Apakah ada prasangka terhadap jenis dan warna rambut di Jepang?

Apakah ada prasangka terhadap jenis dan warna rambut di Jepang?

Hitam di seragam, warna di Harajuku

Karena genetika, kebanyakan orang Jepang lahir dengan rambut hitam lurus. Dari situ orang luar sering bertanya-tanya: rambut keriting, ikal, cokelat, pirang, atau yang diwarnai — apakah itu dianggap aneh di Jepang?

Pepatah lama 出る杭は打たれる (deru kui wa utareru) — paku yang menonjol akan dipukul — masih terdengar keras di seragam sekolah. Di Harajuku, visual kei dan gyaru, rambut justru jadi tempat untuk beda. Dua wajah itu hidup berdampingan, dan itulah yang membuat topik ini terasa bertentangan.

Lima siswi SMA Jepang berseragam dengan rambut hitam lurus
Daftar isi 4

Di sekolah, rambut hitam hampir jadi seragam

Banyak sekolah menengah di Jepang mengatur potongan, warna, dan apakah rambut boleh dikeriting. Aturan itu masuk dalam apa yang sering disebut ブラック校則 (burakku kōsoku): peraturan sekolah yang ketat sampai ke detail penampilan. Tujuannya, menurut pihak sekolah, agar siswa fokus belajar dan tidak terlalu mencolok.

Masalahnya muncul ketika rambut alami siswa bukan hitam lurus. Ada yang lahir dengan cokelat, gelombang, atau tekstur yang dianggap “sudah dicat”. Beberapa sekolah lalu memerintahkan pengecatan menjadi hitam. Pada 2017, pemberitaan Asahi Shimbun di Tokyo menemukan sekitar 60 persen SMA negeri di ibu kota meminta bukti bahwa warna dan bentuk rambut siswa adalah asli. Data Dewan Pendidikan Tokyo pada 2021 lebih rinci: 79 dari 177 SMA negeri penuh waktu — sekitar 44,6 persen — masih meminta 地毛証明書 (jimo shōmeisho), surat keterangan rambut alami, kadang disertai foto masa kecil.

Mulai tahun ajaran 2022, SMA negeri di Tokyo tidak lagi memaksa siswa dengan rambut alami non-hitam untuk mengecatnya menjadi hitam. Aturan warna pakaian dalam juga ditinjau. Yang tidak hilang sepenuhnya: sebagian sekolah tetap meminta 地毛証明書, dan mewarnai rambut hitam menjadi warna lain biasanya masih dilarang di lingkungan sekolah. Reformasi itu tidak otomatis berlaku di seluruh Jepang; prefektur lain bergerak dengan kecepatan berbeda.

Jadi “cuma peraturan sekolah, bukan prasangka” terdengar rapi di atas kertas. Di praktiknya, aturan itu menempelkan satu standar — hitam, lurus, rapi — pada tubuh anak yang rambutnya tidak seperti itu sejak lahir. Untuk gambaran lebih luas tentang aturan dan kebiasaan sekolah Jepang, seragam hanyalah permukaan dari kontrol yang sama.

Ketika rambut alami bukan hitam

Kasus yang paling banyak dibahas terjadi di SMA Kaifukan, Habikino, Osaka. Seorang siswi dengan rambut cokelat alami masuk pada 2015. Sekolah tidak percaya itu warna aslinya. Ia disuruh mengecat rambut menjadi hitam, lalu mengecat lagi setiap beberapa hari karena akarnya “tidak cukup hitam”. Meja di kelas disingkirkan, namanya dihapus dari daftar, perjalanan sekolah ditolak. Ia akhirnya berhenti masuk.

Pada Februari 2021, pengadilan distrik Osaka memutuskan pemerintah prefektur harus membayar ganti rugi 330.000 yen. Hakim tetap menganggap peraturan sekolah sah untuk menjaga disiplin, tetapi menilai sekolah tidak mempertimbangkan beban psikologis siswi itu. Putusan itu terdengar seperti kompromi yang janggal: aturan boleh, cara menegakkannya yang merugikan.

Yang terasa paling keras bukan hanya siswa yang sengaja mewarnai rambut. Anak dengan rambut cokelat alami, ikal, atau latar belakang campuran sering kena periksa lebih dulu — seolah mereka harus membuktikan bahwa mereka “tidak nakal”. 地毛証明書 lahir dari logika itu: bukti di atas kertas agar guru tidak salah sangka. Bagi yang diminta menandatanganinya, surat itu justru mengingatkan bahwa rambut mereka dianggap mencurigakan.

Di luar seragam, orang Jepang suka rambut yang berbeda

Lepas dari gerbang sekolah, gambarnya berubah. Artis dan penyanyi Jepang sudah lama memakai rambut yang jauh dari hitam lurus. Adegan visual kei di Harajuku, gyaru dengan pirang keriting, dan moda lolita yang mewarnai rambut sesuai kostum — semuanya hidup di kota yang sama dengan seragam hitam itu.

Kolase gaya rambut Jepang: pirang keriting, anime biru, hime cut, dan rambut geisha

Di anime, manga, dan game, karakter dengan rambut biru, merah, atau pink bukan hal aneh. Itu tidak berarti sekolah lalu longgar. Itu menunjukkan selera visual yang sudah lama ada di budaya pop: rambut dianggap serius, dan banyak anak muda justru ingin beda dari yang lain. Pada 1990-an, mewarnai rambut jadi hal yang diinginkan banyak pelajar, meski peraturan sekolah menahan. Ada yang diam-diam tetap mewarnai; ada yang kena tegur sampai rambut dikembalikan ke “standar”.

Di kota besar, rambut sampai lutut dengan warna pelangi tidak otomatis membuat orang Jepang bermusuhan. Lebih sering, itu menarik foto. Gyaru berkumpul di zebra cross dengan pirang, pink, dan abu-abu — pemandangan yang sudah jadi kartu pos Tokyo, bukan skandal jalanan.

Kolase potongan pompadour, rambut panjang, dan rambut oranye gaya cosplay

Kalau kamu bukan siswa SMA Jepang

Untuk wisatawan atau orang dewasa di kota besar, gagasan bahwa Jepang “membenci” rambut keriting atau pirang biasanya berlebihan. Genetika membuat rambut itu tidak umum, dan justru karena itu banyak orang Jepang tertarik — sampai-sampai salon ramai mengerjakan 茶髪 (chapatsu, rambut cokelat) dan gelombang. Yang tidak umum bisa terlihat keren. Nikmati saja pesonanya. Yang tidak umum di ruang kelas SMA adalah cerita lain.

Kalau kamu siswa, tanyakan peraturan sekolahmu, jangan menebak dari video jalanan. Beberapa kantor juga masih menyukai penampilan rapi dan gelap; itu bukan undang-undang nasional, tapi kebiasaan tempat kerja yang bisa ketat. Di luar itu, rambut berwarna atau keriting bukan tiket untuk diusir dari kereta.

Kelompok gyaru di jalan Tokyo dengan rambut pirang, merah muda, dan warna-warni

Prasangka di sini tidak selalu berupa omongan kasar di trotoar. Ia lebih sering berupa aturan yang menganggap satu jenis rambut sebagai “normal” dan yang lain sebagai penyimpangan yang harus dibuktikan atau dicat. Begitu seragam dilepas, Jepang yang sama bisa merayakan rambut sebagai kostum. Kalau mau lihat sisi praktisnya di salon, potong rambut di Jepang punya kosakata dan kebiasaan sendiri.

Sumber dan tautan berguna

Tentang penulis

Kevin Henrique

Spesialis dengan pengalaman lebih dari 10 tahun dalam budaya Asia, berfokus pada Jepang, Korea, anime, dan game. Otodidak, penulis, dan pelancong yang fokus mengajarkan bahasa Jepang, tips wisata, dan fakta menarik yang mendalam.

Komunitas

Komentar

0 komentar

Belum ada komentar yang diterbitkan dalam bahasa ini.

Kirim komentar

Komentari artikel ini

Memuat pemeriksaan keamanan...

Jangan kirim tautan, embed, atau promosi. Komentar melewati anti-spam dan terjemahan otomatis sebelum tampil.