Televisi Jepang dikenal di luar negeri lewat iklan yang membuat penonton asing bingung, dan acara permainannya mendorong reputasi itu lebih jauh. Peserta menjawab kuis di ruangan yang perlahan terisi air, menekuk tubuh melewati dinding yang bergerak, dan berisiko dibalut seperti mumi ketika kalah. Format-format inilah yang membangun citra game show Jepang sebagai tontonan aneh, dan banyak di antaranya sempat tayang atau diadaptasi di luar Jepang.
Banyak klip yang beredar dengan judul samar berasal dari program variety tengah malam. Jarang ada yang berasal dari acara permainan di jam tayang utama. Campuran tekanan dan tingkah konyol itulah yang membuat Jepang terlihat aneh bagi orang luar, meski aturan permainannya sering mudah diikuti.
Daftar isi 4
Klasik yang viral
Tetris Manusia (Brain Wall). Brain Wall adalah segmen dari acara variety Fuji TV, Tunnels no Minasan no Okage Deshita. Klipnya menyebar di situs berbagi video dengan nama Tetris Manusia atau Hole in the Wall. Dinding styrofoam selebar sekitar empat meter dan setinggi 2,3 meter bergerak ke arah peserta dengan lubang berbentuk aneh, dan setiap tim hanya punya beberapa detik untuk menyesuaikan posisi. Peserta yang gagal masuk ke lubang terdorong ke kolam sedalam sekitar 1,5 meter. Konsepnya diadaptasi di sejumlah negara, termasuk versi Inggris di BBC One dan versi Amerika di Fox.
Benteng Takeshi (Takeshi's Castle). TBS menayangkan Takeshi's Castle dari 1986 hingga 1990, dengan Takeshi Kitano sebagai raja benteng yang menyaksikan peserta gagal melewati tantangan berbasis lumpur, air, dan properti yang runtuh. Acara ini populer di luar Jepang, kembali lewat spesial live pada 2005, dan dibuat ulang di Amazon Prime Video pada April 2023. Di Indonesia, acara ini pernah tayang sebagai Benteng Takeshi dan masih dikenang penontonnya.
Silent Library. Segmen di program NTV, Downtown no Gaki no Tsukai ya Arahende!!, meminta para komedian duduk diam di perpustakaan sementara hukuman diarahkan ke salah satu dari mereka. Diam adalah inti permainannya, dan setiap kegagalan jadi bahan tawa. MTV mengadaptasi idenya untuk penonton Amerika dan menayangkan Silent Library dari 2009 sampai 2011.
Kuis dengan hukuman fisik
DERO! DERO! tayang di NTV dari 19 Desember 2009 sampai 9 Maret 2011. Tim dikurung di ruangan bertema dan harus memecahkan teka-teki sebelum jebakan di ruangan itu menyusul mereka. Formatnya dilisensikan di Amerika Serikat oleh Syfy dan menjadi Exit, yang tayang perdana pada 4 Juni 2013.
TORE! dan ruang mumi. TORE! menyusul DERO! di NTV dari 6 Juli 2011 sampai 25 Februari 2013, lalu berlanjut sebagai spesial hingga April 2016. Ruang Mumi yang diperkenalkan pada 13 Februari 2012 memberi satu peserta waktu 60 detik untuk menjawab tujuh pertanyaan pilihan ganda tanpa boleh pas. Kalau semua jawaban benar, mesin mumi berhenti lalu berbalik arah. Waktu yang habis membuat peserta selesai dibalut dan dimasukkan ke peti mati raksasa.

Spesial No Laughing. Downtown no Gaki no Tsukai ya Arahende!! sudah tayang di NTV sejak 1989, dan spesial Malam Tahun Barunya memakai satu aturan: jangan tertawa. Siapa pun yang tertawa akan dihukum, dan sesinya bisa berlangsung berjam-jam.
Tantangan fisik dan ketahanan
SASUKE dan versi Indonesianya. SASUKE pertama tayang di TBS pada 27 September 1997 dan menempatkan sekitar 100 peserta di lintasan rintangan dengan empat tahap. Format ini tumbuh menjadi waralaba Ninja Warrior dengan versi lokal di berbagai negara, termasuk Indonesia: Sasuke Ninja Warrior Indonesia tayang di RCTI dari 20 Desember 2015 sampai 30 Desember 2017.
Susunu! Denpa Shonen. Acara realitas NTV ini tayang dari Januari 1998 sampai September 2002 dan menghasilkan salah satu tantangan paling kontroversial yang pernah tercatat. Komedian Tomoaki Hamatsu, dikenal sebagai Nasubi, ditinggal sendirian tanpa pakaian di sebuah apartemen tanpa kontak dengan dunia luar, dengan satu tujuan: memenangkan satu juta yen lewat undian majalah. Ia mencapai target setelah 335 hari, rekor yang diakui Guinness World Records sebagai waktu terpanjang bertahan hidup dari hadiah kompetisi. Kisahnya dibahas lagi dalam dokumenter The Contestant (2023).

Mengapa klipnya terlihat lebih aneh daripada acaranya
Klip yang dibagikan sebagai game show Jepang sering berasal dari program komedi tengah malam, tempat rasa malu lebih penting daripada hadiah. Beberapa yang terus muncul kembali antara lain menaiki tangga licin, memasukkan tangan ke kotak berisi ular dan laba-laba, atau berlari dari kadal berkostum. Tanpa judul dan nama pembawa acara, momen dua menit itu akhirnya mewakili seluruh televisi Jepang.
Penyebabnya sederhana: Jepang memproduksi variety dalam jumlah besar, dan satu atraksi bisa berpindah melalui beberapa program sebelum sampai ke penonton luar negeri. Format yang sampai ke luar negeri biasanya punya aturan fisik yang jelas, seperti dinding berlubang atau ruangan yang terisi air.

Yang tampak ekstrem di layar ponsel umumnya tetap mengikuti desain permainan yang bisa dikenali: aturan sederhana, konsekuensi fisik, dan kamera yang siap merekam saat sesuatu berjalan salah. Desain inilah yang membuat format Jepang bisa diekspor ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Penonton tidak perlu mengerti bahasanya untuk tahu apa yang sedang dipertaruhkan.




Komunitas
Komentar
0 komentar
Belum ada komentar yang diterbitkan dalam bahasa ini.
Kirim komentar