Pasona O2: pertanian bawah tanah di Tokyo

Pasona O2: pertanian bawah tanah di Tokyo

Sawah di bawah bank, lalu kantor penuh tanaman: dua eksperimen pertanian Pasona di Tokyo.

Ketika kita berpikir sudah melihat segalanya, Jepang mengejutkan kita. Kali ini di Tokyo ada sebuah ruang bernama Pasona O2, pertanian bawah tanah di distrik Otemachi, Chiyoda.

Bukan taman di jendela. Di lantai basement dua sebuah gedung kantor — ruang yang dulu brankas bank — padi dan tomat tumbuh di bawah lampu. Pasona, perusahaan penyalur tenaga kerja yang juga punya pertanian konvensional di Ogata, membuka tempat itu pada 2005 supaya orang kota bisa menyentuh pertanian dari dekat.

Tanaman di bawah lampu buatan di fasilitas pertanian dalam ruangan Pasona di Tokyo

Karena tidak ada sinar matahari, tanaman ditopang lampu LED, lampu metal halide, dan lampu uap natrium bertekanan tinggi. Suhu dikendalikan komputer. Sayuran ditanam tanpa pestisida: di basement hampir tidak ada serangga. Sebagian tumbuh di air, dengan sedikit atau tanpa tanah — hidroponik. Dengan metode itu, tanaman diyakini bisa tumbuh 30 sampai 50 persen lebih cepat.

Mengenal pertanian bawah tanah Pasona O2

Masuknya lewat satu lift di sudut lantai satu — sisa kebiasaan brankas. Fasilitas di basement Gedung Nomura Otemachi itu sekitar 1.000 meter persegi, terbagi enam ruang. Ada lebih dari 50 jenis mawar, plus bunga lain di bawah LED putih. Sekitar 100 jenis buah dan sayur. Untuk menghemat ruang, bibit disemai di laci, tomat ditanam hidroponik, dan tanaman merambat di langit-langit. Di ruang lain, sawah disusun di rak, disinari lampu metal halide dan natrium bertekanan tinggi. Selada memakai lampu fluoresen.

Sawah dan tanaman yang ditata di dalam gedung Pasona di Tokyo
  • Ruangan 1 — Ladang Bunga
  • Ruangan 2 — Ladang Herba
  • Ruangan 3 — Ladang Padi
  • Ruangan 4 — Buah dan Sayuran
  • Ruangan 5 — Ladang Sayuran
  • Ruangan 6 — Ruang Biji-bijian

O2 bukan pabrik pangan. Panen padi terbaik dalam 12 bulan, dengan tiga kali tanam, sekitar 60 kilogram — belum cukup untuk konsumsi beras satu orang Jepang rata-rata selama setahun. Biaya sewa dan lampu jauh lebih mahal daripada sawah biasa. Intinya lain: lapangan kerja. Pasona ingin menarik anak muda dan orang yang mencari karier kedua ke pertanian, di negara yang kekurangan petani dan lahan sempit di pusat kota seperti Tokyo yang penuh menara.

Dalam sekitar empat tahun beroperasi, lebih dari 70.000 orang datang, termasuk perdana menteri Jepang saat itu. Sawah publik di basement itu sudah berhenti paling lambat 2009. Yang tertinggal adalah ceritanya: padi tanpa matahari, di bekas brankas, di kawasan yang biasanya hanya kemeja dan lift.

Urban Farm, gedung yang lain

Jangan campur O2 dengan proyek berikutnya. Pada 2010 Pasona merenovasi gedung kantor sembilan lantai di Otemachi bersama Kono Designs: Urban Farm. Daun dan dahan memang keluar jendela. Sekitar 3.995 meter persegi ruang hijau, lebih dari 200 spesies. Tomat menggantung di ruang rapat, pohon lemon dan markisa jadi sekat, taoge di bawah bangku, sawah di lobi. Karyawan merawat tanaman bersama spesialis, lalu makan hasilnya di kafetaria gedung. Sistem iklim harus berkompromi: nyaman untuk manusia saat jam kerja, lebih ketat untuk tanaman di luar jam itu.

Itu kantor, bukan atraksi wisata abadi. Gedung Gofukubashi yang menampung Urban Farm ditutup Juni 2017 dan kemudian dibongkar. Pasona pindah. Siapa yang mencari pertanian bawah tanah di dekat Stasiun Tokyo hari ini tidak akan menemukan O2, dan tidak akan menemukan fasad hijau itu di alamat lama.

Yang tetap menarik adalah urutannya. O2 membuktikan padi bisa tumbuh di brankas. Urban Farm menaruh pertanian di meja kerja. Keduanya lahir dari perusahaan tenaga kerja, bukan dari kementerian pertanian — dan keduanya berumur pendek sebagai tempat yang bisa dikunjungi. Di kota yang penduduknya menumpuk di dataran Kanto, urbanisasi Jepang membuat lahan mahal. Eksperimen Pasona menjawab itu dengan lampu, bukan dengan memperluas sawah di pinggiran.

Sumber dan tautan berguna

Tentang penulis

Kevin Henrique

Spesialis dengan pengalaman lebih dari 10 tahun dalam budaya Asia, berfokus pada Jepang, Korea, anime, dan game. Otodidak, penulis, dan pelancong yang fokus mengajarkan bahasa Jepang, tips wisata, dan fakta menarik yang mendalam.

Komunitas

Komentar

0 komentar

Belum ada komentar yang diterbitkan dalam bahasa ini.

Kirim komentar

Komentari artikel ini

Memuat pemeriksaan keamanan...

Jangan kirim tautan, embed, atau promosi. Komentar melewati anti-spam dan terjemahan otomatis sebelum tampil.