Jepang adalah negara monarki konstitusional, dan karena itulah Jepang memiliki seorang kaisar — kadang disebut "kaisar Jepang" atau cukup tennō (天皇) — untuk mewakili bangsa dan negaranya.
Sepanjang sejarahnya, Jepang sudah memiliki lebih dari seratus kaisar. Masa-masa itu terbagi dalam berbagai periode sejarah. Salah satu yang paling dikenal adalah Periode Edo. Di zaman modern, tercatat empat kaisar, termasuk kaisar yang saat ini bertahta, Kaisar Naruhito, yang naik takhta pada tahun 2019 setelah ayahnya, Kaisar Akihito, turun tahta. Dan di antara para kaisar yang membentuk Jepang seperti yang kita kenal sekarang, Kaisar Meiji menempati tempat yang istimewa.
Dalam artikel ini saya ingin mengajak Anda menelusuri mengapa Meiji dianggap sebagai salah satu kaisar paling berpengaruh dalam sejarah modern Jepang. Kita akan mulai dari sebuah istilah yang sering bikin bingung, nama anumerta, lalu membahas hidupnya, Restorasinya, dan beberapa fakta menarik yang jarang muncul di ringkasan umum.
Daftar isi 7
Nama anumerta: apa sebenarnya artinya
Istilah anumerta berasal dari bahasa Latin dan secara harfiah berarti "setelah kematian". Dalam tradisi Jepang, nama anumerta adalah gelar kehormatan yang diberikan secara resmi kepada seorang kaisar hanya setelah wafatnya. Tidak ada kaitannya dengan nama lahir: nama ini merujuk pada era atau masa pemerintahan yang didefinisikan oleh kaisar tersebut.
Dalam tradisi kekaisaran Jepang, nama anumerta biasanya mengikuti nama era. Itulah sebabnya kaisar yang kita bahas dalam artikel ini secara resmi menyandang gelar Meiji Tennō (明治天皇), yang berarti "Kaisar Era Pemerintahan yang tercerahkan". Nama era Meiji sendiri dipilih pada tahun 1868 ketika kekuasaan kekaisaran dipulihkan, dan belakangan juga menjadi nama anumertanya.
Tidak jarang nama anumerta ini tertukar dengan nama era (nengō, 年号) atau nama kuil. Nama era menunjukkan tahun-tahun ketika seorang kaisar memerintah Jepang; setiap era baru memulai nengō baru dan menjadi penanda kalender Jepang. Nama kuil adalah kategori terpisah dari tradisi Tionghoa yang juga digunakan di Jepang. Selain itu, ada pula praktik Buddhis bernama kaimyō (戒名), yang tujuannya mirip, tetapi lebih sering diberikan semasa hidup dan juga berlaku untuk orang biasa di luar keluarga kaisar.

Kaisar Meiji (Mutsuhito): sosok di balik gelar
Nama lahirnya adalah Mutsuhito (睦仁). Kaisar Meiji (明治天皇, Meiji Tennō) adalah salah satu figur paling menentukan dimulainya zaman modern Jepang: dialah yang mengubah Jepang menjadi negara seperti sekarang ini.
Ia hidup selama 59 tahun, dan masa pemerintahannya berlangsung selama 45 tahun (1867–1912), menjadikannya salah satu masa pemerintahan terpanjang dalam sejarah kekaisaran Jepang. Sekali lagi, ini soal durasi sejarah, bukan kekuasaan politik murni: di sebagian besar tahun-tahun itu, kekuasaan nyata berada di tangan sekelompok negarawan dan oligarki yang dikenal sebagai genrō, tetapi legitimasi tetap bersumber dari takhtanya.
Pangeran Mutsuhito naik takhta pada usia baru 14 tahun, pada tahun 1867, di tengah gejolak politik besar. Restorasi Meiji yang terjadi setahun kemudian mengembalikan kekuasaan kepada kaisar, mengakhiri lebih dari dua setengah abad pemerintahan Shogunat Tokugawa, dan menutup secara resmi Periode Edo. Keluarga kekaisaran, yang selama berabad-abad bermarkas di Kyōto, pindah pada tahun 1868 ke ibu kota baru: Kota Edo berganti nama menjadi Tokyo, secara harfiah berarti "Ibu Kota Timur", dan menjadi simbol Jepang yang membuka diri terhadap dunia luar.
Kaisar muda ini kemudian mengadopsi nama era Meiji ("pemerintahan tercerahkan"), sejalan dengan gagasan yang ingin menuntun era baru: westernisasi secara selektif, modernisasi industri, pendidikan umum, dan tentara modern dengan gaya Eropa. Kaisar sendiri tidak pernah ke luar negeri, tetapi selama bertahun-tahun ia mengirim kader-kader terbaik bangsawan ke mancanegara — utamanya lewat Misi Iwakura (1871–1873), delegasi besar yang menjelajahi Amerika Serikat dan Eropa untuk mempelajari secara langsung tata kelola, industrialisasi, dan pendidikan di negara-negara Barat.
Haruko, permaisuri yang tak banyak dibicarakan
Istri Kaisar Meiji, Haruko (美子), yang kemudian dikenal sebagai Permaisuri Shōken, adalah salah satu perempuan pertama dari bangsawan Jepang yang bersekolah di luar negeri dan menjadi motor di balik pengembangan keperawatan modern serta berbagai karya sosial di Jepang. Ia ikut mendirikan Palang Merah Jepang pada tahun 1877 dan, menurut catatan istana, merupakan pendamping yang pendiam namun berpengaruh di tahun-tahun terberat Restorasi.
Restorasi Meiji: tonggak yang perlu Anda ingat
Restorasi Meiji bukan sebuah dekrit tunggal: ia adalah satu dekade reformasi mendalam yang mengubah Jepang dari akar. Berikut adalah tonggak-tonggak penting yang layak diingat:
- 1871: Penghapusan sistem feodal (han) dan jabatan Shogun. Jepang berhenti menjadi kumpulan domain bangsawan dan berubah menjadi negara terpusat dengan sistem prefektur.
- 1872: Pembentukan sistem pendidikan modern dengan model Perancis dan Jerman. Untuk pertama kali, pendidikan dasar diwajibkan dan kurikulum nasional diseragamkan.
- 1873: Reformasi kalender dengan adopsi sistem matahari Barat dan penetapan wajib militer dengan model Prussia.
- 1889: Pemberlakuan Konstitusi Meiji, konstitusi pertama di Asia. Jepang tampil sebagai monarki konstitusional dengan parlemen (Diet) dua kamar.
- 1894–1895: Perang Sino-Jepang. Jepang mengalahkan Dinasti Qing dan menegaskan diri sebagai kekuatan regional.
- 1904–1905: Perang Rusia-Jepang. Jepang mengalahkan Rusia, menjadi negara Asia pertama yang mengalahkan kekuatan Eropa, dan masuk ke klub negara-negara besar dunia.
- 1910: Aneksasi Korea. Sisi terang masa Meiji di sini bercampur dengan kebijakan kolonial yang meninggalkan luka mendalam di kawasan tersebut.

Fakta menarik tentang Kaisar Meiji
Di balik judul-judul besar, ada detail yang sering luput dari buku teks dan membantu memahami sosok serta zamannya:
- Ia hidup di antara dua dunia. Lahir pada tahun 1852, masih di tengah Periode Edo, dan wafat pada tahun 1912, di Jepang yang sudah punya konstitusi, angkatan modern, jalur kereta, dan industri berat yang setara dengan Eropa. Nyaris tak ada hidup lain yang merangkum transformasi sebuah bangsa seutuhnya.
- Ia menggemari susu. Catatan istana menyebutkan bahwa Kaisar Meiji mulai rutin minum susu setelah terpengaruh kebiasaan Barat, yang pada masa itu sangat jarang di Jepang. Kebiasaan ini menjadi semacam anekdot nasional.
- Hanya sekali kembali ke Kyōto. Meskipun Kyōto tetap menjadi ibu kota spiritual istana, Meiji hanya kembali secara resmi satu kali selama pemerintahannya, yaitu pada tahun 1877. Ibu kota yang sebenarnya sudah pindah ke Tokyo.
- Pecinta sake berat. Ada catatan bahwa ia bisa menghabiskan sampai enam botol sake dalam satu malam. Anekdot ini populer karena kontras dengan citra resmi kaisar yang penuh wibawa.
- Ia memiliki lima belas anak. Putra mahkotanya adalah Kaisar Taishō, dan di antara keturunannya juga terdapat Kaisar Shōwa (Hirohito) dan anggota keluarga kekaisaran Jepang saat ini.
- Kematiannya mengguncang bangsa. Kaisar Meiji wafat pada 30 Juli 1912. Upacara negara untuknya menjadi prosesi kekaisaran pertama yang diabadikan secara modern dan menandai dimulainya berkabung nasional dengan nuansa yang terasa sangat kekinian.
Menyaksikan warisan Meiji hari ini
Kalau Anda berkunjung ke Tokyo, dua tempat akan membantu memahami periode ini dengan lebih hidup. Yang pertama adalah Kuil Meiji-jingū, dibangun pada tahun 1920 untuk menghormati Kaisar Meiji dan Permaisuri Shōken. Kuil ini adalah oasis hijau di tengah kota dan titik awal yang baik untuk memahami betapa kuatnya sosok ini masih dikenang. Yang kedua adalah Museum Nasional Tokyo di Ueno, tempat penyimpanan benda-benda, pakaian, dan dokumen resmi dari era Meiji.
Jika Anda tertarik dengan Restorasi itu sendiri, Taman Restorasi di Kyōto, dekat istana kekaisaran, memperingat momen ketika kaisar muda mengkonsolidasikan kekuatannya dan menutup era Shogunat.
Penutup
Kaisar Meiji wafat pada tahun 1912 setelah lebih dari empat dekade memerintah. Namanya tetap lekat dengan salah satu proses modernisasi paling cepat dan mendalam yang pernah dijalani sebuah negara. Namun, warisan Meiji tidak hanya sisi terang: bersama industrialisasi dan keterbukaan datang pula jalan menuju militerisme, kolonialisme di Korea dan Taiwan, dan bayang-bayang Perang Pasifik di kemudian hari. Mengingat periode ini secara utuh, sisi gemilang dan sisi yang tidak nyaman, adalah cara terbaik untuk memahaminya.
Kalau Anda ingin terus menelisik, langkah berikutnya yang alami adalah membaca tentang Restorasi Meiji, Misi Iwakura, dan sosok Permaisuri Shōken — sering terlupakan, tetapi kunci untuk memahami Jepang di akhir abad ke-19. Apakah Anda lebih condong melihat Meiji sebagai "bapak Jepang modern", atau ingin juga menimbang sisi yang lebih gelap dari warisan ini? Kalau ada bagian yang mengejutkan Anda, saya senang mendengar cerita Anda di kolom komentar.
Kalau artikel ini bermanfaat bagi Anda, lihat juga panduan kami tentang sejarah kekaisaran Jepang di masa Meiji.
Komunitas
Komentar
0 komentar
Belum ada komentar yang diterbitkan dalam bahasa ini.
Kirim komentar