Di Golden Week, atap rumah Jepang sering kalah tinggi dari ikan mas kain yang menggelembung di angin. Itu koinobori: bendera koi yang dari jauh kelihatan seperti hiasan musim semi, padahal 5 Mei adalah satu-satunya hari libur nasional yang Jepang berikan khusus untuk anak.
Kalender keluarga tidak berhenti di situ. 3 Maret menata boneka istana untuk anak perempuan. Pertengahan November membawa kimono ke kuil. Tiga tanggal, tiga wajah — dan hanya satu yang mematikan kantor.
Daftar isi 7
Kodomo no Hi — Hari Anak, 5 Mei
Kodomo no Hi (子供の日) secara harfiah berarti hari anak-anak, dan jatuh pada 5 Mei, hari terakhir Golden Week. Di halaman dan taman, keluarga menggantung koinobori sebagai doa kekuatan dan tekad. Ikan hitam terbesar, magoi, biasanya ayah; yang merah, higoi, ibu; yang lebih kecil, anak-anak.
Di dalam rumah muncul boneka samurai, zirah, helm kabuto, dan senjata mini. Banyak keluarga masih memanggil pahlawan Kintarō, serta Shōki dan Momotarō, sebagai penjaga anak laki-laki. Daun iris, shōbu, masuk ke bak mandi: shōbu-yu. Daunnya menyerupai pedang, dan kata shōbu berbunyi sama dengan semangat bela diri — semacam perlindungan yang bisa direndam air panas.
Hanya 5 Mei yang libur nasional. Hina Matsuri (3 Maret) dan Shichi-Go-San (15 November) merayakan anak, tetapi kantor dan sekolah tetap berjalan.
Menurut Pasal 2 Undang-Undang Hari Libur, tujuannya adalah “menghormati kepribadian anak-anak, membuat anak-anak bahagia, dan berterima kasih kepada ibu”. Tanggal resmi ditetapkan pada 20 Juli 1948. Nama lama yang masih hidup di lidah orang tua: Tango no Sekku (端午の節句).
Di meja ada chimaki — kue beras dibungkus daun bambu — dan kashiwa mochi. Daun ek pada kashiwa mochi tidak jatuh sebelum daun baru tumbuh; orang tua membaca itu sebagai garis keturunan yang tidak putus. Lagu yang sering terdengar di sekolah: Koinobori uta.

Lagu ikan koi — Koinobori uta
Yane yori takai koinobori.
Ōkii magoi wa otōsan.
Chīsai higoi wa kodomotachi.
Omoshiro-sō ni oyoideru.
Iraka no nami to kumo no nami
kasanaru nami no nakazora wo
tachibana kaoru asakaze ni
takaku oyogu ya koinobori
Hirakeru hiroki sono kuchi ni
fune wo mo noman sama miete
yutaka ni furuu obire ni wa
mono ni dōzenu sugata ari

Hina Matsuri — festival anak perempuan, 3 Maret
Hari anak perempuan jatuh pada 3 Maret dan disebut Hina Matsuri (雛祭り) atau Hina no sekku, juga dikenal sebagai Momo no Sekku, festival persik. Bunga momo menandai musim dan, dalam tradisi lama, harapan pernikahan yang bahagia. Tanggal ini menekankan ikatan keluarga dengan kemakmuran, kebahagiaan, keberuntungan dan kesehatan untuk anak perempuan — tanpa mematikan kalender kerja.
Hina Matsuri secara tradisional ditandai dengan pameran boneka yang diwariskan dari ibu ke putri. Boneka-boneka itu, hina-ningyō, disusun di altar bertingkat (hinadan) setiap tahun. Umumnya satu set lengkap mencapai 15 boneka yang mengenakan pakaian istana pada periode Heian (794–1185). Menurut kepercayaan, boneka-boneka itu menampung nasib buruk, penyakit, dan roh yang tidak diinginkan — lalu disimpan lagi, karena ada anggapan bahwa membiarkannya terpasang terlalu lama menunda jodoh anak perempuan.
Minuman tradisionalnya shirozake (白酒), sake putih manis. Orang sering mengacaukannya dengan amazake, minuman beras fermentasi: amazake biasanya tanpa alkohol atau sangat rendah, sementara shirozake memang beralkohol. Untuk anak-anak, keluarga biasanya menyuguhkan amazake, bukan shirozake.
Makanan khasnya Hina Arare (biskuit beras berwarna), Hishimochi dan Sakuramochi, Chirashizushi, serta sup kerang Hamaguri Ushio-jiru — cangkang kerang yang berpasangan dibaca sebagai doa pernikahan yang cocok.

Festival boneka juga punya lagunya sendiri, Ureshii Hina Matsuri:
Ureshii Hina Matsuri — lirik
Akari wo tsukemashou bonbori ni
Ohana wo agemashou momo no hana
Go-nin bayashi no fue taiko
Kyō wa tanoshii Hinamatsuri
Odairi-sama to Ohina-sama
Futari narande sumashi-gao
Oyome ni irashita nēsama ni
Yoku nita kanjo no shiroi kao
Kin no byōbu ni utsuru hi wo
Kasukani yusuru haru no kaze
Sukoshi shirozake mesareta ka
Akai okao no udaijin
Kimono wo kikaete obi shimete
Kyō wa watashi mo haresugata
Haru no yayoi no kono yoki hi
Nani yori ureshii Hinamatsuri
Shichi-Go-San [七五三] — 15 November
Shichi-Go-San (七五三) adalah festival yang jatuh setiap 15 November. Namanya ditulis dengan kanji tujuh, lima, dan tiga: orang tua membawa anak perempuan berusia tiga dan tujuh tahun, serta anak laki-laki berusia lima tahun — kadang juga yang berusia tiga — ke kuil untuk memohon kesehatan, pertumbuhan, dan kebahagiaan.
Alasan kedua untuk pergi ke kuil adalah menyingkirkan roh yang tidak diinginkan, meski kunjungan semacam itu biasa di luar tanggal ini. Karena hari festival bukan hari libur, jika 15 November jatuh pada hari kerja, banyak keluarga merayakannya pada akhir pekan terdekat.
Anak-anak biasanya datang dengan kimono atau pakaian formal Barat, sering untuk pertama kalinya, dan menerima jimat serta chitose ame (千歳飴), “permen seribu tahun”. Permen itu panjang, tipis, merah dan putih, dibungkus kertas beras yang bisa dimakan — begitu tipis sampai kelihatan seperti plastik. Kantongnya dihiasi burung bangau dan kura-kura, lambang umur panjang. Ada kepercayaan bahwa permen ini memberi seribu tahun kebahagiaan kepada anak yang menerimanya.
Mengapa usia tujuh, lima, dan tiga? Numerologi Asia Timur menganggap angka ganjil sebagai angka keberuntungan. Ketiga usia itu juga menandai transisi yang dulu dianggap rawan dalam masa kanak-kanak.

Sejarah singkat Shichi-Go-San
Festival ini berakar pada periode Heian (794–1185), ketika bangsawan merayakan pertumbuhan anak pada hari yang dianggap mujur di November. Pada periode Kamakura (1185–1333), tanggal 15 November mulai dipakai sebagai patokan. Sejak periode Edo (1603–1868), perayaan itu menyebar ke luar istana. Pada periode Meiji (1868–1912), tradisi itu berubah lagi: lebih longgar, lebih populer, dan akhirnya melibatkan kunjungan ke kuil seperti yang kita lihat sekarang.
Dulu aturannya lebih keras. Anak-anak hingga tiga tahun dicukur rambutnya; baru setelah upacara kamioki rambut dibiarkan tumbuh. Pada usia tiga tahun, anak perempuan mengenakan kimono pertama, sering bermotif bunga. Pada usia tujuh tahun mereka memakai obi untuk pertama kali. Anak laki-laki mengenakan hakama pertama pada usia lima tahun.
Pada era Meiji, orang Jepang menjadi lebih longgar terhadap Shichi-Go-San: bahkan anak tiga tahun bisa tampil dengan pakaian tradisional lengkap, dan praktik mencukur rambut akhirnya ditinggalkan.

Meskipun ada keindahan di balik festival Jepang ini, alasan Shichi-Go-San muncul agak melankolis. Dahulu tingkat kematian bayi tinggi, dan bangsawan mencari jawaban dalam doa serta angka yang dianggap mujur. Jepang hari ini tidak lagi dihantui masalah itu dengan cara yang sama, tetapi tanggalnya tetap ada — kimono, foto, dan permen panjang yang kelihatan seperti janji.
Hari Anak Sedunia
PBB menetapkan, pada 1954, Hari Anak Sedunia pada 20 November, sambil membiarkan setiap negara memilih tanggalnya sendiri. Jepang memilih 5 Mei. Tanggal universal itu tetap berguna diingat, terutama karena 15 November — Shichi-Go-San — duduk hanya lima hari sebelumnya di kalender, tanpa pernah menjadi libur nasional.
Komunitas
Komentar
0 komentar
Belum ada komentar yang diterbitkan dalam bahasa ini.
Kirim komentar