Bagaimana bahasa Jepang ditulis dan dibaca?

Bagaimana bahasa Jepang ditulis dan dibaca?

Kanji, kana, tategaki, dan yokogaki: menulis dan membaca bahasa Jepang tanpa mitos «terbalik».

Bagaimana cara membaca bahasa Jepang? Apakah terbalik? Apakah dibaca dari belakang ke depan? Yang lebih umum: vertikal atau horizontal? Pertanyaan itu muncul hampir selalu begitu seseorang membuka manga atau melihat koran di Tokyo.

Banyak orang percaya bahwa bahasa Jepang ditulis dan dibaca dari belakang ke depan seperti bahasa Arab. Ide itu lahir dari manga dan beberapa buku tradisional yang dibuka dari sisi berlawanan dengan buku Barat. Tapi apakah itu berarti bahasa Jepang benar-benar ditulis terbalik?

Daftar isi 7

Apakah bahasa Jepang dibaca atau ditulis terbalik, dari belakang ke depan?

Jawaban untuk «apakah bahasa Jepang dibaca dari belakang ke depan?» adalah tidak. Bahasa Jepang tidak dibaca baris demi baris dari kanan ke kiri seperti Arab atau Ibrani modern.

Di sebagian besar yang kita lihat hari ini — layar, pesan, buku sekolah, web — tulisan dan bacaan berjalan dari kiri ke kanan, seperti bahasa Indonesia. Efek «terbalik» pada manga, light novel, dan karya klasik lebih sering datang dari urutan halaman dan, sering kali, susunan teks vertikal.

Versi elektronik koran Jepang Asahi Shimbun dengan berita harian

Bagaimana bahasa Jepang ditulis: kanji, hiragana, dan katakana

Sebelum membicarakan arah, lihat dengan apa orang menulis. Bahasa Jepang modern menggabungkan tiga sistem dalam paragraf yang sama, bukan hanya satu:

  • Kanji [漢字]: aksara asal Tionghoa. Membawa inti banyak kata (nomina, verba, adjektiva) dan membantu membedakan makna yang bunyinya sama.
  • Hiragana [ひらがな]: silabari untuk partikel, akhiran tata bahasa, dan kata Jepang tanpa kanji (atau saat kanji sengaja tidak dipakai).
  • Katakana [カタカナ]: silabari untuk kata pinjaman, nama asing, onomatope, dan penekanan.

Selain itu ada rōmaji (bahasa Jepang dalam abjad Latin) pada merek, stasiun, papan ketik, dan materi belajar. Pada teks dengan kanji sulit, furigana — bacaan kecil dalam kana di samping atau di atas aksara — menuntun pelafalan tanpa sepenuhnya mengganti kanji.

Untuk mendalami silabari, ada panduan kana (hiragana dan katakana) dan refleksi tentang apakah menulis dalam bahasa Jepang sulit atau justru perlu.

Contoh furigana di samping kanji untuk memudahkan membaca

Tategaki: membaca dari kanan ke kiri secara vertikal

Bentuk tradisional menulis bahasa Jepang di koran, novel, dan manga adalah vertikal. Kolom dibaca dari atas ke bawah, lalu maju dari kanan ke kiri — alur yang sama terasa saat membalik halaman tankōbon.

Susunan itu menguat ketika tulisan dibuat dengan kuas di gulungan atau media panjang. Namanya tategaki [縦書き], secara harfiah «tulisan vertikal»: teks turun dalam kolom dan kolom berikutnya berada di kiri kolom sebelumnya.

Tategaki muncul terutama di koran, manga, light novel, buku yang lebih «klasik», brosur, dan iklan. Karena itu banyak publikasi dibuka dari sisi kanan: punggung dan urutan halaman mengikuti tategaki, bukan karena setiap baris ditulis «terbalik».

Bahwa teks vertikal dibaca dari kanan ke kiri tidak berarti setiap ideogram digores dari kanan ke kiri. Urutan goresan kanji atau kana biasanya dimulai dari kiri. Berbeda dengan abjad Latin kursif, aksara Jepang tidak terhubung dalam satu rantai terus-menerus, sehingga lebih leluasa ditumpuk vertikal atau horizontal.

Gambar di bawah menampilkan hiragana dalam susunan tategaki; tiap huruf tetap digores goresan demi goresan secara mandiri.

Tabel hiragana, silabari Jepang yang dipakai bersama kanji dan katakana

Yokogaki: dari kiri ke kanan secara horizontal

Tulisan horizontal dari kiri ke kanan seperti di Barat disebut yokogaki [横書き], «tulisan horizontal».

Bentuk ini menjadi jauh lebih lazim seiring modernisasi, kamus dwibahasa, pengaruh asing, lalu komputer. Bukan berarti tidak ada sebelumnya, tetapi tidak selalu format dominan di semua genre.

Hari ini yokogaki ada di sekolah, buku pelajaran, papan, formulir, dan hampir semua yang digital. Pesan, jejaring sosial, dan situs memakai baris horizontal. Terjemahan karya Barat ke bahasa Jepang juga sering datang dalam format horizontal.

Buku dan edisi berbahasa Jepang dalam susunan horizontal atau vertikal sesuai genre

Tulisan mana yang lebih umum: vertikal atau horizontal?

Tidak ada «pemenang» mutlak. Baik tategaki maupun yokogaki hidup berdampingan: bergantung genre, media, dan kebiasaan editorial.

Sering keduanya digabung di halaman yang sama — judul, tabel, iklan, dan kolom — mengisi ruang yang tersedia. Bagi yang tumbuh dengan keduanya, arah jarang jadi hambatan: aksara dibaca unit per unit. Generasi lebih tua kadang lebih nyaman dengan teks panjang vertikal; kehidupan digital mendorong kuat ke arah horizontal.

Jejak sejarah tulisan di kayu di Jepang kuno muncul pada mokkan, papan kayu Jepang kuno.

Membaca dari kanan ke kiri secara horizontal

Sebelum Perang Dunia Kedua, ketika vertikal lebih lazim, kebiasaan maju dari kanan ke kiri membuat baris horizontal di papan dan ruang sempit juga dibaca dari kanan ke kiri: seperti satu kolom tategaki yang «dibaringkan».

Hari ini susunan itu minoritas. Paling sering dipakai dengan nuansa retro, reka ulang, di sisi kendaraan, atau papan yang ingin membangkitkan Jepang tempo dulu. Bukan standar web maupun buku pelajaran masa kini.

Papan dan teks di Tokyo dengan tulisan horizontal dari kiri ke kanan

Tata bahasa juga bisa terasa «terbalik»

Meski tulisan sehari-hari berjalan kiri ke kanan, hal lain yang membingungkan pembelajar adalah tata bahasa SOV: verba biasanya berada di akhir kalimat.

Tata bahasa Jepang, pada banyak segi, teratur dan jelas, tetapi urutan yang berbeda dari bahasa Indonesia bisa memberi kesan «kalimatnya terbalik» meskipun barisnya dibaca seperti di Barat.

Untuk melihat bagaimana kalimat dibangun langkah demi langkah: struktur SOV — cara membuat kalimat dalam bahasa Jepang.

Sumber dan tautan berguna

Tentang penulis

Kevin Henrique

Spesialis dengan pengalaman lebih dari 10 tahun dalam budaya Asia, berfokus pada Jepang, Korea, anime, dan game. Otodidak, penulis, dan pelancong yang fokus mengajarkan bahasa Jepang, tips wisata, dan fakta menarik yang mendalam.

Komunitas

Komentar

0 komentar

Belum ada komentar yang diterbitkan dalam bahasa ini.

Kirim komentar

Komentari artikel ini

Memuat pemeriksaan keamanan...

Jangan kirim tautan, embed, atau promosi. Komentar melewati anti-spam dan terjemahan otomatis sebelum tampil.