Jepang atau Inggris? Mana yang harus dipelajari? Mana yang lebih sulit?

Jepang atau Inggris? Mana yang harus dipelajari? Mana yang lebih sulit?

Untuk penutur bahasa Indonesia, pertanyaan ini jarang soal jumlah penutur — lebih sering soal lidah, kanji, dan alasan...

Bahasa Jepang? Mengapa bahasa yang begitu tidak berguna? Mengapa bukan bahasa Inggris, Mandarin, atau yang kelihatan lebih aman di CV? Itulah salah satu jawaban yang sering muncul begitu Anda bilang, “Saya sedang belajar bahasa Jepang.”

Bagi banyak orang, bahasa Inggris seolah tidak tergantikan. Padahal, untuk lidah yang sudah terbiasa dengan vokal bahasa Indonesia, bunyi bahasa Jepang sering lebih ramah daripada ejaan bahasa Inggris. Yang berat biasanya bukan percakapannya — melainkan tulisannya.

Daftar isi 5

Bahasa Jepang bisa terasa lebih mudah daripada bahasa Inggris

Saya pribadi merasa bahasa Jepang lebih mudah daripada bahasa Inggris. Sebagian orang langsung tersentak, seolah itu omong kosong. Tapi “sulit” selalu diukur dari bahasa ibu, bukan dari piala di internet.

Untuk penutur asli bahasa Inggris, Foreign Service Institute Amerika Serikat menempatkan bahasa Jepang di kelompok tersulit: sekitar 88 minggu, atau 2.200 jam kelas, sampai tingkat kerja profesional. Peringkat itu dihitung dari bahasa Inggris. Bukan dari bahasa Indonesia. Dalam daftar yang sama, bahasa Indonesia sendiri jauh lebih ringan bagi penutur Inggris daripada bahasa Jepang — bukti bahwa peringkat itu tidak bisa disalin mentah ke lidah kita.

Bahasa Indonesia menulis vokal secara relatif lurus: a, i, u, e, o. Bahasa Jepang juga berangkat dari lima vokal yang mapan, dan suku katanya cenderung dilafalkan dengan satu cara. Bahasa Inggris, sebaliknya, menulis through, though, dan thought dengan logika yang tidak selalu kelihatan di kertas. Kalau yang menakutkan adalah pengucapan, banyak penutur Indonesia justru tersandung di bahasa Inggris, bukan di nihongo.

Kesulitan bahasa Jepang yang paling nyata ada di tulisan: hiragana, katakana, lalu kanji sehari-hari yang jumlahnya sekitar dua ribu. Itu pekerjaan panjang. Selebihnya, bahasa ini sering terasa lebih lurus: tidak ada jamak wajib seperti -s, verba tidak berubah menurut saya/kamu/dia, dan partikel menandai peran kata dalam kalimat. Yang tetap menuntut latihan adalah tingkat formalitas — keigo — bukan konjugasi orang seperti dalam bahasa Inggris.

Tentu saja ada orang yang menguasai bahasa Inggris lebih cepat, terutama kalau sekolah dan kantor memaksa setiap hari. Itu bukan bukti bahasa Inggris “lebih mudah”. Itu bukti paparan. Banyak orang Jepang pun, setelah bertahun-tahun pelajaran sekolah, tetap grogi berbicara bahasa Inggris — persis seperti banyak dari kita yang hafal rumus, tapi bungkam begitu harus memesan makanan.

Wanita Jepang memakai syal kotak-kotak di malam hari dengan lampu buram di latar

Tata bahasa Inggris memang lebih sederhana daripada banyak bahasa Eropa. Bahasa Jepang, di sisi lain, memotong beban yang biasa membuat pelajar pusing: tidak ada gender nomina, tidak perlu mencocokkan verba dengan subjek. Begitu kana sudah masuk, membaca teks sederhana justru terasa seperti merakit suku kata, bukan menebak ejaan.

Cara bahasa Jepang merangkai makna sering lebih hemat: subjek dan objek bisa dihilangkan kalau konteksnya sudah jelas. Bukan karena orang Jepang “berpikir lebih sederhana”, melainkan karena bahasanya percaya pada situasi. Itu terasa aneh di awal, lalu terasa ringan.

Keuntungan mempelajari bahasa Jepang dan bahasa Inggris

Tidak harus memilih satu lalu mengubur yang lain. Banyak kata Jepang modern datang dari bahasa Inggris dan ditulis dengan katakana: itu jembatan, bukan pengkhianatan. Ribuan gairaigo semacam テーブル (tēburu, table) atau インターネット (intānetto, internet) membuat kosakata kedua bahasa saling mengisi.

Pengaruh itu tidak hanya dari bahasa Inggris. Ada juga jejak Portugis, Prancis, dan bahasa lain dalam kosakata Jepang. Kalau Anda sudah terbiasa dengan kata serapan di bahasa Indonesia, telinga sudah dilatih untuk menelan bunyi asing lalu menyesuaikannya.

Awan kata nama-nama bahasa seperti English, Spanish, French, dan Chinese

Bahasa Inggris tetap membuka pintu: makalah, antarmuka perangkat lunak, wawancara kerja, bandara. Bahasa Jepang membuka pintu yang lain: perusahaan Jepang, beasiswa, komik yang belum diterjemahkan, percakapan yang tidak lewat subtitle. Mempelajari keduanya bukan pemborosan. Yang satu menolong yang lain, terutama ketika katakana dan kata serapan mulai kelihatan polanya.

Jangan belajar bahasa karena kewajiban

Tanyakan kepada seseorang yang sedang belajar bahasa Inggris alasan mereka mempelajarinya. Jawaban yang sering muncul kira-kira seperti ini:

  • Karena ingin mendapat pekerjaan yang lebih baik;
  • Karena harus masuk universitas;
  • Karena orang tua memaksa;
  • Karena ini bahasa yang “berguna”;
  • Karena ini bahasa yang paling banyak dipakai di dunia.

Kalau Anda perhatikan, alasan-alasan itu hampir semuanya eksternal. Motivasi tidak lahir dari dalam. Orang-orang ini belajar karena kewajiban. Itulah sebabnya banyak yang mencoba bahasa Inggris lalu berhenti di tengah jalan: kurang keinginan, kurang usaha yang bertahan, kurang alasan untuk membuka buku lagi besok pagi.

Yang mempelajari bahasa Jepang biasanya datang dengan alasan seperti ini:

  • Karena suka anime;
  • Karena tertarik pada budayanya;
  • Karena bahasanya terasa menarik;
  • Karena ingin memahami RPG dan novel dalam bahasa aslinya;
  • Karena punya pacar orang Jepang;
  • Karena suka J-pop atau Vocaloid.

Alasan-alasan ini terdengar konyol bagi orang yang hanya menghitung jumlah penutur. Padahal justru di situlah tenaganya: perasaan yang kuat, motivasi internal. “Suka” di sini lebih dalam daripada yang kelihatan. Saya percaya kata itu bisa mendekati “cinta”, hanya saja intensitasnya tidak selalu diucapkan sekeras itu.

Tulisan hiragana んだと?! dengan tanda tanya dan seru

Orang-orang dengan alasan seperti itu lebih sering bertahan. Jadi pelajari apa yang Anda inginkan, bukan apa yang orang lain katakan harus Anda pelajari. Saya juga sangat menyukai kalimat guru bahasa Korea 바보 (AiLeen):

“Jika dorongan untuk melakukan sesuatu itu tulus dan berasal dari dalam ke luar, peluang usaha tersebut menjadi sukses meningkat secara eksponensial!”

Tidak ada bahasa yang tidak berguna

Orang-orang bilang bahasa Jepang tidak berguna, tidak akan menolong apa pun. Itu absurd. Tidak ada bahasa yang sia-sia hanya karena penuturnya lebih sedikit daripada bahasa Inggris.

Ambil bahasa Katalan. Jumlah penuturnya sekitar 9 sampai 10 juta orang — bukan 11 juta, dan bukan “bahasa yang menguasai banyak wilayah Eropa”. Bahasa Roman ini dipakai di Catalunya, Valencia, Kepulauan Balear, dan Andorra; juga di Pyrénées-Orientales di Prancis (Catalunya Utara) serta di Alghero, Sardinia. Dengan Katalan Anda bisa hidup di Barcelona tanpa terus-menerus berpindah ke bahasa Spanyol, membaca pers lokal, dan masuk ke percakapan yang tidak selalu tersedia dalam bahasa Inggris.

Wanita membaca buku di bangku kereta dengan jendela terang di belakangnya

Untuk mempelajari suatu bahasa, alasan yang dalam tetap lebih penting daripada peta penutur. Dengan bahasa Jepang Anda bisa bersaing untuk beasiswa dan kuliah di Jepang. Itu bukan “hobi anime yang terbuang”. Itu jalur yang konkret.

Bahasa Inggris tetap tidak tergantikan di banyak pintu. Yang bermasalah adalah mempelajarinya hanya karena malu kalau tidak bisa, lalu membenci prosesnya. Kalau Anda tidak menyukai bahasa Inggris, hasilnya jarang bertahan. Kalau Anda menyukai bahasa Jepang, jam belajar itu terasa lebih murah.

Pada akhirnya, tidak peduli berapa juta orang berbicara bahasa itu. Motivasi yang kuat cukup untuk membuat Anda kembali ke meja besok. Selamat belajar.

Dari mana memulai?

Kalau Anda masih ragu, atau tidak tahu harus memegang apa dulu, mulailah dari jalur yang sudah ada di sini — tanpa harus membeli kursus hanya karena harganya kelihatan “murah”.

Ada 50 tips praktis untuk belajar bahasa Jepang, dari kana sampai mitra percakapan. Kalau Anda ingin peta metode, lihat juga 11 metode belajar bahasa Jepang. Untuk kanji, partikel, dan keigo yang sering bikin pemula berhenti, ada daftar 10 kesulitan yang paling sering menghambat.

Dan kalau anggaran sedang ketat, kumpulkan dulu situs gratis: kamus, latihan, dan bahan bacaan di 30 situs untuk belajar bahasa Jepang. Tulisan, anime, dan lagu baru berguna setelah telinga sudah punya alasan untuk kembali besok.

Sumber dan tautan berguna

Tentang penulis

Kevin Henrique

Spesialis dengan pengalaman lebih dari 10 tahun dalam budaya Asia, berfokus pada Jepang, Korea, anime, dan game. Otodidak, penulis, dan pelancong yang fokus mengajarkan bahasa Jepang, tips wisata, dan fakta menarik yang mendalam.

Komunitas

Komentar

0 komentar

Belum ada komentar yang diterbitkan dalam bahasa ini.

Kirim komentar

Komentari artikel ini

Memuat pemeriksaan keamanan...

Jangan kirim tautan, embed, atau promosi. Komentar melewati anti-spam dan terjemahan otomatis sebelum tampil.