Transportasi umum utama di Jepang adalah kereta, dan yang kedua adalah bus. Di gerbong dan di halte, adat itu terasa dari poster, antrean di peron, dan kebiasaan menahan suara. Beberapa aturan tertulis di pengumuman; yang lain hanya rasa malu kalau mengganggu orang di samping.
Daftar isi 5
Tidak berbicara di telepon di dalam kereta
Ada banyak poster dan pengumuman yang meminta penumpang menahan panggilan di dalam kereta, supaya tidak mengganggu orang lain. Sejak Oktober 2015, JR East bersama 36 operator lain di Kanto, Tohoku, dan Koshinetsu menyamakan seruan itu: atur ponsel ke mode senyap dan tunda percakapan telepon. Di dekat kursi prioritas, kalau gerbong sesak sampai badan saling bersentuhan, mereka masih meminta mematikan daya ponsel. Ini cukup ironis, karena saya melihat kelompok siswi sekolah berbicara keras, hampir berteriak, di dalam kereta. Kebanyakan orang tetap menahan suara karena gangguan publik, privasi, dan etiket.
Berbicara keras dengan teman di gerbong mengganggu dengan cara yang sama. Ingatlah untuk selalu mengatur ponsel ke mode senyap; menonton atau mendengarkan musik tidak masalah selama Anda memakai headphone. Orang Jepang menghindari duduk di lantai, menggelar tas di kursi, merias wajah, duduk dengan kaki terbuka atau menyilang, dan hal lain yang menyita ruang orang di samping.
Malu menawarkan kursi kepada lansia
Anda mungkin terkesan dengan pendidikan orang Jepang, tetapi saat memakai transportasi umum tidak sulit melihat anak muda duduk sementara beberapa lansia berdiri. Banyak lansia merasa tidak nyaman ketika ditawari tempat duduk. Tawaran itu membuat mereka merasa tua, dan kebanyakan cenderung menolak.
Faktor lain yang membuat adegan itu sering terjadi adalah rasa malu orang yang akan menawarkan kursi, tepatnya karena khawatir seolah-olah menyebut orang itu tua. Beberapa secara diam-diam bangkit, pindah ke gerbong lain, atau berdiri dekat pintu. Di ujung gerbong ada kursi prioritas, yūsen-seki (優先席), untuk lansia, penyandang disabilitas, ibu hamil, orang cedera, dan penumpang dengan anak kecil. Duduk di sana saat kosong masih biasa; yang diharapkan adalah segera berdiri jika orang yang membutuhkan naik.
Tidak mengambil barang yang jatuh di lantai
Semua orang tahu reputasi kejujuran di Jepang. Saya sudah beberapa kali melihat benda hilang di dalam kereta, dan tidak ada yang mengambilnya. Staf kereta yang biasanya memungut barang itu dan membawanya ke loket barang hilang di stasiun, yang sering bertuliskan 忘れ物承り所. Anda boleh mengantar sendiri ke loket itu, tetapi banyak yang menahan diri. Mereka malu, atau membayangkan orang lain mengira mereka sedang mencuri.
Tidur di transportasi umum
Praktik yang sangat umum di kereta dan transportasi umum adalah inemuri (居眠り), tidur sambil tetap hadir, duduk atau bahkan berdiri. Sangat umum menemukan orang tertidur di gerbong; yang menakjubkan, banyak yang bangun tepat di stasiun mereka.
Oshiya dan dorongan di kereta
Ketika gerbong penuh, orang biasanya mendorong satu sama lain untuk lewat, keluar, dan masuk. Beberapa stasiun bahkan mempekerjakan oshiya (押し屋), staf bersarung tangan putih yang menata penumpang agar pintu bisa tertutup. Sayangnya, sebagian orang cabul memanfaatkan desakan itu untuk menyentuh di tempat yang tidak seharusnya. Saat masuk ke kereta, tunggu orang lain keluar supaya tidak saling bertabrakan.
Kalau Anda naik kereta Jepang besok, bawa tiga kebiasaan praktis: mode senyap, antre di tanda peron, dan berdiri dari yūsen-seki begitu orang yang membutuhkan masuk. Sisanya mengikuti rasa malu yang sudah kelihatan di gerbong: jangan jadi sumber kebisingan, jangan membuat lansia merasa tua di depan umum, dan biarkan staf yang mengurus barang jatuh.






Komunitas
Komentar
0 komentar
Belum ada komentar yang diterbitkan dalam bahasa ini.
Kirim komentar