Hal-hal yang tidak Anda ketahui tentang olahraga di Jepang

Dari bukatsu dan kendo hingga sumo, NPB, dan Nenrinpics: apa yang benar-benar membentuk olahraga Jepang di luar klise.

Ketika Anda memikirkan olahraga di Jepang, biasanya ada dua gambaran yang muncul lebih dulu: dunia seremonial Sumo (相撲) dan stadion-stadion terang dari liga profesional negara ini. Keduanya nyata, tetapi bersama-sama hanya menceritakan sebagian kecil cerita. Budaya olahraga Jepang terjalin erat dengan sistem sekolah, klub-klub ekstrakurikuler yang disebut Bukatsu (部活), dan tradisi seni bela diri berusia berabad-abad di bawah payung Budō (武道). Untuk benar-benar memahami olahraga di Jepang, Anda perlu melihat sudut-sudut yang kurang jelas ini juga.

Adegan kendo di Jepang: dua kendoka mengenakan pelindung lengkap (bōgu) sedang bertanding
Kendo (剣道), “jalan pedang”, adalah salah satu seni bela diri paling populer di sekolah-sekolah Jepang.

Daftar di bawah ini tidak dimaksudkan untuk menjadi daftar yang lengkap. Ini adalah kumpulan keunikan yang masih bisa Anda amati dalam keseharian atlet Jepang. Beberapa akan mengejutkan Anda, yang lain hanya akan menegaskan apa yang sudah Anda duga. Satu catatan penting yang perlu diucapkan secara terbuka: kebiasaan bervariasi menurut wilayah, kelompok usia, dan zaman, dan beberapa tradisi yang dijelaskan di sini perlahan-lahan berubah.

Budaya Sekolah dan Bukatsu: tempat dimulainya budaya olahraga Jepang

Percakapan yang jujur tentang olahraga di Jepang harus dimulai dari sistem sekolah. Kegiatan ekstrakurikuler yang dijalankan sekolah-sekolah Jepang disebut Bukatsu (部活), dan itu jauh lebih dari sekadar hobi sepulang sekolah. Siswa sering berlatih setiap hari setelah kelas, di akhir pekan, dan selama liburan sekolah. Partisipasi biasanya bukan pilihan; di banyak sekolah menengah, keikutsertaan pada klub tertentu hampir menjadi kewajiban. Ada juga festival olahraga sekolah tahunan bernama Undōkai (運動会) yang mempertandingkan kelas-kelas satu sama lain dalam lomba estafet, tarik tambang, dan tarian kelompok.

Kendo dan budaya respek dalam bilik latihan

Di antara seni bela diri yang diajarkan di sekolah, Kendo (剣道) menempati tempat khusus. Bilik latihan atau dōjō (道場) memiliki hierarki yang sangat jelas: senior (sempai, 先輩) dan yunior (kōhai, 後輩) berinteraksi dengan formalitas tertentu, dan setiap sesi dimulai serta diakhiri dengan hormat kepada sang guru. Pelatih sering meneriakkan nama serangan — men (面, pukul kepala), kote (小手, pukul pergelangan), (胴, pukul badan) — dan satu poin yang sah adalah hasil dari ketepatan, keseimbangan, dan semangat (kiai, 気合) yang tampil dalam satu gerakan.

Yakyū sebagai ritus sekolah

Bisbol (野球, yakyū) di Jepang sudah menjadi bagian dari ritus sekolah. Sejak 1915, turnamen nasional Koshien (甲子園) menjadi panggung yang lebih dari sekadar kompetisi: ini adalah ujian karakter. Sekolah-sekolah yang lolos ke Koshien sering kali dianggap mewakili kota atau prefektur mereka, dan pemain yang kalah sering menangis di atas tanah sambil berteriak bahwa mereka akan kembali tahun depan. Drama kecil itulah yang membuat turnamen ini menjadi tontonan nasional, dengan setiap pertandingan disiarkan langsung ke seluruh Jepang.

Seni Bela Diri: di bawah payung Budō

Seni bela diri Jepang modern sering dikelompokkan di bawah istilah Budō (武道) — “jalan perang” — yang membedakan diri dari teknik beladiri murni karena unsur etika, etiket, dan pengembangan diri. Setelah Restorasi Meiji, banyak aliran kuno (koryū) yang bertransformasi menjadi disiplin modern; beberapa yang paling dikenal adalah:

Jūdō (柔道)

Jūdō, “jalan kelembutan”, diciptakan oleh Jigorō Kanō pada 1882 dengan menggabungkan teknik-teknik dari berbagai aliran jujutsu. Filosofi intinya adalah menggunakan kekuatan lawan untuk mengalahkannya, dan dalam praktiknya, Jūdō melatih lemparan, kuncian, dan strategi di atas matras (tatami, 畳). Jepang adalah salah satu kekuatan tradisional dalam Jūdō dunia, dan sekolah-sekolah tetap memasukkan Jūdō sebagai olahraga wajib atau pilihan.

Kendo (剣道)

Yang sudah kita bahas di atas: Kendo tetap populer baik di sekolah maupun di dōjō komunitas. Perlengkapan pelindung (bōgu, 防具) menutupi kepala, badan, tangan, dan pinggul, dan serangan penuh ke target yang sah harus dilakukan dengan shinai (竹刀), pedang bambu yang fleksibel.

Kyūdō (弓道)

Kyūdō, “jalan busur”, adalah seni memanah tradisional Jepang yang menekankan postur, pernapasan, dan ketenangan batin. Dalam busur Jepang (yumi, 弓), yang panjangnya bisa lebih dari dua meter, pemanah membidik dengan satu mata terbuka. Kyūdō diajarkan di banyak sekolah dan menjadi cara yang tenang untuk memperkenalkan anak muda pada konsentrasi.

Aikidō dan Karate

Aikidō (合気道) berfokus pada redirection energi lawan menjadi gerakan lempar atau kuncian, bukan pada serangan langsung. Karate (空手) berasal dari Okinawa dan menekankan pukulan, tendangan, dan kuda-kuda; karate menjadi salah satu olahraga dengan pertumbuhan paling cepat di sekolah-sekolah Jepang sejak diperkenalkan secara luas pada abad ke-20.

Sumo sebagai Olahraga Nasional

Di atas dohyo (ring tanah liat), Sumo (相撲) bukan sekadar pertandingan. Ini adalah ritual yang membawa jejak Shinto, di mana para pegulat menaburkan garam untuk memurnikan area, dan wasit (gyōji, 行司) mengenakan kostum yang menyerupai pendeta kuil. Ada sekitar enam honbasho (本場所) atau turnamen besar setiap tahun, dan setiap turnamen berlangsung selama lima belas hari dengan satu pertarungan per hari untuk setiap pegulat.

Rutinitas makan pegulat sumo

Pegulat sumo hanya makan dua kali sehari: satu kali tepat setelah latihan pagi, dan satu kali lagi di malam hari, setelah latihan sore. Hidangan utamanya adalah chanko-nabe (ちゃんこ鍋), semacam hot pot yang penuh dengan daging, ikan, dan sayuran. Tujuannya adalah kalori yang diserap selalu melebihi kalori yang hilang dalam latihan, sehingga berat badan tetap besar. Pola makan ini sudah melekat pada gaya hidup heya (部屋), sekolah sumo tempat para pegulat tinggal dan berlatih bersama.

Mawashi dan Kamizumo

Mawashi (まわし), celana khusus yang dipakai pegulat sumo, biasanya tidak dicuci. Mereka hanya dijemur: mencuci diyakini melemahkan kain, dan di beberapa heya kain yang sudah lama dipercaya membawa hoki. Ada juga permainan rakyat bernama kamizumo (紙相撲) — “sumo kertas” — di mana boneka pegulat dari kertas diletakkan di atas lingkaran pada kotak kardus, dan pemain mengetuk sisi kotak untuk menjatuhkan lawannya keluar dari lingkaran. Tradisi kecil ini sering dimainkan saat festival anak-anak di musim panas.

Olahraga Profesional: NPB, J.League, dan Liga Wanita

Selain Sumo, Jepang punya ekosistem olahraga profesional yang sudah matang, dengan basis penggemar yang fanatik. Beberapa liga yang patut Anda ketahui:

NPB dan Koshien

NPB (日本プロ野球機構, Nippon Professional Baseball) adalah liga bisbol profesional utama, terbagi menjadi dua liga: Pacific League dan Central League, masing-masing dengan enam tim. Yang membedakan bisbol Jepang dari liga lain adalah kultur penontonnya: penggemar setiap tim menyanyikan lagu kebangsaan tim dengan iringan terompet dan drum taiko (太鼓), dan menerbangkan balon ke udara secara serempak. Pada akhirnya, setiap musim diakhiri dengan Japan Series, final nasional yang mempertandingkan juara dari kedua liga.

J.League dan sepak bola

Liga sepak bola profesional, J.League (Jリーグ), didirikan pada 1993 dan memicu kebangkitan sepak bola di Jepang. Tim-tim papan atas seperti Urawa Reds, Kashima Antlers, dan Yokohama F. Marinos memiliki pendukung tetap di tribune utara dan selatan, dengan nyanyian, flare, dan koreografi yang terorganisir. Dalam konteks Asia Timur, Jepang dianggap sebagai salah satu kekuatan utama, dan tim nasionalnya sering menjadi sorotan di Piala Asia dan turnamen internasional.

Liga wanita dan Nadeshiko

Tim nasional sepak bola wanita Jepang dijuluki Nadeshiko (なでしこ), mengambil nama dari bunga yang dianggap lambang keindahan Jepang. Pada 2011, tim ini memenangkan Piala Dunia Wanita FIFA, sebuah pencapaian yang mengubah cara banyak orang memandang olahraga wanita di negara itu. Sejak saat itu liga profesional wanita, WE League, didirikan untuk memperluas basis pemain dan penggemar.

Anime olahraga dan pengaruhnya

Pengaruh anime dan manga terhadap olahraga Jepang tidak bisa dianggap remeh. Serial seperti Captain Tsubasa (キャプテン翼) membuat sepak bola menjadi obsesi anak-anak pada 1980-an; Slam Dunk (スラムダンク) memperkenalkan basket ke generasi baru; dan Haikyū!! (ハイキュー!!) membangkitkan kembali minat terhadap voli sekolah. Banyak atlet profesional Jepang mengakui bahwa mereka mulai berlatih karena terinspirasi dari anime, dan genre anime olahraga masih menjadi salah satu yang paling populer hingga sekarang.

Tradisi dan Keunikan Lainnya

Ada beberapa tradisi yang jarang muncul di permukaan, tetapi layak untuk diketahui ketika Anda ingin memahami lapisan budaya olahraga Jepang yang lebih dalam.

Kemari, permainan istana kuno

Kemari (蹴鞠) adalah permainan kuno dari periode Heian (794–1185) yang dimainkan oleh bangsawan istana. Pemain mengoper bola kulit (mari, 鞠) satu sama lain dengan kaki, berusaha menjaga bola tetap di udara tanpa menyentuhnya dengan tangan. Meskipun tidak lagi populer sebagai kompetisi, kemari masih dipertunjukkan di beberapa kuil dan acara budaya, menjadi pengingat bahwa hubungan orang Jepang dengan olahraga tidak selalu tentang menang dan kalah, tetapi juga tentang keanggunan.

Nenrinpics: olimpiade untuk usia 60 tahun ke atas

Sejak 1988, Jepang mengadakan acara tahunan yang disebut Nenrinpics (ねんりんピック) — gabungan kata nenrin (“cincin usia pohon”, simbol tahun kehidupan) dengan “Olimpiade”. Acara ini berlangsung selama beberapa hari dan mempertandingkan atlet berusia 60 tahun ke atas dalam tenis, maraton, kendo, tenis meja, shogi, dan bahkan haiku. Setiap prefektur menjadi tuan rumah secara bergilir, dan acara ini menjadi cara untuk merayakan penuaan aktif.

Nakizumo: bayi menangis di pangkuan pegulat

Di beberapa kuil, ada festival bernama Nakizumo (泣き相撲) di mana dua bayi diletakkan di atas dohyo mini, dan pegulat sumo berdiri di dekatnya. Tujuan “pertandingan” ini bukan siapa yang menang, melainkan siapa yang membuat bayi menangis paling keras — tangisan dianggap pertanda kesehatan dan kekuatan hidup. Festival ini tampak lucu, tetapi di baliknya ada keyakinan bahwa suara bayi yang menangis mengusir roh jahat.

Olahraga di Jepang adalah campuran unik antara disiplin tradisional dan semangat modern. Anda akan menemukan Sumo yang berusia berabad-abad hidup berdampingan dengan liga profesional yang sangat terstruktur, kendo yang mengajarkan etika hidup, dan anime yang membentuk generasi baru penggemar. Jika Anda ingin melihat lebih banyak sudut budaya Jepang, lihat juga artikel kami tentang nama olahraga dalam bahasa Jepang dan olahraga yang paling disukai orang Jepang. Dari Sumo hingga voli sekolah, setiap olahraga membawa cerita yang lebih luas tentang bagaimana Jepang memahami tubuh, disiplin, dan kebersamaan. Kalau Anda sudah pernah menonton pertandingan langsung di Jepang, mana yang paling berkesan?

Kevin Henrique

Tentang penulis: Kevin Henrique

Spesialis dengan pengalaman lebih dari 10 tahun dalam budaya Asia, berfokus pada Jepang, Korea, anime, dan game. Otodidak, penulis, dan pelancong yang fokus mengajarkan bahasa Jepang, tips wisata, dan fakta menarik yang mendalam.

Komunitas

Komentar

0 komentar

Belum ada komentar yang diterbitkan dalam bahasa ini.

Kirim komentar

Komentari artikel ini

Memuat pemeriksaan keamanan...

Jangan kirim tautan, embed, atau promosi. Komentar melewati anti-spam dan terjemahan otomatis sebelum tampil.