Apakah Anda tahu apa itu ungkapan idiomatis? Ungkapan idiomatis adalah kata atau frasa yang maknanya tidak bisa dipahami hanya dari arti kata pembentuknya secara harfiah. Dalam bahasa Jepang, idiom semacam ini disebut kanyouku (慣用句). Pada artikel ini, kita akan mempelajari konsep kanyouku, cara kerja kanji pembentuknya, serta daftar idiom populer yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam bahasa Indonesia, kita mengenal berbagai idiom umum seperti banting tulang untuk bekerja keras, gulung tikar untuk bangkrut, atau rendah hati untuk sifat tidak sombong. Bahasa Jepang juga memiliki kekayaan ungkapan serupa. Makna kiasan tersebut lahir dari kebiasaan budaya, sejarah, serta pengalaman hidup masyarakat Jepang yang terbentuk selama berabad-abad.
Daftar isi 26
Memahami Konsep Kanyouku dan Istilah Serupa
Kata kanyouku (慣用句) tersusun dari tiga karakter kanji yang sarat makna. Karakter pertama adalah 慣 (kan) yang bermakna membiasakan atau lazim. Karakter kedua adalah 用 (you) yang bermakna menggunakan atau memakai. Karakter ketiga adalah 句 (ku) yang bermakna frasa, klausa, atau penggalan kalimat. Secara harfiah, kanyouku dapat diartikan sebagai rangkaian frasa yang lazim digunakan secara turun-temurun dengan makna khusus yang telah disepakati bersama oleh masyarakat.
Dalam bahasa Jepang modern, konsep idiom juga sering diserap sebagai kata serapan katakana idiomu (イディオム). Selain istilah kanyouku, ada beberapa istilah linguistik lain dalam bahasa Jepang yang memiliki kemiripan konsep namun memiliki fokus penggunaan yang berbeda:
- Kanyouku (慣用句): Bentuk idiom yang umumnya tersusun dari dua kata atau lebih yang membentuk satu kesatuan makna kiasan baru.
- Kanyougo (慣用語): Kosakata atau istilah idiomatis yang lazim digunakan dalam percakapan sehari-hari.
- Kanyougoku (慣用語句): Rangkaian kata atau frasa idiomatis tetap.
- Kanyouhyougen (慣用表現): Pola ekspresi idiomatik konvensional dalam tuturan masyarakat Jepang.
- Seiku (成句): Frasa baku, aforisme, peribahasa lama, atau kutipan yang bentuk kalimatnya sudah mapan.
- Jukugo (熟語): Gabungan kata majemuk yang dibentuk oleh kombinasi dua karakter kanji atau lebih.
- Yojijukugo (四字熟語): Idiom atau peribahasa khusus yang tepat tersusun dari empat karakter kanji.
Perbedaan penting yang perlu dipahami oleh pemelajar adalah antara kanyouku dan peribahasa. Sementara kanyouku berfungsi sebagai frasa kiasan praktis dalam kalimat, peribahasa atau kotowaza dalam bahasa Jepang biasanya menyampaikan nasihat moral, pepatah leluhur, atau pelajaran hidup yang lebih luas. Bahkan beberapa ungkapan kasar atau kata makian dalam bahasa Jepang berakar dari metafora idiomatis yang mengalami pergeseran makna sosial.
Selain kotowaza, masyarakat Jepang juga mengenal istilah kakugen (格言), yaitu kata-kata mutiara atau aforisme yang berisi petuah bijak tentang kehidupan, bisnis, maupun seni bela diri. Contoh kakugen atau aforisme sejarah yang sangat terkenal adalah ungkapan dari Kisah Tiga Negara (Sangokushi), yaitu naite Bashoku o kiru (泣いて馬謖を斬る). Ungkapan ini secara harfiah berarti menangis saat mengeksekusi Ma Su (Bashoku), merujuk pada keputusan berat Zhuge Liang yang terpaksa menghukum mati jenderal kepercayaannya demi menegakkan disiplin militer setelah kekalahan di Pertempuran Jieting.

Daftar Ungkapan Kanyouku yang Sering Digunakan
Banyak kanyouku populer dalam bahasa Jepang menggunakan anggota tubuh sebagai fondasi metaforanya. Berikut adalah daftar ungkapan penting beserta arti harfiah dan makna penggunaannya dalam situasi nyata:
Bākōdo hito (バーコード人)
Secara harfiah berarti pria kode batang. Istilah gaul perkotaan di Jepang ini digunakan untuk menyebut pria yang menyisir sisa rambut sampingnya ke atas kepala botak, sehingga helaian rambut tipis tersebut membentuk pola garis-garis yang menyerupai barcode.
Kiipukun (キープ君)
Secara harfiah berarti pria simpanan dengan akhiran kehormatan kun (君). Istilah ini merujuk pada pria yang dipertahankan dalam hubungan pertemanan dekat atau kencan santai hanya sebagai pilihan cadangan sebelum seseorang menemukan pasangan yang dianggap lebih mapan atau ideal.
Shiri ga omoi (尻が重い)
Secara harfiah bermakna pantat berat. Idiom ini menggambarkan orang yang lamban dalam bertindak, malas memulai pekerjaan, atau memerlukan dorongan berulang kali sebelum akhirnya mau bergerak.
Shiri ga karui (尻が軽い)
Secara harfiah bermakna pantat ringan. Ungkapan ini digunakan untuk menggambarkan orang yang bertindak tergesa-gesa tanpa perhitungan matang, atau dalam konteks pergaulan sosial merujuk pada orang yang genit dan tidak setia.
Shirinugui (尻拭い)
Secara harfiah berarti membersihkan pantat. Dalam arti kiasan, ungkapan ini bermakna membereskan masalah, menanggung akibat, atau merapikan kekacauan yang disebabkan oleh kelalaian orang lain.
Te o nuku (手を抜く)
Secara harfiah bermakna menarik tangan atau mengurangi gerakan tangan. Kanyouku ini digunakan ketika seseorang bekerja secara asal-asalan, mengambil jalan pintas yang merugikan kualitas, atau tidak mencurahkan tenaga secara bersungguh-sungguh.
Kuchi ga karui (口が軽い)
Secara harfiah bermakna mulut ringan. Dalam bahasa Indonesia, ungkapan ini sepadan dengan mulut ember atau orang yang tidak mampu menyimpan rahasia karena terlalu cepat membeberkan informasi kepada pihak lain.
Atama ga itai (頭が痛い)
Secara harfiah bermakna sakit kepala. Selain mengacu pada rasa sakit fisik, idiom ini sangat sering digunakan penutur asli Jepang untuk mengungkapkan rasa pusing akibat menghadapi masalah rumit yang menguras pikiran.
Atama ga ii (頭がいい)
Secara harfiah bermakna kepala baik. Ungkapan ini berarti pandai, pintar, berotak encer, atau memiliki kemampuan analisis yang tanggap.
Hi no te (火の手)
Secara harfiah berarti tangan api. Ungkapan ini merujuk pada kobaran api yang menjalar ke berbagai arah saat terjadi kebakaran, atau secara metaforis berarti serangan gencar dan tekanan hebat dalam suatu perselisihan.
Uri futatsu (瓜二つ)
Secara harfiah berarti dua buah melon yang serupa. Idiom ini setara dengan peribahasa Indonesia bagai pinang dibelah dua, digunakan untuk menggambarkan dua orang yang memiliki rupa atau karakter yang sangat identik.
Nemimi ni mizu (寝耳に水)
Secara harfiah bermakna air yang masuk ke telinga orang yang sedang terlelap tidur. Ungkapan ini melukiskan perasaan terkejut luar biasa akibat mendengar kabar mendadak yang sama sekali tidak diduga sebelumnya.
Abura o uru (油を売る)
Secara harfiah bermakna menjual minyak. Idiom ini memiliki makna membuang-buang waktu, mengulur pekerjaan, atau bermalas-malasan sambil mengobrol saat jam kerja. Asal-usulnya berasal dari zaman Edo, ketika para penjual minyak lampu keliling harus menuangkan minyak kental secara perlahan ke wadah pembeli sehingga mereka terbiasa mengobrol berlama-lama dengan para pelanggan.
Hara ga kuroi (腹が黒い)
Secara harfiah bermakna perut hitam. Dalam pandangan tradisional Jepang, perut atau hara dianggap sebagai tempat bersemayamnya emosi dan niat terdalam seseorang. Ungkapan ini disematkan kepada orang yang berhati licik, manipulatif, atau memiliki niat buruk di balik sikapnya yang tampak ramah.
Ungkapan Kanyouku yang Menggunakan Simbol Hewan
Dunia satwa juga menjadi sumber inspirasi yang sangat kaya bagi idiom bahasa Jepang. Hewan seperti kucing, burung, serangga, dan anjing sering digunakan untuk menggambarkan sifat manusia secara jenaka maupun kritis:
Nekojita (猫舌)
Secara harfiah bermakna lidah kucing. Idiom ini ditujukan kepada orang yang tidak tahan menyantap hidangan atau menyeruput minuman yang masih panas karena lidahnya sangat sensitif terhadap suhu tinggi.
Neko o kaburu (猫をかぶる)
Secara harfiah bermakna mengenakan topeng kucing atau bertudung kucing. Ungkapan ini melukiskan seseorang yang berpura-pura polos, bersikap manis, atau tampak pendiam untuk menyembunyikan sifat aslinya yang keras atau nakal.
Neko no hitai (猫の額)
Secara harfiah bermakna dahi kucing. Karena dahi seekor kucing berukuran sangat kecil, orang Jepang menggunakan ungkapan ini untuk menyebut sebidang tanah, halaman rumah, atau ruangan yang sangat sempit.
Neko no me (猫の目)
Secara harfiah bermakna mata kucing. Mengingat pupil mata kucing dapat membesar dan mengecil secara drastis tergantung intensitas cahaya, idiom ini dipakai untuk menggambarkan situasi, cuaca, atau suasana hati seseorang yang berubah-ubah secara cepat.
Dorobōneko (泥棒猫)
Secara harfiah bermakna kucing pencuri. Selain merujuk pada kucing liar yang mencuri makanan di dapur, istilah ini juga digunakan secara kiasan untuk menyebut orang yang diam-diam merebut pasangan hidup orang lain.
Suzume no namida (雀の涙)
Secara harfiah bermakna air mata burung pipit. Idiom puitis ini digunakan untuk menggambarkan jumlah, upah, atau porsi yang teramat sedikit sehingga hampir tidak memberikan dampak yang berarti.
Yajiuma (野次馬)
Secara etimologis berasal dari kata yang merujuk pada kuda tua yang berisik. Dalam percakapan modern, ungkapan ini menggambarkan kerumunan orang yang penasaran dan suka berkerumun menonton lokasi kecelakaan atau insiden jalanan tanpa memberikan bantuan apa pun.
Mushi ga ii (虫がいい)
Secara harfiah bermakna serangganya menguntungkan. Ungkapan ini ditujukan kepada orang yang bersikap egois, ingin serba untung sendiri, atau menuntut kemudahan tanpa mau memikirkan kerepotan yang dialami orang lain.
Ken'en no naka (犬猿の仲)
Secara harfiah bermakna hubungan antara anjing dan monyet. Dalam budaya Jepang, anjing dan monyet digambarkan sebagai musuh bebuyutan yang tidak pernah bisa rukun. Maknanya sepadan dengan ungkapan hubungan seperti anjing dan kucing dalam bahasa Indonesia.
Bagi pemelajar yang ingin memperluas kemampuan berkomunikasi, memadukan idiom dengan kata keterangan bahasa Jepang akan membantu kalimat terdengar jauh lebih luwes. Mempelajari kanyouku membuka wawasan berharga tentang bagaimana penutur asli Jepang memandang tubuh manusia, perilaku hewan, dan interaksi sosial. Daripada menghafalkan idiom satu per satu tanpa konteks, cobalah mencatat ungkapan yang Anda temui dalam anime, drama, novel, atau percakapan harian. Dengan memahami logika metaforis di balik setiap ungkapan, bahasa Jepang yang Anda gunakan akan terdengar semakin kaya, ekspresif, dan alami.






Komunitas
Komentar
0 komentar
Belum ada komentar yang diterbitkan dalam bahasa ini.
Kirim komentar