Golden Week di Jepang: hari libur, sejarah, dan kehidupan lokal

Golden Week di Jepang: hari libur, sejarah, dan kehidupan lokal

Dari Hari Shōwa hingga Kodomo no Hi: Minggu Emas Jepang, asal-usulnya, dan cara orang menjalaninya di kereta, rumah, dan...

Banyak yang bangga dengan tiga hari libur beruntun. Di Jepang, akhir April, hitungan itu langsung meledak: Golden Week [ゴールデンウィーク] — Minggu Emas — mengumpulkan beberapa hari libur nasional dalam jangka pendek dan mengubah negeri itu menjadi peta koper, kereta penuh, dan bendera ikan koi yang berkibar di angin.

Antara 29 April dan 5 Mei terkonsentrasi empat perayaan nasional. Jika akhir pekan menempel dengan rapi atau karyawan mengambil cuti berbayar, jedanya memanjang. Bersama Tahun Baru dan Obon di bulan Agustus, inilah salah satu dari tiga momen istirahat besar dalam kalender Jepang.

Daftar isi 14

Apa itu Golden Week?

Golden Week bukan satu hari libur resmi dengan nama tunggal, melainkan penggabungan empat hari libur nasional dalam sekitar tujuh hari. Banyak perusahaan tutup atau memberi cuti; pelajar dan pekerja memanfaatkannya untuk pulang kampung, bepergian, atau beristirahat di rumah kerabat.

Dalam bahasa Jepang juga terdengar sebutan ōgata renkyū [大型連休], “libur panjang”, dan bentuk ōgon shūkan [黄金週間]. Julukan berbahasa Inggris itu mengakar setelah perang dan bertahan sampai sekarang.

Hari libur yang menyusun Minggu Emas saat ini adalah sebagai berikut:

TanggalHari liburNama Jepang
29 AprilHari ShōwaShōwa no Hi [昭和の日]
3 MeiHari KonstitusiKenpō Kinenbi [憲法記念日]
4 MeiHari HijauMidori no Hi [みどりの日]
5 MeiHari AnakKodomo no Hi [こどもの日]

Jika hari libur jatuh pada hari Minggu, hukum Jepang umumnya memindahkan libur ke hari kerja berikutnya (furikae kyūjitsu, 振替休日). Karena itu, di beberapa tahun, Minggu Emas bisa memanjang sampai 6 Mei atau tanggal di dekatnya.

Sejarah dan asal-usul nama

Undang-undang hari libur nasional tahun 1948 memusatkan beberapa tanggal antara akhir April dan awal Mei. Pada 1951, film Jiyū Gakkō mencatat penjualan tiket lebih tinggi selama minggu libur ini dibanding sisa tahun — termasuk Tahun Baru dan Obon. Seorang pimpinan Daiei Film menamai periode itu “Golden Week”, meniru jargon radio Jepang golden time, slot dengan pendengar terbanyak.

Tanggal 29 April dulu merayakan ulang tahun Kaisar Shōwa (Hirohito). Setelah wafatnya pada 1989, hari itu diganti menjadi Hari Hijau. Pada 2007, Hari Hijau dipindah ke 4 Mei, dan 29 April dinamai ulang Hari Shōwa untuk memperingati mendiang kaisar. Ulang tahun kaisar yang berkuasa kini jatuh di tanggal lain — untuk Kaisar Naruhito, 23 Februari.

29 April — Shōwa no Hi (Hari Shōwa)

Shōwa no Hi [昭和の日] memperingati ulang tahun mantan Kaisar Shōwa. Hari ini mengundang orang Jepang menengok 63 tahun Era Shōwa: modernisasi, perang, dan rekonstruksi yang membentuk negeri modern.

Sebelum Perang Dunia II, tanggal yang sama dikenal sebagai Tenchōsetsu [天長節]. Setelah perang, pemerintah mengubah namanya menjadi Tennō Tanjōbi [天皇誕生日] dengan bahasa yang lebih formal. Antara 1989 dan 2006, 29 April sempat menjadi Hari Hijau sebelum digeser ke 4 Mei.

Gedung Diet Nasional di Tokyo, simbol kehidupan bernegara Jepang

3 Mei — Kenpō Kinenbi (Hari Konstitusi)

Hari Konstitusi [憲法記念日] merayakan berlakunya konstitusi pascaperang Jepang. Ini momen untuk merenungkan demokrasi, hukum, dan cara negara mengatur dirinya.

Konstitusi itu menegaskan prinsip damai dan penolakan terhadap perang ofensif, dengan penekanan pada pertahanan yang sah. Bagi banyak keluarga, 3 Mei juga sekadar jembatan di tengah rantai libur — tetapi isinya tetap soal fondasi hukum negeri.

4 Mei — Midori no Hi (Hari Hijau)

Hingga 2006, Hari Hijau [みどりの日] jatuh pada 29 April. Sejak 2007 hari itu pindah ke 4 Mei, mengisi celah antara Hari Konstitusi dan Hari Anak. Sebelum menjadi Midori no Hi, 4 Mei sempat menjadi Kokumin no Kyūjitsu [国民の休日] — hari libur “warga” yang muncul karena jatuh di antara dua hari libur nasional.

Hari ini didedikasikan untuk lingkungan dan alam. Kaisar Shōwa dikenal menyukai tumbuhan dan menerbitkan karya di biologi kelautan; harmoni dengan alam itu beresonansi dengan nilai-nilai Shinto yang dekat dengan musim dan tempat suci.

Hutan hijau di Jepang, suasana yang dekat dengan semangat Hari Hijau

Pada hari ini sering ada penanaman pohon, pembersihan taman, ceramah lingkungan, dan kegiatan yang mendekatkan orang dengan alam — meski banyak juga yang sekadar melanjutkan perjalanan liburan.

5 Mei — Kodomo no Hi (Hari Anak)

Kodomo no Hi [こどもの日] adalah Hari Anak, dan juga berakar pada Tango no Sekku (festival anak laki-laki). Tradisi kalender Tionghoa lama menempatkan perayaan pada tanggal 5 bulan kelima; di kalender modern, itu 5 Mei.

Gadis-gadis punya perayaan tersendiri di Hina Matsuri (3 Maret). Ada pula Shichi-Go-San untuk anak berusia tiga, lima, dan tujuh tahun. Pada Kodomo no Hi, keluarga menggantung bendera ikan koi — koinobori — di halaman sebagai lambang kekuatan dan keteguhan, serta memajang boneka samurai, helm, dan armor yang mengingatkan pada pahlawan Kintarō.

Baca juga: Kodomo no Hi, Hina Matsuri dan 753 — Hari Anak di Jepang

Koinobori, bendera ikan koi yang digantung saat Kodomo no Hi

Simbol lain seperti Shōki, Momotarō, dan shōbu (iris) ikut mewarnai hari itu. Anak-anak sering makan chimaki (kue beras dibungkus daun) dan kashiwa mochi. Lagu Koinobori uta pun masih dinyanyikan di sekolah dan rumah.

Bepergian selama Golden Week

Ini salah satu puncak perjalanan domestik di Jepang. Kereta, bandara, dan destinasi wisata ramai; hotel di kota populer dan area matsuri bisa habis jauh hari. Yang merencanakan perjalanan biasanya memesan tiket dan penginapan lebih awal, dan menghitung bahwa harga bisa naik.

Banyak orang pulang ke daerah asal, sementara wisatawan dalam dan luar negeri mengincar cuaca musim semi yang sering nyaman — meski “nyaman” di sini tidak berarti sepi. Siapa yang mencari tiket murah dan kuil kosong biasanya memilih minggu lain.

Silver Week — Minggu Perak

Jika ada Minggu Emas, ada juga Silver Week [シルバーウィーク]: sebutan populer untuk rangkaian libur di musim gugur, terutama September, ketika Hari Penghormatan Lansia, ekuinoks musim gugur, dan akhir pekan saling menempel. Tidak setiap tahun membentuk libur panjang; industri film sudah memakai istilah semacam itu sejak era 1950-an untuk periode yang lebih “perak” dibanding puncak musim semi.

Istilah itu fleksibel: kadang merujuk ke cluster libur lain di Oktober–November, termasuk di sekitar Hari Budaya. Intinya sama — kalender Jepang sesekali memberi “jendela” istirahat di luar Golden Week.

Apakah China juga punya Golden Week?

Di Tiongkok daratan, Minggu Emas [黄金周] merujuk pada libur nasional panjang yang diterapkan secara modern sekitar tahun 2000. Ada cluster di sekitar Tahun Baru Imlek (Chunyun), di sekitar Hari Nasional 1 Oktober, dan pernah ada pola panjang di sekitar 1 Mei — yang pernah diubah, lalu dikembalikan dalam bentuk lain.

Mekanismenya beda dari Jepang, tetapi niatnya mirip: memberi ruang massal untuk perjalanan dan reuni keluarga. Membandingkan keduanya membantu melihat bahwa “minggu emas” bukan hanya julukan Jepang, melainkan pola libur padat di Asia Timur.

Pertanyaan umum tentang Golden Week

Apa itu Golden Week di Jepang?

Periode akhir April hingga awal Mei ketika empat hari libur nasional — Hari Shōwa, Hari Konstitusi, Hari Hijau, dan Hari Anak — berjejer, dan banyak orang memperpanjang istirahat dengan cuti atau akhir pekan.

Hari libur apa saja yang menyusunnya?

Dalam kalender sekarang: 29 April (Shōwa no Hi), 3 Mei (Kenpō Kinenbi), 4 Mei (Midori no Hi), dan 5 Mei (Kodomo no Hi). Hari Minggu bisa menggeser libur ke hari kerja berikutnya.

Berapa lama durasinya?

Inti hari liburnya dari 29 April sampai 5 Mei. Lama “liburan” yang dirasakan bergantung pada tahun, kemungkinan hari pengganti, dan apakah perusahaan atau sekolah menutup hari di antaranya.

Apakah ini saat yang baik untuk mengunjungi Jepang?

Cuaca sering menyenangkan, tetapi ini salah satu periode tersibuk. Cocok jika Anda suka matsuri dan suasana lokal serta memesan jauh-jauh hari; kurang ideal jika target Anda harga murah dan destinasi sepi.

Golden Week merangkum, dalam satu minggu, memori kekaisaran, konstitusi pascaperang, alam, dan doa pertumbuhan untuk anak-anak. Bagi sebagian orang, itu hanya liburan; bagi yang lain, pengingat bagaimana kalender Jepang menenun sejarah ke dalam kehidupan sehari-hari.

Sumber dan tautan berguna

Tentang penulis

Kevin Henrique

Spesialis dengan pengalaman lebih dari 10 tahun dalam budaya Asia, berfokus pada Jepang, Korea, anime, dan game. Otodidak, penulis, dan pelancong yang fokus mengajarkan bahasa Jepang, tips wisata, dan fakta menarik yang mendalam.

Komunitas

Komentar

0 komentar

Belum ada komentar yang diterbitkan dalam bahasa ini.

Kirim komentar

Komentari artikel ini

Memuat pemeriksaan keamanan...

Jangan kirim tautan, embed, atau promosi. Komentar melewati anti-spam dan terjemahan otomatis sebelum tampil.