau tidak.

Saya secara pribadi lebih suka hidup dalam masyarakat yang penuh aturan, moral, dan pendidikan yang dipaksakan daripada hidup di negara yang menganjurkan kebebasan berekspresi palsu yang bertanggung jawab atas banyak bencana dan membiarkan kejahatan berkeliaran bebas.

Jepang menawarkan lebih banyak pilihan hiburan yang relatif aman bagi remaja: karaoke, arcade, klub sekolah, festival. Mungkin ini salah satu alasan mengapa banyak pemuda Jepang tidak terlalu tertarik pada hal-hal yang merugikan orang lain secara emosional atau fisik — meski itu bukan jaminan, dan ijime sudah cukup untuk menolak dongeng negara tanpa kekerasan.

Sumber dan tautan berguna

Tentang penulis

Kevin Henrique

Spesialis dengan pengalaman lebih dari 10 tahun dalam budaya Asia, berfokus pada Jepang, Korea, anime, dan game. Otodidak, penulis, dan pelancong yang fokus mengajarkan bahasa Jepang, tips wisata, dan fakta menarik yang mendalam.

Komunitas

Komentar

0 komentar

Belum ada komentar yang diterbitkan dalam bahasa ini.

Kirim komentar

Komentari artikel ini

Memuat pemeriksaan keamanan...

Jangan kirim tautan, embed, atau promosi. Komentar melewati anti-spam dan terjemahan otomatis sebelum tampil.