Sesekali televisi menayangkan laporan yang menuding anime Jepang sebagai biang suatu tragedi. Pertanyaan yang menyusul hampir selalu sama: apakah anime memengaruhi anak, apakah berbahaya, apakah itu sesuatu dari setan.
Laporan semacam itu hampir selalu berbicara negatif — dan hal yang sama sering terjadi pada permainan. Yang jarang ditanyakan: judul yang mana, usia berapa, dan apakah sinetron di saluran sebelah lebih keras daripada serial yang dituduh.
Daftar isi 10
Apakah Anime Memengaruhi Anak-anak?
Bukan hanya anime. Permainan, serial, film, teman, musik, dan hampir apa pun yang didengar atau dilihat bisa memengaruhi anak maupun orang dewasa, ke arah yang buruk atau yang baik.
Kita dibentuk oleh semua yang kita dengar dan lihat. Cukup bandingkan orang yang tumbuh di tempat berbeda: sebagian terbiasa mengumpat, sebagian lagi punya kosakata yang lebih formal.
Di Brasil sendiri, kami punya kosakata umpatan dan slang dengan konotasi seksual yang dipakai sangat sering, dan itu semakin biasa dalam percakapan sehari-hari maupun di media.
Di sisi lain dunia, orang Jepang memakai honorifik (Tuan, Nyonya) hampir setiap kali menyebut seseorang, dan jarang mengumpat — kata kasar mereka pun biasanya jauh lebih ringan.
Beberapa anime yang disulih suara ke bahasa lain mengganti kata Jepang yang artinya ringan menjadi sumpah serapah berat. Menurut opini saya, perubahan itu memengaruhi lebih negatif daripada karya aslinya.
Kesimpulannya: ya, anime bisa memengaruhi orang. Sebenarnya anime membawa banyak pengaruh budaya, dan itu bisa sangat positif.

Memahami Pengaruh Anime
Kalau segala sesuatu bisa memengaruhi orang, berhentilah menyalahkan anime sebagai satu-satunya biang. Sama seperti film dan serial, ada banyak jenis dan genre anime — bukan satu kotak bernama “kartun anak”.
Di Indonesia, anime masih sering disamakan dengan kartun anak. Padahal Death Note, Tokyo Ghoul, atau Attack on Titan bukan Doraemon. Yang membedakan adalah genre dan klasifikasi usia, bukan kata “anime”.
Sangat jarang anime punya lebih banyak kekerasan dan adegan tak bermoral daripada film atau serial yang tersedia di layanan streaming. Kecuali anak Anda menonton anime gore (berdarah) atau hentai (dewasa).
Anime populer yang sering dikritik televisi, seperti Death Note dengan latar gelap dan horor psikologis, justru berbicara tentang konsekuensi tindakan. Tidak perlu takut anak menulis nama di buku catatan kematian, atau percaya pada takhayul Jepang.
Poin penting: sama seperti film dan serial, anime punya klasifikasi dan rentang usia. Kalau Anda merasa serial tertentu tidak cocok untuk anak Anda, cegah dia menontonnya. Jangan salahkan seluruh anime, karena film dan sinetron di televisi sering jauh lebih telanjang soal kekerasan dan ranjang.
Sangat jarang anime menunjukkan pasangan berhubungan seks di episode pertama seperti yang terjadi di banyak serial dan sinetron. Kebanyakan anime berakhir bahkan tanpa ciuman. Bahkan judul dengan adegan panas penuh fanservice umumnya tidak punya adegan dewasa seperti film live-action.

Anime Menawarkan Pengaruh Positif
Orang Jepang punya kreativitas raksasa dengan anime. Mereka membuat karya tentang hampir semua topik: orang yang menjadi astronot, anime olahraga, seni, musik, dan kehidupan sehari-hari.
Di Barat, ada budaya maskulin di mana pemuda “harus” menyukai aksi, darah, dan kekerasan. Anime justru membuat banyak pria dewasa jatuh cinta pada romansa dan shoujo.
Jepang tidak perlu memasukkan kekerasan ke dalam setiap karya supaya audiens pria tertarik. Mereka sering fokus pada cerita dan kreativitas, berlatar sekolah, dan mengajarkan pelajaran yang jarang muncul di ruang kelas Barat: usaha, rasa malu yang sehat, dan hormat pada orang lain.
Kalau Anda ingin anak yang tidak mudah terseret ke hal yang salah, memasukkannya ke anime yang tepat justru bisa jadi jalan yang baik. Banyak judul mendorong pendidikan, rasa hormat, dan kerja keras — nilai yang orang Jepang ulang-ulang sampai terasa berlebihan bagi orang luar.

Melarang anak menonton semua anime berarti membuang pengaruh yang bisa baik. Yang lebih masuk akal: selektif, dan menonton bersama. Animasi Jepang dibuat untuk segala usia, bukan hanya untuk anak kecil.
Banyak orang, bahkan yang tidak anti-anime, tetap berprasangka bahwa itu membosankan. Hari ini ibu saya, istri saya, dan banyak teman saya akhirnya menyerah dan menonton.
Sangat jarang seseorang yang memilih judul dengan bijak, lalu menonton sampai selesai, tidak jatuh cinta pada karya kreatif itu. Banyak yang lalu jatuh cinta pada budayanya dan ingin belajar bahasa Jepang.
Bayangkan anak mulai menonton anime, jadi lebih teratur, membantu membersihkan rumah, mulai mempelajari bahasa baru, dan lebih tekun belajar. Apakah itu tidak membuat Anda senang? Itulah kekuatan judul yang tepat — bukan janji ajaib dari setiap serial di rak.

Apakah Anime Berbahaya bagi Anak-anak?
Kalau kita sudah bicara soal pengaruh, setengah pertanyaan ini terjawab. Beberapa anak lebih mudah larut ke dalam skenario cerita, dan tragedi langka yang muncul di televisi biasanya menempel pada judul gelap — bukan pada Doraemon.
Itu bukan “kesalahan anime” sebagai medium. Itu lebih sering soal orang tua yang tidak mengenal anaknya: seberapa mudah dia meniru, fase apa yang sedang dia lalui, dan judul apa yang benar-benar dia tonton sendirian di kamar.
Seorang teman psikoanalis baru-baru ini berkata bahwa orang tua sering membawa anak ke konsultasi dengan kalimat seperti: anak saya sangat memberontak, tidak dewasa, atau gelisah.
Teman saya itu bilang itu sangat biasa. Hampir semua anak melewati fase itu sampai dewasa. Yang perlu berubah sering kali cara orang tua menanganinya, bukan daftar tontonan secara membabi buta.
Anda lebih suka anak berdandan seperti hantu dan bermain di dunia imajiner, atau terlibat dengan teman yang menariknya ke narkoba di sekolah? Anime tidak menawarkan risiko istimewa selama orang tua mengenal anaknya dan mematuhi rentang usia.
Selama Anda mengikuti klasifikasi usia untuk film, serial, permainan, dan anime, hal-hal ini tidak otomatis menjadi ancaman. Tragedi yang diliput televisi sering lahir dari kurangnya perhatian — anak menonton judul dewasa sendirian, lalu orang dewasa menyalahkan seluruh medium.

Apakah Anime dari Setan?
Memang, dalam budaya Jepang Kekristenan hampir tidak kelihatan di permukaan. Agama-agama Jepang mengenal banyak dewa dan makhluk, dan mereka sering muncul dalam karya sebagai referensi budaya atau tokoh cerita — bukan sebagai ajakan ibadah.
Di Indonesia pertanyaan itu sering datang lewat kata haram, sihir, atau jin. Oni, yōkai, dan akuma dalam cerita Jepang adalah makhluk folklor: hantu gunung, iblis rakyat, antagonis fantasi. Mereka bukan Iblis dalam khotbah Jumat, dan bukan Setan dalam Alkitab.
Kalau Anda orang religius yang dengan kuat percaya salah mengonsumsi materi apa pun yang melibatkan sihir atau hal supernatural, Anda memang perlu selektif. Itu berlaku untuk anime, dan juga untuk Disney, Marvel, dan banyak sinetron lokal.
Perlu dijelaskan: ada banyak jenis anime, dan sebagian besar tidak berhubungan dengan makhluk folklor Jepang. Mayoritas justru soal kehidupan sehari-hari, fiksi ilmiah, dan sekolah.
Dalam satu dekade terakhir, gelombang anime isekai yang membahas kehidupan di dunia lain memang sering membawa kekuatan magis atau “demon”. Menyamaratakan semua anime karena ada kata itu di judul mengabaikan bahwa mayoritas judul tidak seperti itu.
Saya Saksi Yehuwa, agama yang mengikuti prinsip Alkitab dengan ketat. Meski begitu, saya dan banyak dari kami tetap menonton anime. Kami menganggap banyak judul lebih layak dibanding serial dan film yang tayang malam ini. Soal sudut pandang Alkitab secara lebih panjang ada di apakah menonton anime itu dosa.
Kalau Anda orang religius yang ragu membiarkan anak menonton, jangan langsung melarang semuanya. Perhatikan isinya, pilih bersama, dan tonton berdampingan. Cari cerita yang menarik bagi kalian berdua.

Anime untuk Ditonton Bersama Anak
Untuk mengurangi prasangka, ada banyak karya yang bisa ditonton bersama anak — asal dipilih, bukan asal klik. Tidak semua judul “kartun”, dan tidak semua judul butuh dampingan orang dewasa.
Doraemon
Di Indonesia hampir semua orang sudah tumbuh dengan kucing robot dari abad ke-22. Itu contoh paling jelas bahwa “anime” bisa jadi tontonan anak — dan justru karena itu orang tua sering lupa bahwa judul berikutnya di daftar rekomendasi bisa sama sekali lain umurnya.
My Neighbor Totoro
Film Studio Ghibli tentang dua kakak-beradik di pedesaan dan roh hutan yang ramah. Nada lembut, tanpa gore dan tanpa fanservice. Cocok sebagai jembatan bagi orang tua yang masih mengira semua animasi Jepang penuh darah.
Violet Evergarden
Seorang gadis muda yang dipakai sebagai senjata perang, lalu setelah perang menjadi penulis surat. Bukan untuk anak kecil: ada luka, duka, dan kekerasan masa lalu. Tapi untuk remaja yang lebih besar dan orang tua yang mau menonton bersama, ceritanya tentang belajar menjadi manusia lagi, bukan tentang menyembah setan.

Pengalaman Saya dengan Anime
Anime hadir dalam hidup saya sejak usia 13 tahun. Mungkin sedikit lebih awal, lewat animasi di TV tanpa saya tahu itu animasi Jepang.
Dengan anime saya mengenal dunia yang tampak seperti mimpi: orang terdidik yang mengerjakan hal dengan cara yang benar, orang yang saling menghormati, dunia yang terasa lebih damai.
Orang Jepang adalah yang paling dekat dengan gaya hidup saya sebagai orang religius. Meski mereka tidak mengikuti prinsip Kristen, banyak dari mereka melakukan lebih baik daripada banyak orang yang mengaku Kristen.
Mereka orang-orang yang ingin saya dekati. Karena itu saya selalu ingin tinggal di Jepang, hanya dari melihat sikap dan gaya hidup dalam anime. Itu membentuk siapa saya hari ini, termasuk profesi saya sebagai penulis situs ini.
Di usia 21 tahun saya berhasil bepergian ke Jepang dan punya salah satu pengalaman terbaik dalam hidup saya. Banyak hal yang saya lihat di anime ternyata ada di jalanan, di kereta, di cara orang antri.
Tentu tidak semuanya mimpi. Sekali lagi kita masuk ke pertanyaan yang sama: tidak perlu menggeneralisasi berdasarkan pengalaman orang lain. Jalani pengalaman Anda sendiri.
Sama seperti kita manusia, orang Jepang dan anime punya masalah mereka. Kita tidak harus membiarkan itu merusak pengalaman yang baik. Kita bisa belajar banyak dari mereka.
Bagaimana dunia akan menjadi lebih baik jika lebih banyak orang mengikuti pendidikan, keramahan, kerendahan hati, dan rasa hormat orang Jepang. Tentu mereka, seperti manusia mana pun, punya kekurangan. Tapi saya merasa lebih aman di Brasil yang penuh budaya Jepang daripada dalam “kebebasan” budaya Brasil yang palsu.
Saya tidak bilang kita tidak bisa belajar dari orang Brasil. Negara kami juga mengajarkan banyak hal baik, dan orang Jepang juga bisa mengajarkan hal buruk. Sedihnya, hari ini kebanyakan orang lebih mudah menempel pada pengaruh negatif.
Saya percaya kita dibombardir perasaan benci, marah, dan jijik saat mengonsumsi konten dari sebagian sudut internet. Cukup jelajahi YouTube, Twitter, kolom komentar, atau hampir sembarang forum untuk melihat kebencian itu menyebar. Apakah ada pengaruh yang lebih buruk dari itu?
Yang paling menyebalkan: membayangkan orang dengan kebencian di hati akan membaca ini dan memelintir beberapa kalimat saya hanya untuk menyebarkan perdebatan...
Komunitas
Komentar
0 komentar
Belum ada komentar yang diterbitkan dalam bahasa ini.
Kirim komentar