Dari waktu ke waktu, sebuah video pendek dari Jepang beredar di media sosial dan memicu perdebatan yang sudah sangat familiar: seekor cumi-cumi kecil diletakkan di atas mangkuk nasi, kecap dituang ke atasnya, dan tentakelnya mulai bergerak-gerak seolah hewan itu masih hidup. Hidangan dalam video itu bernama Katsu Ika Odori-don (活いか踊り丼), sebuah donburi dari kota pelabuhan Hakodate di Hokkaido. Pemandangannya mungkin mengganggu pada pandangan pertama, tetapi "tarian" tersebut bukan tanda kehidupan: itu adalah reaksi kimia pada jaringan saraf dan otot yang sudah tidak terhubung lagi dengan otak yang berfungsi. Hidangan ini pun merupakan sebuah kekhasan regional, bukan simbol cara orang Jepang makan.
Apa itu Katsu Ika Odori-don?
Katsu Ika Odori-don (活いか踊り丼) adalah sebuah donburi: semangkuk nasi yang diberi berbagai bahan pelengkap. Dalam hidangan ini, dasarnya adalah nasi, sayuran, telur ikan (ikura) dan pelengkap musiman lainnya, dengan seekor cumi-cumi yang baru disiapkan diletakkan di atasnya. Kata odori (踊り) dalam bahasa Jepang berarti "tarian", dan kanji 活 di awal 活いか merujuk pada kesegaran bahannya, bukan pada anggapan bahwa hewannya masih hidup. "Tarian" itu sendiri adalah momen visual singkat tepat setelah kecap dituang, dan bukan tahap santapan yang akan Anda makan.
Hidangan ini diciptakan di restoran Ikkatei Tabiji, di kota Hakodate, ujung selatan Hokkaido. Satu porsi dijual sekitar 2.000 yen, atau-kira-kira Rp 220.000 pada kurs terbaru: harga yang tinggi untuk sebuah donburi, tetapi tidak istimewa untuk kota pelabuhan di Hokkaido, di mana cumi-cumi segar dan ikura adalah bahan sehari-hari.
Untuk memahami konteks geografisnya, Anda dapat membaca panduan lengkap Hokkaido (Sapporo, Hakodate, Otaru dan Asahikawa) kami.
Mengapa cumi-cumi "menari"?
Apakah cumi-cumi itu masih hidup ketika disajikan? Tidak. Sebelum ditata di atas mangkuk, kepala dan sebagian besar organ tubuhnya sudah dipisahkan, sehingga otak berhenti mengirim sinyal. Yang Anda lihat di piring adalah cumi-cumi yang baru saja disembelih, dengan sel-sel saraf dan serabut otot yang masih aktif secara listrik selama beberapa menit.
Pergerakan itu muncul begitu kecap dituang ke atas tentakel. Kecap mengandung natrium klorida, atau garam dapur pada dasarnya. Natrium tersebut memicu rangsangan pada sel-sel saraf yang masih aktif, dan otot-otot pun mulai berkontraksi. Itulah yang terlihat seperti "tarian": sebuah respons kimiawi, bukan tanda kehidupan.
Hal yang sama bisa Anda amati pada potongan kaki katak: taburkan garam pada kaki katak yang baru dipotong, dan kaki itu akan bergerak. Sebenarnya, organisme apa pun yang baru saja mati masih bisa merespons rangsangan, terutama otot cumi-cumi yang kaya akan adenosina trifosfat (ATP), sumber energi utama untuk kontraksi otot.
Video kontroversi
Video yang viral tersebut memicu banyak komentar di media sosial: tuduhan bahwa cumi-cumi dimakan hidup-hidup, bahwa hal itu keji, dan bahwa orang Jepang makan cumi dengan cara seperti itu. Sebagian besar komentar itu muncul karena kurangnya konteks, bukan karena ketidakpedulian. Di bawah ini adalah video viral yang dimaksud:
Pada video di bawah ini, cumi-cumi sedang disiapkan untuk hidangan tradisional dalam versi yang lebih panjang, tanpa tarian. Perhatikan bagaimana tubuhnya tetap bergerak setelah kepalanya dipotong:
Kesalahpahaman budaya
Banyak orang salah paham, menganggap Jepang memiliki kebiasaan memakan makhluk hidup. Di Jepang sendiri, serangga, anjing, atau apa pun yang Anda anggap menjijikkan bukanlah bagian dari kuliner sehari-hari; yang paling ekstrem pun biasanya masih berupa ikan dan makanan laut. Tentu saja, seperti di negara mana pun, Anda bisa saja menemukan restoran dengan tawaran yang tidak biasa, tetapi itu bukan cerminan kuliner Jepang secara umum.
Ada pula kebiasaan buruk yang mengerikan: menghakimi kuliner sebuah negara hanya dari satu hidangan. Anda protes karena di Tiongkok ada yang makan anjing, tetapi di Brasil ada yang makan kelinci, yang bagi banyak orang tampak jauh lebih lucu. Setiap negara punya hidangan yang dianggap keji oleh orang asing; di Jepang bukan anjing, dan bukan pula serangga. Keberadaan beberapa hidangan yang tampak ekstrem tidak berarti seluruh populasi menikmatinya. Biasanya, kurang dari satu persen penduduk sebuah negara yang cukup berani untuk mencoba hidangan-hidangan semacam itu.
Topik ini sebenarnya sudah sering dibahas dalam diskusi soal apakah orang Jepang makan anjing atau serangga.
Hidangan serupa
Jepang memang tidak lepas dari hidangan-hidangan yang bisa membuat orang asing terkejut, salah satunya Shirouo no Odorigui (シロウオの踊り食い) yang secara harfiah berarti "Makan Ikan Es yang Menari". Dalam hidangan ini, beberapa ikan transparan kecil diletakkan di dalam mangkuk berisi telur mentah; mereka bergerak-gerak di dalam mangkuk dan tetap bergerak ketika dikunyah.
Ada beberapa hidangan lain yang menggunakan bahan hidup atau sangat segar, untuk konteks:
- Ikizukuri - sashimi yang disajikan dengan bahan masih sangat segar;
- Odori ebi - udang yang disantap dalam keadaan masih segar sekali;
- Sannakji - gurita yang disajikan dalam keadaan sangat segar (hidangan Korea).
Daftar di atas sering dikutip dalam diskusi tentang kuliner Jepang, tetapi sekali lagi, hidangan-hidangan itu bukan wakil dari cara makan mayoritas orang Jepang. Untuk eksplorasi lebih luas soal hidangan-hidangan aneh dan tidak biasa yang bisa Anda coba di Jepang, kami sudah menyiapkan daftar tersendiri.
Penutup
Katsu Ika Odori-don adalah contoh bagus tentang bagaimana sebuah klip pendek bisa memicu kesalahpahaman besar. Cumi-cumi di dalam mangkuk itu sudah mati sebelum ditata di atas nasi; yang bergerak adalah respons kimiawi antara natrium klorida dari kecap dan sel-sel saraf yang masih aktif. Hidangan ini juga bukan simbol kuliner Jepang, melainkan sebuah kreasi spesifik dari sebuah restoran di Hakodate, dengan harga donburi kelas atas dan bahan laut yang benar-benar segar.
Jika Anda tertarik dengan hidangan-hidangan lain yang tampak mengejutkan dari luar, atau ingin memahami lebih dalam soal konteks budaya yang sering disalahpahami, arsip kuliner Jepang di Suki Desu punya banyak artikel yang bisa Anda jelajahi.
Komunitas
Komentar
0 komentar
Belum ada komentar yang diterbitkan dalam bahasa ini.
Kirim komentar