Selera kecantikan di Jepang memang tidak mengikuti cetakan yang sama dengan Brasil atau Eropa. Yang dianggap seksi di Tokyo bisa terasa “lembut” bagi orang luar — dan sebaliknya.
Saya bahkan tidak perlu menjelaskan bahwa selera itu pribadi! Jadi hanya karena saya menyinggung sesuatu di sini, bukan berarti 100% orang Jepang setuju, apalagi dengan pengaruh Barat yang membuat selera semakin beragam. Dulu, pegulat sumo pun bisa dianggap seksi dan punya istri yang cantik. Sekarang, banyak gadis muda justru tergila-gila pada cowok yang kelihatan androgin.
Daftar isi3
Bagaimana pria dianggap tampan dan seksi di Jepang?
Beberapa wanita menyukai pria dengan mata sipit, bibir tipis, dagu ramping, dan ciri Asia yang sangat jelas. Yang lain justru jatuh pada wajah yang sedikit kebaratan: mata lebih bulat, bulu mata panjang, kesan seperti orang Eropa. Di Jepang, konsep pria macho yang kaku hampir tidak jadi ukuran. Banyak wanita lebih nyaman dengan pria yang lembut.
Kata yang paling lazim di percakapan sehari-hari untuk pria tampan adalah ikemen (イケメン): bukan hanya wajah ganteng klasik, tapi tampilan rapi, ramping, dan punya pesona. Istilah itu menampung selera yang berbeda — dari wajah yang sangat Jepang sampai yang lebih tajam.
Wanita sering menganggap lucu pria dengan kulit halus, kesan androgin, dan rambut yang ditata rapi — kadang diwarnai. Cukup perhatikan gaya band yang populer di kalangan gadis muda. Beberapa bahkan bilang rambutnya harus terbang! Kemampuan memasak juga jadi sorotan. Yang diharapkan sekarang sering lebih sederhana dan lebih menuntut sekaligus: pria yang peka, bersih, dan seksi — bukan yang paling kaya.
Di Jepang, sebagian pria menghabiskan lebih banyak uang untuk kosmetik daripada wanita. Mereka semakin terobsesi pada kulit. Dulu samurai dan pegulat sumo mencukur sebagian kepala; sekarang pria yang botak beralih ke produk, obat, sampai rambut palsu. Soal makeup, angkanya sudah jauh dari “hal aneh”. Survei Intage tahun 2024 terhadap 5.000 orang berusia 15–79 tahun menemukan sekitar 60% memandang positif pria yang merawat kulit dan memakai riasan; opini negatif di bawah 10% di semua kelompok usia dan gender. Pengaruh K-beauty dan kebiasaan melihat wajah sendiri di rapat daring ikut mendorong riasan tipis.
Janggut, kumis, dan rambut wajah memang tidak umum. Selain tumbuh lebih sedikit pada banyak pria Jepang, di tempat kerja pun jarang didorong. Ada keluhan dan aturan tidak tertulis soal pria berjanggut di sejumlah lingkungan. Beberapa memakai janggut atau kumis palsu di luar jam kantor. Tas, perhiasan, dan aksesori lain juga semakin kelihatan di bahu pria.
Salon, makeup, dan pria herbivora
Konsep ini menghasilkan hal yang bagi orang luar terasa aneh, padahal di Jepang sudah biasa. Ada salon kecantikan pria yang menawarkan waxing tubuh, perawatan kulit, manikur, sampai kelas makeup. Yang laris: lumpur wajah, waxing kaki, dan bentuk alis.
Jangan samakan semua itu dengan “pria yang tidak suka wanita”. Ada istilah lain yang sering dicampur: sōshoku-kei danshi (草食系男子), pria herbivora. Kolumnis Maki Fukasawa memakai istilah itu pada 2006 untuk pria yang tidak agresif mengejar percintaan — bukan otomatis tidak tertarik, tapi tidak “makan daging” dalam arti mengejar. Sebagian memang menjauh dari kencan dan seks; yang lain hanya lebih pasif, lebih peduli rambut dan pakaian.
Beberapa pria membeli bra dan bilang mereka lebih rileks. Yang lain memakai pakaian wanita tanpa tertarik pada pria. Ada juga yang kencan dan berbagi pakaian serasi dengan pacar. Di panggung, penyanyi Visual Kei sudah lama naik dengan sepatu hak, celana berkilau, dan boneka beruang di tangan.
Secara umum, gadis Jepang memang sering menyukai sosok androgin bergaya Visual Kei. Ini bukan tren semalam. Akarnya kelihatan di teater kabuki: di masa lalu daimyo dan tuan tanah dipuji karena wajah cantik dan makeup. Maskulinitas di Jepang tidak ditentukan hanya oleh otot. Dan ingat: ini tidak berarti semua wanita Jepang menyukai pria setengah androgin. Itu bukan mayoritas.
Yang lebih sering kelihatan: salaryman, bukan sampul idola
Memang benar: di Jepang tidak wajib punya otot besar dan tampilan macho setinggi langit. Itu tidak berarti pria Jepang tidak punya sikap tegas. Sejarah samurai cukup untuk mengingatkan soal disiplin dan kerja keras. Yang sering salah dibaca orang Barat sebagai “lemah” justru kesopanan. Wanita Jepang menyukai pria yang berani dan percaya diri, tapi mereka melihat kepekaan, perhatian, dan keanggunan lebih dulu.
Meskipun itu citra ideal di majalah, kebanyakan pria tidak terlalu peduli dengan penampilan selevel idola. Jauh lebih umum menemukan rambut hitam rapi dan jas daripada wajah sampul. Di sekolah, seragam dan aturan rambut sudah menanamkan standar; di kantor, standar itu berlanjut. Pria yang dianggap cantik dan elegan lebih mudah ditemukan di mode, musik, dan tari — penyanyi dan idola. Karena tipe itu terasa jauh, sebagian wanita pergi ke klub host: bar malam dengan pria yang dibayar untuk menemani percakapan, bukan klub hostess yang justru diisi wanita untuk tamu pria.
Wanita Jepang — dan wanita pada umumnya — melihat kepribadian lebih dulu, baru penampilan. Jadi tidak masalah apakah kita cantik, berambut pirang besar, atau memakai pakaian warna-warni yang mencolok. Cukup terlihat rapi, kita sudah bisa dianggap tampan, meski hanya oleh satu wanita Jepang. Kalau kamu punya tipe sendiri, tulis di komentar. xD
Spesialis dengan pengalaman lebih dari 10 tahun dalam budaya Asia, berfokus pada Jepang, Korea, anime, dan game. Otodidak, penulis, dan pelancong yang fokus mengajarkan bahasa Jepang, tips wisata, dan fakta menarik yang mendalam.
Komunitas
Komentar
0 komentar
Belum ada komentar yang diterbitkan dalam bahasa ini.
Komunitas
Komentar
0 komentar
Belum ada komentar yang diterbitkan dalam bahasa ini.
Kirim komentar