Sejak kecil, banyak orang Jepang belajar menyapa, membungkuk, dan memperhatikan orang yang baru datang. Kata yang sekarang merangkum sikap itu adalah omotenashi (おもてなし).
Orang Indonesia biasanya menyamakannya dengan keramahan saat menerima tamu. Di luar kamus, kata itu mudah menempel pada hampir semua sikap sopan.
Daftar isi 4
Arti omotenashi
Omotenashi ditulis 御もて成し atau おもてなし. Awalan o (お atau 御) membuat kata lebih sopan. Dasarnya adalah kata kerja motenasu (持て成す). Dari kata kerja itu terbentuk kata benda motenashi (もて成し).
Digital Daijisen, kamus Shogakukan, mencatat omotenashi sebagai bentuk sopan dari dua makna pertama motenashi. Makna pertama adalah cara orang menghadapi tamu. Contoh di kamus adalah menerima sambutan yang hangat. Makna kedua adalah jamuan: makanan, teh, atau kue yang dihidangkan. Wikipedia bahasa Jepang mengartikan pemakaian sekarang sebagai perlakuan yang tulus kepada tamu atau pelanggan.

Dari mana kata ini datang
Kaminaga Akira, editor kamus, mengutip Nihon Kokugo Daijiten. Motenasu terdiri dari nasu (成す, melakukan atau menangani) dan awalan mote. Awalan yang sama menambah tekanan pada motehayasu dan motesawagu. Tulisan kata bendanya adalah 持て成し.
Banyak penjelasan memotong kata menjadi omote (表, permukaan) dan nashi (無し, tanpa). Kanji pada entri kamus tetap 持て成し, dibentuk dari mote dan nasu.
Pada zaman Heian, motenasu sering berarti sengaja mengambil suatu sikap, atau menangani suatu urusan. Di Genji monogatari, awal abad ke-11, motenashi muncul untuk cara seseorang membawa diri, di bab Suetsumuhana, dan untuk cara mengatur suatu hal, di bab Agemaki. Makna menyambut tamu secara hangat menguat pada abad pertengahan.
Pada 7 September 2013, Christel Takigawa berbicara di Buenos Aires, pada presentasi akhir pencalonan Tokyo di sesi ke-125 Komite Olimpiade Internasional. Ia memperkenalkan omotenashi dalam bahasa Prancis dan mengucapkan suku katanya satu per satu, o-mo-te-na-shi. Frasa itu terpilih dalam penghargaan kata baru dan kata populer tahun 2013.
Apa yang masuk dalam sikap ini
Sikap ini mirip aturan emas: perlakukan orang lain seperti Anda ingin diperlakukan, dan lakukan itu tanpa menunggu imbalan. Di pintu restoran, di loket, atau di meja, orang yang menerima tamu menata hal kecil sebelum tamu meminta.
Ada toko dan perusahaan yang menuliskan cara membungkuk, cara menyapa, dan urutan layanan, supaya pegawai baru mengingatnya. Di sekolah dan di rumah, urutan yang sama mengajari anak menyapa dan membungkuk. Perhatian dalam omotenashi muncul karena ada orang di depan. Buku aturan menyimpan urutan gerakannya.

Contoh yang sering disebut
Tidak setiap orang di Jepang melakukan hal-hal dalam daftar ini. Contoh di bawah sering kita dengar ketika orang menjelaskan omotenashi.
- Saat menyapa, orang membungkuk, dan bentuk hormat keigo dipakai saat berbicara dengan tamu atau atasan.
- Di banyak restoran dan taksi, pegawai tidak menerima tip. Layanan sudah masuk ke harga.
- Pengemudi taksi membuka pintu belakang sebelum penumpang menarik gagangnya.
- Saat batuk, masker dipakai supaya orang di sebelah tidak ikut sakit.
- Dompet temuan diserahkan ke koban, pos polisi lingkungan.
- Tata saji makanan, dari urutan lauk sampai pilihan piring, disiapkan untuk orang yang akan makan.
Kamus berhenti pada cara menerima tamu dan pada suguhan yang dihidangkan. Setelah pidato tahun 2013, brosur wisata dan aturan toko menempelkan kata yang sama pada membungkuk, masker, dan piring yang tertata. Daftar itu adalah pemakaian yang datang kemudian.
Kalau Anda pernah melihat sikap lain yang menunjukkan omotenashi, tulis di komentar. Contoh dari perjalanan, dari film, atau dari tempat kerja sama-sama membantu pembaca berikutnya.






Komunitas
Komentar
0 komentar
Belum ada komentar yang diterbitkan dalam bahasa ini.
Kirim komentar