Apakah Anda pernah mendengar bumbu Jepang yang disebut furikake? Ini terdiri dari kombinasi bahan-bahan kering dan halus untuk digunakan dalam masakan Jepang atau hanya ditaburkan di atas nasi untuk memberi rasa.
Furikake [振り掛け] adalah gabungan dari kata kerja furi [振り] yang berarti mencampur, mengocok, menggoyangkan dengan kata kerja kake [掛け] yang berarti menuang, menjatuhkan atau menggantung. Nama ini sangat berhubungan dengan kombinasi bumbu ini.
Umumnya berwarna-warni dan berkilau, dengan rasa ikan atau makanan laut yang ringan dan terkadang pedas. Ada variasi yang sangat banyak dari furikake, orang Jepang bahkan bisa membuatnya sendiri di rumah.
Daftar Isi
Bagaimana cara menggunakan furikake
Furikake adalah bumbu untuk digunakan sebagai pengganti garam pada nasi Jepang yang biasanya dimasak tanpa garam. Cukup buka kemasannya, kocok dan taburkan ke atas nasi lalu makan. Rasanya sangat lezat.
Ini juga bisa digunakan dalam masakan Jepang untuk mengawetkan makanan dan onigiri (nasi kepal). Artinya, jika digunakan sebagai bumbu, bisa digunakan untuk memberi warna dan rasa pada resep lain.

Sejak 2003, ia semakin diterima di AS (terutama di Hawaii dan pantai barat) sebagai bumbu untuk ikan panggang atau goreng, salad ikan mentah dan camilan.
Beberapa bumbu Amerika yang menyerupai furikake, tetapi memiliki penggunaan yang sangat berbeda. Ada bumbu ikan yang saya tidak ingat namanya, chimichurri dan bahkan edu guedes. Keduanya memiliki bahan-bahan kering dan halus.
Sejarah Furikake
Dipercaya bahwa furikake muncul pada Periode Taisho (1912-1926) oleh seorang apoteker dari Kumamoto bernama Suekichi Yoshimaru. Awalnya dia hanya ingin mengatasi kekurangan kalsium pada populasi Jepang.
Untuk itu, dia membuat campuran tulang ikan yang dihaluskan dengan biji wijen panggang, biji popi dan rumput laut yang diubah menjadi bubuk. Dia memberi nama Gohan no Tomo yang berarti teman nasi.
Produk ini secara harfiah dibuat untuk dicampur ke dalam nasi dan meningkatkan kalsium dalam masakan Jepang. Produk ini sangat enak sehingga dikomersialkan oleh sebuah perusahaan makanan.

Kemudian muncul variasi di Fukushima yang terbuat dari ikan putih, kombu dan bahan-bahan lain berbasis kecap. Produk ini diluncurkan dengan nama Kore Wa Umai yang berarti ini enak!
Pada awalnya sebagai barang mewah, ketersediaan furikake meningkat drastis pada September 1948 ketika Nissin mulai memproduksinya dalam skala besar, untuk mengatasi malnutrisi di Jepang. Produk ini kaya protein dan kalsium.
Sebagai sumber energi besar bagi tentara Jepang, furikake mendapatkan nama ini hanya pada tahun 1959 dengan munculnya Asosiasi Nasional Furikake. Dahulu setiap produk memiliki nama berbeda sesuai bahan-bahannya.
Bahan-bahan UTAMA furikake
Seperti yang telah disebutkan, ada banyak sekali jenis furikake. Siapa pun bisa mengambil bahan-bahan yang dikeringkan, kering dan dihaluskan dan membuat bumbu mereka sendiri. Lihat di bawah bahan-bahan paling populer:
Nori – Salah satu bahan utama yang menyusun furikake, sejenis lembaran yang terbuat dari rumput laut.
Monosodium glutamat – Garam natrium dari asam glutamat, salah satu asam amino non-esensial yang paling melimpah di alam. Bahan ini digunakan untuk memperkenalkan rasa umami.
Katsuobushi – Adalah daging bonito yang dikeringkan, difermentasi dan dipotong-potong, memberikan rasa umami.
Yuzu – Kulit buah cantik yang masam ini dikeringkan dan digunakan.
Shiso – Sejenis tanaman Asia yang digunakan sebagai hiasan hingga ditemukan bahwa itu bisa dimakan dan memberi warna pada makanan.

Salmón – Kepingan salmon kering adalah salah satu bahan yang cukup populer dalam bumbu. Hanya salmon segar dalam kepingan juga digunakan sebagai taburan di atas nasi.
Biji wijen – Biasanya menggunakan biji wijen utuh atau dihancurkan.
Wasabi – Sejenis akar hijau, biasanya disajikan dalam bentuk pasta, digunakan untuk memperpedas hidangan.
Okaka – Kepingan bonito yang direndam dalam shoyu dan dikeringkan lagi.
Selain bahan-bahan yang disebutkan di atas, digunakan telur kering, miso bubuk, sayuran dan berbagai bahan lain. Imajinasi adalah batasnya!
Gomásio – Alternatif Garam
Selain furikake ada bumbu mirip yang disebut Gomásio [ごま塩], alternatif penting untuk garam, karena tidak menghasilkan efek berbahaya darinya. Gomashio umumnya adalah bahan dari furikake.
Keuntungannya menetralkan keasaman darah, mendukung sekresi cairan pencernaan, merangsang metabolisme serta kaya akan kalsium.

Ini juga disebut garam wijen, cukup dihargai dalam masakan Jepang. Nama Jepang gomashio [胡麻塩] secara harfiah garam [塩] wijen [ごま atau 胡麻].
Selain mereka, ada bumbu lain seperti shichimi yang terbuat dari cabai dan populer dalam sup mie, tanpa menyebut juga ochazuke yang terbuat dari teh hijau.
Di mana membeli Furikake?
Di Jepang Anda dapat dengan mudah menemukannya di toko serba ada atau pasar. Di luar Jepang, furikake dapat ditemukan di sebagian besar pasar oriental dan di bagian makanan Asia di beberapa supermarket besar.


Tinggalkan Balasan