Sensō-ji (浅草寺), terletak di distrik Asakusa, Tokyo, adalah kuil Buddha tertua di kota itu. Didedikasikan untuk bodhisattva Kannon (Avalokiteśvara), yang juga disebut Asakusa Kannon, kuil ini tetap menjadi tempat ibadah dan, menurut kuil, menarik sekitar 30 juta pengunjung setiap tahun.
Asal-usul kuil ini berawal dari legenda tahun 628. Dua bersaudara nelayan, Hinokuma Hamanari dan Takenari, menemukan patung Kannon di Sungai Sumida. Kepala desa, Haji no Nakatomo, menyadari pentingnya temuan itu secara spiritual dan mengubah rumahnya menjadi kuil kecil. Pada tahun 645, pendeta Shōkai mendirikan Sensō-ji di lokasi sekarang. Gambar utama tetap tersembunyi sejak saat itu.

Daftar isi 12
Sejarah Sensō-ji dan relevansi budayanya
Sejarah Sensō-ji mencakup lebih dari 1.300 tahun: dari pendirian, kebakaran dan perang, sampai pembangunan kembali pascaperang.
Dari pendirian hingga relevansi saat ini
Sensō-ji dibangun untuk menghormati Kannon, bodhisattva welas asih, salah satu figur paling diagungkan dalam Buddhisme Jepang. Pada periode Edo (1603-1868), kuil ini menjelma menjadi pusat spiritual dan budaya, menarik jemaah sekaligus pelancong. Tokugawa Ieyasu menetapkannya pada 1590 sebagai kuil doa keshogunan.
Setelah porak-poranda akibat pemboman Maret 1945, bangunan utama dibangun kembali pada 1958 dengan beton bertulang, sambil menjaga bentuk luar bangunan sebelumnya. Kaminarimon menyusul pada 1960, Hōzōmon pada 1964, dan pagoda berlantai lima pada 1973.
Arsitektur dan seni kuil
Pintu masuk Sensō-ji ditandai oleh Kaminarimon (Gerbang Guntur), dengan lentera merah raksasanya, salah satu titik paling banyak difoto di Tokyo. Setelah melewati gerbang Hōzōmon, pengunjung tiba di bangunan utama kuil, yang dibangun kembali dengan gaya tradisional Jepang. Kompleks ini juga memiliki pagoda berlantai lima, beberapa ruang ibadah, dan patung-patung sakral.
Kaitan dengan Shintoisme
Di samping bangunan utama Buddha berdiri Asakusa-jinja. Tokugawa Iemitsu mendirikan kuil Shinto itu pada 1649. Tempat ini menghormati tiga tokoh pendiri Sensō-ji. Letak berdampingan seperti ini adalah cara Buddhisme dan Shinto dijalani di Asakusa.
Mengalami Sensō-ji: ritual dan praktik tradisional
Mengunjungi Sensō-ji adalah menyelami ritual tradisional dan praktik spiritual yang memesona, baik bagi jemaah maupun wisatawan.
Ritual pemurnian
Tepat di pintu masuk kuil, terdapat kuali dupa besar. Meniupkan asap ke tubuh sendiri dipercaya sebagai tindakan pemurnian yang membawa keberuntungan dan kesehatan. Ritual lainnya adalah temizu: di sebuah mata air suci, pengunjung mencuci tangan dan mulut sebelum memasuki area utama kuil.
Doa dan persembahan
Di altar utama, pengunjung dapat melakukan omairi, doa yang biasa dilakukan di kuil. Umumnya orang melempar koin ke kotak persembahan, membungkuk, lalu menangkupkan telapak tangan (gasshō). Kuil menganjurkan ucapan Namu Kanzeon Bosatsu, artinya saya menaruh kepercayaan pada bodhisattva Kannon. Tepuk tangan dua kali adalah bagian dari tata cara di Asakusa-jinja. Anda juga dapat meramal nasib dengan omikuji, kertas ramalan yang bisa diikatkan di kuil bila hasilnya kurang baik.
Festival dan acara
Festival terbesar Asakusa adalah Sanja Matsuri, pada akhir pekan ketiga bulan Mei. Festival itu merayakan Asakusa-jinja dan menghormati tiga pendiri Sensō-ji. Prosesi mikoshi dan tarian tradisional kemudian memenuhi jalan-jalan Asakusa. Sepanjang tahun, kuil sendiri menambah Hatsumōde, Setsubun, pasar Hōzuki pada Juli, dan pasar hagoita pada Desember.

Nakamise-dōri dan sekitar Sensō-ji
Di luar makna spiritualnya, Sensō-ji dikelilingi berbagai daya tarik yang membuat kunjungan semakin berkesan.
Jalan perbelanjaan Nakamise-dōri
Jalan Nakamise-dōri, yang menghubungkan gerbang Kaminarimon dengan kuil, menampung sekitar 89 toko tradisional yang menjual suvenir, manisan khas, dan kerajinan Jepang. Dengan panjang 250 meter, tempat ini sempurna untuk membeli kimono, kipas lipat, atau mencicipi ningyō-yaki, kue kecil berisi pasta kacang merah manis.
Tempat wisata terdekat
Sensō-ji berlokasi strategis di Asakusa, dekat dengan berbagai titik ikonik lainnya:
- Tokyo Skytree: menara tertinggi di Jepang, beberapa menit ke timur sepanjang Sumida, dengan pemandangan panorama yang memukau.
- Sungai Sumida: ideal untuk naik perahu atau berjalan santai.
- Taman Ueno: kawasan bersejarah dengan museum, kebun binatang, dan suasana yang memesona, terutama saat musim bunga sakura.

Taman dan kuil kecil
Di sekitar Sensō-ji, Anda akan menemukan taman, aula kecil, dan monumen bersejarah. Taman Dembō-in berada di belakang kompleks dan lebih tenang daripada Nakamise-dōri.
Sumbu dari Kaminarimon lewat Nakamise-dōri sampai bangunan utama adalah jalur yang sama yang sudah dilalui peziarah Edo. Di sampingnya berdiri Asakusa-jinja, yang festivalnya menghormati para pendiri Sensō-ji. Siapa yang datang ke sini melihat ibadah, perdagangan, dan kampung dalam beberapa ratus meter.

Komunitas
Komentar
0 komentar
Belum ada komentar yang diterbitkan dalam bahasa ini.
Kirim komentar