Apakah Anda pernah mendengar tentang Shakaijin? Di Jepang kata ini terdengar biasa di kantor dan di drama, lalu tiba-tiba terasa menusuk: yang tidak masuk kategori itu seperti dikeluarkan dari “masyarakat”. Menghormati orang lain memang diajarkan lewat kesantunan; yang aneh di 社会人 justru bukan nada kasarnya, melainkan siapa yang dianggap sudah “masuk” dan siapa yang masih di luar.
Shakaijin (社会人, しゃかいじん) tidak punya padanan satu kata yang pas dalam bahasa Indonesia. Secara harfiah dekat dengan “orang masyarakat”, tapi pemakaian sehari-hari lebih sering menunjuk orang dewasa yang sudah bekerja. Siapkan kopi dan selamat membaca: tiga terjemahan yang beredar tidak sama kuatnya.

Daftar isi 5
Shakaijin — arti dan terjemahan

Secara umum, kita dapat menyimpulkan arti sebuah kata dengan menganalisis kanji yang membentuknya, konteks pemakaian, dan terjemahan yang muncul di bahasa lain. “Shakaijin” terdiri dari tiga kanji: 社 (しゃ, sha), yang membawa arti “masyarakat”, “perusahaan” atau “perseroan”; 会 (かい, kai), yang hadir dalam kata kerja 会う (あう, au) — “bertemu” atau “berkumpul” — dan terutama berarti “pertemuan” serta “perkumpulan”; dan terakhir 人 (ひと, hito), “orang”.

Alih-alih hanya memotong tiap kanji, ingat bahwa “shakai” (社会) sendiri sudah berarti “masyarakat”. Digabung dengan 人, ide umumnya mendekati “orang masyarakat”. Dari situ muncul tiga terjemahan yang paling sering beredar: “orang masyarakat”, “anggota masyarakat”, atau “pekerja dewasa”. Kamus Jepang–Inggris biasanya merangkumnya sebagai working adult atau full-fledged member of society — dewasa yang bekerja, anggota masyarakat yang sudah “penuh”.
Terjemahan “pekerja upahan” juga muncul, terutama ketika orang menyamakan shakaijin dengan sarariiman (サラリーマン). Itu saling tumpang-tindih, tapi tidak sama: salaryman menunjuk pegawai kantoran bergaji, sementara 社会人 lebih luas — termasuk orang yang bekerja di luar jas dan dasi, asal sudah berdiri sendiri secara ekonomi.
Konteks budaya dan kontroversi
Ketegangannya ada di sini: dalam percakapan sehari-hari, shakaijin biasanya menunjuk orang dewasa yang sudah punya pekerjaan. Akibatnya, yang sering tidak dianggap shakaijin adalah mahasiswa (学生, がくせい, gakusei), pengangguran, dan ibu rumah tangga. Siswa dan orang tanpa kerja tetap seolah berdiri di luar kelompok “anggota masyarakat” — dan itulah yang membuat kata ini terasa menyingkirkan, bukan hanya deskriptif.
Secara tidak langsung, istilah ini bisa terdengar seolah hanya orang yang sudah dewasa dan masuk dunia kerja yang diakui sebagai warga “kelas satu”, sementara yang lain turun peringkat. Tidak ada definisi hukum yang mengunci kata ini; yang ada adalah kebiasaan sosial. Karena itu freeter, pekerja paruh waktu, freelancer, atau ibu rumah tangga yang aktif di komunitas kadang masuk, kadang tidak, tergantung siapa yang bicara dan untuk apa.
Kalau kita menaruh kata ini di konteks Jepang — jejak Konfusianisme dalam etos tanggung jawab, pertumbuhan ekonomi cepat setelah Perang Dunia II, dan tekanan “kecanduan kerja” yang menimpa banyak sarariiman — lebih mudah mengerti mengapa “masuk masyarakat” hampir identik dengan “mulai menanggung hidup sendiri lewat kerja”. Itu juga berdekatan dengan pembicaraan soal karōshi: kerja bukan hanya nafkah, tapi bukti bahwa seseorang sudah “jadi orang”.

Shakaijin bukan otona
Otona (大人) berarti orang dewasa menurut usia. Di Jepang, dewasa hukum (成年) sekarang berumur 18 tahun — itu soal hak sipil; alkohol dan rokok punya aturan sendiri. Shakaijin tidak mengikuti kalender itu. Seseorang bisa sudah otona dan masih mahasiswa; sebaliknya, lulusan SMA berusia 18 tahun yang langsung masuk perusahaan sering dipanggil shakaijin meski baru saja meninggalkan seragam sekolah.
Ringkasnya: otona diukur dari umur; shakaijin diukur dari posisi — sudah tidak di bawah perlindungan sekolah atau orang tua, dan ikut menanggung hidup di luar kampus. Mencampur keduanya membuat terjemahan “dewasa” terasa pas, padahal justru mengaburkan inti katanya.
新社会人 dan 社会人野球
Setiap April, Jepang menyambut gelombang shin-shakaijin (新社会人): lulusan baru yang masuk perusahaan bersama-sama, lengkap dengan upacara nyūshashiki (入社式). Foto barisan jas hitam di stasiun pagi hari hampir jadi klise musim semi. Di situ 社会人 bukan hinaan, melainkan penanda ritme kalender — tahun ajaran berakhir, tahun kerja dimulai.
Pemakaian lain yang sering terlewat: shakaijin yakyū (社会人野球), bisbol amatir untuk orang yang sudah bekerja, di bawah Japan Baseball Federation. Sejak 1927 ada turnamen kota-lawan-kota (都市対抗野球). Di sini awalan shakaijin hanya membedakan tim pekerja dari tim pelajar dan dari profesional. Kata yang sama, tanpa niat menyingkirkan ibu rumah tangga atau mahasiswa — hanya label liga.
Dua pemakaian itu berguna sebagai penyeimbang. Kontroversi tetap nyata ketika “bukan shakaijin” dipakai untuk merendahkan. Tapi kamus di kepala orang Jepang juga menyimpan 新社会人 dan 社会人野球, yang jauh dari debat di jejaring sosial.
Kata peka lain dalam bahasa Jepang
Ada kosakata lain yang lebih panas dari shakaijin. Istilah soal disabilitas, kesehatan mental, dan pekerja seks sering memicu debat, bahkan permintaan maaf di televisi. Sebelum meniru kata dari anime atau kamus saku, perlu dicek apakah itu masih dipakai atau sudah dianggap kasar.
Untuk merujuk orang dengan disabilitas fisik, misalnya, bentuk yang lebih halus adalah 身体の不自由な方 (からだのふじゆうなかた, karada no fujiyū na kata): secara harfiah “orang yang tubuhnya tidak bebas”, cara sopan mengganti sebutan lama yang terasa merendahkan.
Kalau Anda ingin melihat kata yang benar-benar dilarang di ruang publik, dua contoh yang lebih tajam ada di artikel tentang tabu seksual manko dan chinko serta tentang kurombo, istilah rasis. Shakaijin tidak setajam itu — ia lebih licin: terdengar netral, lalu mengecualikan orang tanpa terdengar seperti umpatan.
Tiga terjemahan di atas tetap berguna, asal tidak dipaku sebagai padanan tetap. “Orang masyarakat” menjaga kanji. “Anggota masyarakat” terdengar sopan, tapi mengaburkan syarat kerja. “Pekerja dewasa” paling dekat dengan pemakaian kantor — dan justru di situlah letak polemiknya.
Komunitas
Komentar
0 komentar
Belum ada komentar yang diterbitkan dalam bahasa ini.
Kirim komentar