Kalau sering nonton anime, sosok Oni hampir pasti sudah lewat di layar: bertanduk, berotot, dan hampir selalu digambarkan sebagai ancaman. Di mitologi dan folklore Jepang, makhluk itu memang “ada” — bukan di dunia nyata, melainkan sebagai figur yang ditakuti karena bisa membawa malapetaka bagi manusia.
Di sini kita mengupas arti Oni (鬼), ciri fisik yang paling sering muncul, pengaruh agama Buddha, posisinya di antara yōkai, serta bagaimana festival, sastra, dan anime masih memakai wajahnya hari ini.

Daftar isi 5
Apa arti Oni?
Istilah Oni (鬼) sering diterjemahkan sebagai ogre, setan, atau makhluk jahat yang memangsa manusia. Gambaran visualnya biasanya menakutkan: tubuh besar, kuku tajam, taring, dan warna kulit yang mencolok — merah dan biru yang paling dikenal, meski versi lain juga ada.
Ada anggapan bahwa Oni adalah semacam “dewa yang cacat”: kebalikan dari peran dewa yang melindungi. Dalam cerita, mereka sering dikaitkan dengan tragedi, wabah, atau kekerasan. Meski begitu, dalam ritual dan festival Jepang, Oni juga bisa diperlakukan sebagai sosok penolak bala — ditakuti dan, pada saat yang sama, “diusir” agar musim baru datang lebih aman.
Beberapa tradisi menjelaskan asal-usul Oni lewat nasib manusia. Yang pertama: orang yang sangat jahat semasa hidup, setelah mati, berubah menjadi Oni dan berperan menyiksa jiwa-jiwa di neraka (terutama dalam kerangka imaginasi Buddhis). Hipotesis lain, yang lebih sering muncul di dongeng, menyebut bahwa seseorang bisa berubah menjadi Oni masih hidup, lalu menyengsarakan orang lain — bahkan memakannya.
Gambaran Aka-Oni (Oni merah) dan Ao-Oni (Oni biru) sebagai pelayan Enma Daiō, raja dunia orang mati dalam tradisi Buddha, sangat populer di seni dan festival. Itu bukan berarti hanya ada dua Oni di seluruh mitologi Jepang: warna, jumlah tanduk, dan peran bisa berbeda, dari penjaga neraka hingga raksasa pegunungan dalam legenda lokal.

Oni dan datangnya agama Buddha
Agama Buddha berperan besar dalam membentuk budaya Jepang — termasuk citra monster. Setelah Buddha masuk ke archipelago, Oni makin sering digambar dengan bentuk yang mengingatkan pada sosok neraka dalam mitologi yang lebih luas (termasuk figur seperti Yama, dewa orang mati). Dari situ lahir penampilan “ogre” yang kita kenal sekarang.
Oni digambarkan sebagai humanoid besar: wajah bisa menyerupai hewan (monyet, burung, dan lainnya), tanduk kadang hanya tonjolan, kadang raksasa. Pakaiannya sering cawat (fundoshi) dari kulit binatang — motif yang juga mengait ke ikonografi Buddhis. Senjatanya, kanabō (金棒), mirip gada berpaku dari kayu atau logam: lambang kekuatan kasar yang sulit dilawan dengan senjata biasa.

Perbedaan Oni dan yōkai
Yōkai (妖怪) adalah payung besar makhluk supernatural dalam folklore Jepang. Oni sering diperlakukan sebagai salah satu subdivisi yang paling ikonik di dalamnya. Perbedaannya: “yōkai” bisa merujuk hampir apa saja yang aneh atau gaib — dari roh, penampakan, hingga benda berjiwa — sementara Oni cenderung punya wujud “raksasa jahat” yang lebih stabil dalam imajinasi populer.
Tidak ada terjemahan tunggal yang sempurna. Ada yōkai yang netral atau bahkan membantu manusia. Di bawah payung yōkai juga masuk bakemono (yang berubah wujud), tsukumogami (benda dengan roh), dan berbagai sosok yang berbatasan dengan kami (dewa/roh). Bila yōkai dan manusia berhubungan, cerita rakyat kadang menyebut han'yō (半妖): keturunan setengah manusia dengan kekuatan gaib.
Kalau ingin peta lebih luas tentang makhluk-makhluk ini, ada juga panduan daftar yōkai di Suki Desu: daftar yōkai dan makhluk legendaris Jepang. Untuk nuansa yang lebih “kantor gaib”, anime Midnight Occult Civil Servants (真夜中のオカルト公務員) menggambarkan Arata Miyako yang harus menangani masalah okultisme sebagai pegawai negeri malam — cara modern melihat yōkai sebagai bagian dari kehidupan kota, bukan hanya dongeng desa.

Oni di masa kini
Oni tidak cuma tinggal di gulungan kuno. Dalam festival Setsubun (節分), yang menandai pergantian musim menuju musim semi, peserta sering memakai topeng Oni atau melempar kacang sambil mengusir kejahatan: “Oni wa soto, fuku wa uchi” — Oni ke luar, keberuntungan ke dalam. Di situ Oni jadi atraksi sekaligus simbol yang dilindungi diri darinya.
Sosok yang sama muncul di sastra, seni, teater Noh/Kyogen, dan tentu saja anime. Di kartun Jepang, Oni bisa jantan atau betina, tua atau muda, murni jahat atau tragis. Hampir selalu ada pahlawan yang harus menghadapinya — warisan dongeng seperti Momotarō yang masih hidup di layar modern.

Oni dalam anime
Kimetsu no Yaiba membangun hampir seluruh alur di atas “Oni” yang memakan manusia: Tanjiro kehilangan keluarganya, adiknya Nezuko berubah, dan ia mencari cara membalikkan kutukan itu. Versi ini lebih dekat ke iblis pemakan darah di fantasi modern, tapi masih memakai nama dan bayang-bayang folklore.
Di Naruto, imaji monster sekelas Juubi (十尾, Sepuluh Ekor) — terhubung dengan pohon dan Kaguya Ōtsutsuki — sering dibahas sebagai “iblis” raksasa, meski itu bukan Oni klasik bertanduk dan ber-kanabō. Yang penting bagi penonton: rasa takut terhadap kekuatan di luar manusia, bahasa yang folklore Jepang sudah lama pakai untuk Oni.
Di Dragon Ball Z, sepasang Oni merah dan biru muncul di dunia setelah kematian, kadang konyol, dengan kaos bertuliskan Hell. Referensi visualnya dekat dengan pair Aka/Ao Oni, dan bisa dibaca bersama dongeng modern seperti Naita Aka Oni, ogre merah yang menangis — Oni yang justru menyentuh sisi empati.

Banyak anime memakai Oni tanpa selalu mempertahankan kata aslinya di subtitle: ogre, monster, creature, demon. Apapun labelnya, Oni dan yōkai tetap paling “nyaman” tinggal di mitologi dan fiksi — mereka bikin cerita lebih seru, dan jarang ada yang benar-benar ingin bertemu langsung dengan salah satunya di gang gelap.
Dari gerbang arah sial (kimon) sampai topeng Setsubun dan pahlawan shōnen, Oni adalah wajah yang Jepang pakai untuk menamai ketakutan, hukuman, dan — kadang — kekuatan yang digeser menjadi pelindung. Begitu Anda melihat tanduk dan kanabō lagi di layar, Anda sudah tahu dari mana bayangan itu datang.
Komunitas
Komentar
0 komentar
Belum ada komentar yang diterbitkan dalam bahasa ini.
Kirim komentar