Rumah tradisional Jepang terasa berbeda bukan karena satu benda tunggal, melainkan karena cara seluruh ruangnya bekerja bersama. Di satu sisi ada shōji yang melembutkan cahaya, di sisi lain ada fusuma yang dapat mengubah satu ruangan menjadi beberapa bagian. Lantai tatami, ambang genkan, dan beranda engawa melengkapi susunan yang dekat dengan lantai, musim, serta kebiasaan melepas sepatu.
Gambaran ini terutama merujuk pada rumah bergaya lama dan ruang washitsu; rumah Jepang masa kini sangat beragam dan banyak yang memakai tata ruang modern. Namun, unsur-unsur berikut masih mudah dijumpai di ryokan, rumah tua, bangunan bersejarah, dan sebagian hunian yang mempertahankan ruang bergaya Jepang.
Daftar isi 7
Shoji, fusuma, dan ranma: sekat yang membuat ruang lentur
Pintu geser adalah salah satu ciri paling mudah dikenali. Tidak seperti pintu berengsel yang membutuhkan area untuk membuka, panel geser bergerak di rel. Karena itu, ruang dapat dibuka untuk kegiatan bersama atau dipisah saat membutuhkan privasi.

Shōji adalah panel berkisi kayu yang dilapisi kertas washi atau bahan serupa yang tembus cahaya. Fungsinya bukan sekadar pembatas: cahaya dari luar tetap masuk, tetapi menjadi lebih lembut. Karena materialnya ringan, shōji perlu diperlakukan dengan hati-hati.
Fusuma juga berupa panel geser, tetapi umumnya lebih buram dan dipakai untuk memisahkan ruangan atau menutup lemari. Permukaannya dapat dihias. Saat fusuma dibuka, dua ruang dapat menyatu; saat ditutup, fungsi ruangan kembali terpisah. Inilah alasan rumah bergaya lama sering terasa fleksibel meski furniturnya sedikit.

Ranma adalah panel di atas fusuma atau shōji. Panel ini dapat berupa kisi kayu, ukiran, atau bagian terbuka yang membantu sirkulasi udara dan cahaya di antara ruang-ruang dalam rumah.

Genkan, engawa, dan tokonoma: dari ambang masuk sampai ruang sambutan
Genkan adalah area masuk yang biasanya lebih rendah daripada lantai bagian dalam. Di sinilah sepatu dilepas sebelum naik ke rumah. Perbedaan tinggi itu menandai perpindahan dari luar ke dalam dan membantu menjaga lantai hunian tetap bersih. Saat berkunjung, letakkan sepatu dengan rapi dan ikuti kebiasaan tempat yang didatangi.

Untuk memahami kebiasaan ini lebih jauh, lihat juga sepatu tradisional Jepang. Di ruang bertatami, sepatu dan sandal umumnya tidak digunakan karena dapat mengotori atau merusak permukaan tatami.
Engawa ialah koridor atau beranda sempit di sepanjang sisi rumah, berada di antara ruang dalam dan taman. Pada rumah lama, bagian ini menjadi tempat untuk duduk sebentar, melihat taman, atau membuka shōji agar udara mengalir. Engawa bukan selalu teras terbuka; bentuknya berubah menurut bangunan dan perlindungan cuaca yang dipakai.

Tokonoma adalah ceruk dekoratif pada ruang yang lebih formal. Gulungan lukisan, kaligrafi, ikebana, atau hiasan musiman dapat ditempatkan di sana. Bukan tempat menyimpan barang atau duduk; tokonoma memberi arah visual pada ruangan dan menunjukkan perhatian tuan rumah terhadap musim atau kesempatan tertentu.

Kerangka kayu dan atap rumah tradisional
Rumah tradisional Jepang memakai kerangka kayu dengan sambungan pertukangan yang rumit. Beberapa sambungan dibuat agar potongan kayu saling mengunci, sehingga tidak seluruh kekuatannya bergantung pada paku. Teknik ini memperlihatkan keterampilan tukang kayu, tetapi tidak berarti setiap rumah lama dibangun tanpa paku atau memiliki ketahanan yang sama terhadap gempa.
Atapnya sering dibuat lebar untuk melindungi dinding, pintu, dan beranda dari hujan serta panas. Bentuk, bahan, dan skala rumah berbeda menurut daerah, kelas sosial, iklim, dan masa pembangunannya. Karena itu, lebih tepat melihat rumah tradisional sebagai banyak tradisi bangunan, bukan satu model yang seragam.

Tatami: lantai yang juga menentukan cara memakai ruangan
Tatami adalah alas lantai tradisional Jepang dengan permukaan anyaman igusa. Dahulu bagian dalamnya banyak memakai jerami padi, sedangkan bahan inti sekarang bisa berbeda. Ukuran tatami tidak sama di seluruh Jepang, tetapi jumlah lembarnya tetap dipakai untuk menggambarkan luas ruang, misalnya enam jō.
Tatami membuat cara memakai ruangan berbeda dari ruang yang dipenuhi kursi. Orang dapat duduk, membentangkan futon, minum teh, atau menerima tamu di lantai yang sama. Karena itu, permukaannya dijaga: hindari sepatu, jangan menyeret barang berat, dan berhati-hatilah dengan benda yang dapat menodai anyaman.

Kotatsu, chabudai, dan zabuton: hidup dekat lantai
Kotatsu adalah meja rendah dengan pemanas di bawahnya, biasanya dipadukan dengan selimut tebal. Berbeda dengan meja biasa, kotatsu terutama dipakai untuk menghangatkan kaki saat cuaca dingin. Futon adalah perlengkapan tidur yang dapat digelar dan disimpan kembali, sehingga ruang bertatami dapat berubah fungsi dari ruang keluarga menjadi tempat tidur.

Chabudai adalah meja rendah untuk makan atau minum teh, sedangkan zabuton ialah bantal duduk. Keduanya bukan perlengkapan wajib di semua rumah Jepang modern, tetapi membantu menjelaskan mengapa washitsu dirancang sebagai ruang yang mudah diubah sesuai kegiatan.
Ofuro dan irori: mandi serta kehangatan di rumah lama
Ofuro berarti mandi atau bak mandi dalam bahasa Jepang. Dalam banyak rumah Jepang, area untuk membilas tubuh dipisahkan dari bak untuk berendam. Kebiasaan berendam juga dikenal lewat sentō dan onsen, tetapi keduanya bukan hal yang sama dengan kamar mandi rumah.
Bak kayu masih dapat ditemui di penginapan atau rumah tertentu, sedangkan rumah modern memakai banyak variasi kamar mandi. Jika ingin mengenal pemandian Jepang, baca tentang onsen dan ryokan.

Irori adalah perapian cekung di lantai yang dipakai pada rumah lama untuk memasak dan menghangatkan ruang. Di atasnya dapat digantung kait untuk ketel atau panci. Irori semakin jarang menjadi bagian rumah biasa, tetapi masih dapat dilihat di beberapa restoran, rumah rakyat bersejarah, dan bangunan pedesaan.

Sudare dan hubungan rumah dengan musim
Sudare adalah tirai dari bambu atau bahan alami lain yang dipasang untuk mengurangi sinar matahari sekaligus tetap membiarkan udara bergerak. Bersama engawa, pintu geser, dan atap lebar, sudare menunjukkan cara rumah lama menanggapi panas, hujan, serta perubahan musim sebelum pendingin udara menjadi umum.

Ketika melihat rumah tradisional Jepang, jangan hanya mencari tatami atau pintu kertasnya. Perhatikan bagaimana genkan memisahkan luar dan dalam, bagaimana fusuma mengubah ukuran ruang, serta bagaimana engawa dan shōji mengatur cahaya. Dari hubungan antarbagian itulah rumah tersebut memperoleh wataknya.
Komunitas
Komentar
0 komentar
Belum ada komentar yang diterbitkan dalam bahasa ini.
Kirim komentar