Yankii, Bosozoku, dan Sukeban: berandalan Jepang yang punya nama sendiri

Yankii, Bosozoku, dan Sukeban: berandalan Jepang yang punya nama sendiri

Dari jongkok yankii sampai knalpot bosozoku — peta tiga nama yang sering tertukar di anime.

Apakah kamu sudah bisa membedakan yankii, bosozoku, dan sukeban? Di Jepang mereka punya nama dan gelar sendiri — bukan sekadar salinan preman dari film Barat.

Ada yang hanya menguasai atap sekolah, ada yang turun ke jalan dengan knalpot berteriak, ada yang memimpin geng cewek dengan aturan lebih ketat daripada yang terlihat di anime. Beberapa bahkan tidak terlihat “jahat” dari rambut atau jaketnya; yang membocorkan identitasnya justru sikap, cara jongkok, dan cara mereka menolak aturan.

Anggota bosozoku dengan jaket tokkō-fuku dan motor yang dimodifikasi
Daftar isi 8

Jenis berandalan di Jepang

Di Jepang, berandalan muda sering disebut yankii (ヤンキー). Kata ini merujuk pada yankee, tapi bukan karena mereka “mencintai Amerika”: kesan kasar, mencolok, dan tidak sopan yang dulu dilekatkan pada gaya Amerika-lah yang menempel. Di Kansai, sekitar 1975, yankii sempat dipakai untuk orang miskin; lalu untuk orang Jepang yang meniru gaya Amerika; akhirnya mengerucut pada remaja pemberontak yang tidak mengikuti norma sekolah.

Film Kamikaze Girls (Shimotsuma Monogatari) masih jadi potret yang enak ditonton kalau kamu ingin merasakan dunia yankii tanpa harus berdiri di depan konbini jam dua pagi.

Ada banyak subkultur, geng, dan sebutan. Di bawah ini beberapa istilah Jepang yang sering tertukar, padahal tidak semuanya berarti “preman” dalam arti yang sama.

Konvoi bosozoku dengan motor mencolok di jalan Jepang
  • Bosozoku — geng pengendara motor liar, “suku di luar kendali”;
  • Bancho (番長) — pemimpin laki-laki dari sekelompok berandalan, biasanya di sekolah;
  • Tsuppari (ツッパリ) — sebutan untuk anak laki-laki nakal pada 1970-an, terutama di kawasan Kanto; yankii lebih kental di Kansai;
  • Sukeban (スケバン / 女番) — pemimpin geng cewek, atau geng itu sendiri;
  • Yakuza — dunia kejahatan terorganisir, bukan geng sekolah;
  • Gyaru — gaya mode yang bisa terlihat agresif, tapi bukan geng kriminal;
  • Hashiriya — secara harfiah “pelari jalanan”, dekat dengan dunia balap liar;
  • Ijime — perundungan di sekolah, bukan nama geng;
  • Furyo (不良) — orang “tidak baik”, label longgar untuk yang menyimpang;
  • Chinpira — yakuza kecil, magang, atau punk yang menempel di pinggiran organisasi.

Cara mengenali yankii dan geng muda

Ciri-cirinya banyak, jadi sulit merangkum semuanya tanpa jadi karikatur. Tetap saja, orang Jepang biasanya mengenali yankii dari perilaku sebelum dari seragam.

Yankii dan subkultur geng lain punya kebiasaan berjongkok dalam posisi yang disebut unko zuwari atau yanki zuwari: pantat menempel lantai, kaki terbuka, dada maju — sikap yang kelihatan malas dan menantang sekaligus. Kalau kamu pernah menonton anime berlatar sekolah “kasar”, pose itu hampir pasti muncul.

Remaja yankii berjongkok dengan seragam diubah dan rambut mencolok

Yang mengikuti budaya ini sering memakai bandana, masker bedah, anting, dan perhiasan berlebihan. Celana dimasukkan ke sepatu bot atau dililit di lutut. Ada yang sengaja memamerkan bekas luka atau tato supaya terlihat keras.

Cewek berandalan biasanya merusak seragam sekolah: selongsong digulung, syal, kaus kaki longgar. Sukeban klasik justru memanjangkan rok sampai hampir mata kaki — bukan memendekkannya — sebagai penolakan terhadap miniskirt tahun 1960-an. Rok sangat pendek lebih sering milik gaya lain, misalnya gyaru atau seragam yang diubah belakangan.

Perilakunya sesuai dugaan: suka berkelahi, merusak ketenangan, dan tidak akur dengan aturan. Minat yang sering muncul: bisbol, motor, tinju, dan bela diri. Tapi seseorang tidak harus berdandan seperti itu untuk dianggap berandalan. Sikapnya yang lebih dulu ketahuan.

Adegan ketegangan di sekolah Jepang yang sering dikaitkan dengan ijime

Yakuza biasanya tidak akur dengan berandalan muda. Mereka menganggap diri profesional; pemuda itu, di mata mereka, hanya ingin terlihat seperti punk. Hubungan keduanya ada — sebagian rekrut yakuza pernah lewat bosozoku — tapi menyamakan yankii dengan yakuza sama saja mencampur preman sekolah dengan organisasi yang punya hierarki dan wilayah.

Orang yang baik dan ramah pun bisa kena label furyo (不良) di Jepang: cukup tidak mematuhi aturan, sulit hidup bersama orang lain, atau kelihatan “berbeda”. Terjemahannya longgar — buruk, inferior, nakal — dan itu menjelaskan mengapa kata “pelaku kriminal” terasa berlebihan untuk sebagian dari mereka. Ijime di sekolah, misalnya, bisa kejam tanpa ada geng bermotor di belakangnya.

Bosozoku — suku motor yang tidak terkendali

Bosozoku (暴走族) secara harfiah berarti “suku di luar kendali”. Negara yang sering digambarkan sebagai tertib dan penuh tata krama ini memang punya subkultur yang keliling malam, merusak ketenangan, dan membuat polisi kesal. Ini citra pengendara motor yang mengaku punya tujuan mulia — dan motornya sendiri sudah berteriak lebih dulu.

Mereka memodifikasi kendaraan, menerobos aturan lalu lintas, dan sebagian punya tautan longgar ke yakuza. Bukan klub touring biasa.

Kelompok bosozoku berkumpul di malam hari dengan motor kaizōsha

Asal-usul dan aktivitas bosozoku

Istilah ini menempel pada 1970-an, tapi benihnya sudah ada di 1950-an, ketika Jepang pulih dari perang dan industri otomotif tumbuh. Pemuda kelas bawah — dan, dalam versi awal, veteran yang sulit kembali ke hidup biasa — berkumpul untuk menyalurkan ketidakpuasan. Mereka dulu disebut kaminari zoku, suku guruh, karena knalpotnya.

Motivasi dasarnya pemberontakan terhadap norma. Karena banyak anggotanya masih di bawah usia dewasa pada masa itu — di Jepang, dewasa sipil baru bergeser dari 20 ke 18 tahun pada 2022 — sebagian ikut hanya supaya punya kelompok, bukan karena ideologi. Kebutuhan remaja untuk “masuk geng” itu nyata. Tapi pada 1980-an dan 1990-an mereka terkenal karena vandalisme dan bentrok dengan polisi, bukan karena klub motor ramah lingkungan.

Detail motor bosozoku dengan stang shibori, knalpot, dan cat mencolok

Mereka mengaku berbuat onar demi tujuan yang terdengar keren. Saya sendiri sulit bersimpati pada orang yang merusak jalan orang lain lalu menyebutnya perjuangan. Mungkin terdengar keras, tapi lebih jujur daripada meromantisasi knalpot.

Pada 1982 tercatat 42.510 bosozoku. Mereka biasa turun dalam jumlah besar: mencari masalah, membuat bising, melanggar lalu lintas, balapan, menarik perhatian. Polisi Jepang kadang menyebut mereka maru-sō.

Bosozoku menganggap diri semacam keluarga dan memegang prinsip yang mereka bandingkan dengan yakuza — meski yakuza sendiri sering meremehkan mereka.

Cara berpakaian bosozoku

Seragamnya mirip pakaian kerja buruh atau tokkō-fuku (特攻服), mantel bergaya militer dengan slogan kanji di punggung, kadang bendera matahari terbit. Celana longgar, sepatu bot tinggi, hachimaki, masker, kacamata hitam. Motornya dihias sampai menyerupai parade: stang ditekuk ke dalam (shibori), knalpot shugo, cat menyala, jok dan fairing ditinggikan. Kendaraan itu disebut kaizōsha.

Sejak 2004, revisi undang-undang lalu lintas memberi polisi lebih banyak ruang untuk menangkap konvoi ugal-ugalan di tempat. Dari lebih dari 40.000 anggota pada 1982, jumlahnya sudah di bawah 10.000 pada pertengahan 2000-an; pada awal 2010-an tinggal sekitar 9.000, lalu terus menyusut. Kini mereka lebih sering tampil dalam kelompok kecil, kadang naik skuter, bukan motor raksasa yang dulu memenuhi jalan tol malam tahun baru.

Tetangga masih bisa kesal dengan bising malam. Anime, drama, dan film Jepang tetap memelihara citra itu. Gangguan sehari-hari dunia modern — plus uang yang lebih mudah habis untuk game dan kamar sendiri — dianggap ikut menahan anak muda dari geng motor. Dari geng yang ditakuti, bosozoku berubah jadi kelompok kecil yang masih berisik, masih punya tujuan mereka, tapi jauh dari puncak 1982.

Sukeban dengan seragam sekolah dan rok panjang khas geng cewek Jepang
Sukeban — geng cewek Jepang

Sukeban — geng cewek Jepang

Sukeban [スケバン / 女番] merujuk pada pemimpin geng berandalan perempuan — dan, dalam pemakaian sehari-hari, pada geng itu sendiri. Kelompok semacam ini ramai di abad lalu. Sekarang hampir tinggal stereotip dan mode.

Istilah ini muncul pada akhir 1960-an. Yakuza dan geng laki-laki hampir tidak membuka pintu untuk perempuan, jadi mereka membuat kelompok sendiri. Hari ini sukeban lebih sering jadi kostum atau karakter; dulu bukan hanya itu.

Jake Adelstein, penulis yang lama mengamati kejahatan di Jepang, pernah mengomentari kemunculan sukeban. Di dunia yakuza, perempuan hampir tidak punya wewenang. Bahwa geng cewek sempat ada, katanya, sudah aneh di budaya menyimpang yang didominasi laki-laki. Dunia sedang berbicara tentang feminisme dan pembebasan; mungkin mereka merasa punya hak yang sama untuk memberontak — termasuk hak untuk bodoh, berisiko, dan kasar seperti lawan jenisnya.

Beberapa kelompok berandalan Jepang berkumpul, termasuk yankii dan sukeban
Geng berbeda bisa bertemu di jalan yang sama

Gaya hidup sukeban

Tidak seperti banyak geng laki-laki yang sibuk tawuran antar wilayah, sukeban memegang kode yang lebih rapi. Tiap kelompok punya hierarki dan cara menghukum. Mereka mempertahankan nilai moral versi mereka sendiri — konservatif dalam urusan pacaran, keras dalam urusan pengkhianatan.

Ciri visualnya: rambut diwarnai atau dikeriting mencolok, alis tipis, riasan sedikit. Seragam sekolah hampir selalu dipakai, tapi diubah. Pakaian seksi dan makeup tebal justru tidak disetujui. Rok dipanjangkan, lengan digulung, kaus kadang dipotong di pinggang, sepatu diganti sneakers. Kalau kamu heran mengapa rok sekolah Jepang sering dibicarakan terlalu pendek, sukeban justru jalan ke arah sebaliknya.

Awalnya kelompok kecil: membawa pisau dan rokok ke sekolah. Lalu jumlah dan tingkat kejahatannya naik. Banyak geng berisi 50 sampai 80 orang. Aliansi perempuan Kanto dikabarkan mengklaim sekitar 20 ribu anggota — angka yang lebih sering hidup sebagai rumor zaman itu daripada sensus resmi.

Puncaknya di 1970-an. Kelompok yang paling ditakuti dalam cerita urban disebut K-Ko the Razor, dari Saitama. Nama itu merujuk pada silet yang mereka sembunyikan, konon digulung kain dan diselipkan di dada. Tidak ada geng lain yang selegendaris itu, dan justru karena itu sulit memisahkan fakta dari dongeng jalanan.

Dua sukeban berjalan dengan seragam diubah dan rok panjang

Aturan, hukuman, dan jejak di media

Melanggar aturan geng bisa berujung “linchamento” — hukuman berlapis. Yang dianggap ringan: rokok dipadamkan di kulit. Yang lebih kejam: rokok menyala di bagian intim. Penyebabnya beragam: tidak hormat pada senior, bicara dengan musuh, ketahuan memakai obat. Alasan yang paling sering disebut: mengganggu lawan jenis atau mengkhianati pacar.

Gadis-gadis ini sering bertindak dan tampak lebih tua dari usia mereka. Fakta yang mengejutkan banyak orang luar: mereka konservatif soal kencan, romansa, dan seks. Seiring waktu geng-geng itu menyusut, dan anggotanya masuk kembali ke masyarakat biasa.

Media tidak membiarkan jejaknya hilang. Film Pinky Violence, manga seperti Sukeban Deka dan Hana no Asuka-gumi!, anime, bahkan permainan, terus meminjam seragam, silet, dan hierarki itu. Sampai hari ini pengaruhnya kelihatan di budaya pop — lebih sering di layar daripada di persimpangan sekolah.

Sumber dan tautan berguna

Tentang penulis

Kevin Henrique

Spesialis dengan pengalaman lebih dari 10 tahun dalam budaya Asia, berfokus pada Jepang, Korea, anime, dan game. Otodidak, penulis, dan pelancong yang fokus mengajarkan bahasa Jepang, tips wisata, dan fakta menarik yang mendalam.

Komunitas

Komentar

0 komentar

Belum ada komentar yang diterbitkan dalam bahasa ini.

Kirim komentar

Komentari artikel ini

Memuat pemeriksaan keamanan...

Jangan kirim tautan, embed, atau promosi. Komentar melewati anti-spam dan terjemahan otomatis sebelum tampil.