Apakah Anda tahu apa itu Japanophile atau Japanophilia? Banyak orang menyukai anime dan manga, lalu menyebut diri otaku. Di Jepang, kata itu sering tidak dipandang baik. Orang Jepang juga memakainya sebagai olokan.
Sebaliknya, ada orang yang menyukai budaya Jepang, penduduknya, dan sejarahnya, tetapi tetap bersikeras memakai sebutan yang sama. Kalau Anda salah satunya, sesudah membaca ini Anda punya istilah lain untuk diri sendiri.
Ya, tebakannya tidak sulit: istilah di pertanyaan pertama itulah yang sedang kita bicarakan. Tenang, kita uraikan pelan-pelan supaya bedanya dengan otaku kelihatan.
Daftar isi 4
Apa arti Japanophile?
Japanophilia adalah nama untuk ketertarikan yang kuat pada negara, budaya, atau orang Jepang. Japanophile adalah orang yang secara khusus mengagumi dan menyukai Jepang atau cara hidup orang Jepang. Oxford English Dictionary mencatat kata benda ini sejak 1905, dalam tulisan Douglas Sladen. Dalam bahasa Inggris modern, frekuensinya tetap di bawah 0,01 kemunculan per sejuta kata.
Dalam bahasa Jepang, sikap baik seorang asing terhadap Jepang disebut shinnichi (親日). Daijisen mengartikannya sebagai orang asing yang menaruh hati pada Jepang, dan mencontohkan shinnichika (親日家) serta shinnichiha (親日派). Lawannya adalah hannichi (反日).
Sedikit sejarah tentang Japanophile
Kekaguman orang Eropa pada Jepang sudah ada jauh sebelum kata Inggrisnya tercatat di kamus. Pada zaman Edo, kontak dengan luar negeri dibatasi, dan pos Belanda di Dejima, Nagasaki, menjadi jalan masuk bagi orang Eropa. Carl Peter Thunberg, botanikus Swedia, tiba di Dejima pada Agustus 1775. Pada 1784 ia menerbitkan Flora Japonica.
Philipp Franz von Siebold, dokter dari Bavaria, tiba di pos dagang yang sama pada 1823 dan tinggal hampir enam tahun. Ia mengumpulkan tumbuhan, hewan, karya seni, dan peta. Pada 1828 peta Jepang, denah Kastil Edo, dan survei Sakhalin ditemukan di antara barang yang akan dibawa keluar negeri. Sesudah diperiksa, ia diusir.
Lafcadio Hearn, penulis keturunan Irlandia dan Yunani, tiba di Jepang pada 1890 dan kemudian dikenal sebagai Koizumi Yakumo. Jules Brunet, perwira tentara Prancis, berperan dalam Perang Boshin.
Abad ke-20
Pada dasawarsa pertama abad ke-20, beberapa penulis Inggris memuji Jepang, di antaranya Beatrice Webb. H.G. Wells, dalam novel A Modern Utopia (1905), menamai golongan bangsawan sukarela yang menjalankan negara rekaannya sebagai samurai. Di buku itu, nama tersebut disebut mengingatkan pada pendekar Jepang.
Sebagian pujian itu muncul ketika keunggulan industri Inggris menyusut, sementara Jepang dan Jerman naik. Jerman terasa sebagai saingan yang dekat. Lewat Aliansi Anglo-Jepang, Jepang masuk Perang Dunia I di pihak Inggris dan Sekutu. Aliansi itu berjalan dari 1902 sampai 1923 dan ditutup oleh Four-Power Treaty tahun 1921.
Berganti dari otaku ke Japanophile?
Menonton anime, membaca light novel, dan manga tetap sah-sah saja. Di luar Jepang, pola itu disebut otaku. Kalau minat Anda, seperti minat kami, meluas ke sejarah, bahasa, atau kehidupan sehari-hari, Japanophile lebih dekat dengan arti kamusnya. Saat berkunjung ke Jepang, menyebut diri otaku tetap bisa terdengar kurang enak.
Japanophile sendiri jarang dipakai. Catatan frekuensi di Oxford membantu menjelaskan kenapa banyak orang yang menyukai Jepang tidak mengambil kata ini untuk diri sendiri. Pengucapan Inggrisnya juga tidak mudah ditebak dari ejaan.
Di dekat keduanya ada weeaboo. Otaku dan weeaboo sama-sama bisa dipakai untuk merendahkan. Saya percaya yang terbaik adalah tidak menamai diri sendiri apa pun.
Tidak ada yang memaksa Anda memilih sebutan. Keputusan itu tetap di tangan Anda. Kalau ada keraguan atau usul, tulis saja di komentar. Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Sampai jumpa.






Komunitas
Komentar
0 komentar
Belum ada komentar yang diterbitkan dalam bahasa ini.
Kirim komentar