Membahas perselingkuhan di Jepang sering memancing dua reaksi yang sama berlebihannya. Ada yang menganggapnya lebih ditoleransi daripada di negara lain, sementara yang lain memperlakukannya seolah-olah tabu budaya yang mustahil dipahami dari luar. Kenyataannya jauh lebih manusiawi. Perselingkuhan tetap menyakitkan, bisa merusak rumah tangga, dan kadang berujung pada perceraian, tetapi tidak semua pasangan meresponsnya dengan cara yang sama.
Jepang juga bukan masyarakat dengan satu model pernikahan. Ada pasangan yang sangat tradisional, ada yang berbagi pekerjaan rumah dengan lebih seimbang, dan ada yang bertahan lebih sebagai rekan hidup daripada pasangan romantis. Karena itu, saat membicarakan uwaki (selingkuh), furin (hubungan di luar nikah), dan rikon (perceraian), lebih berguna melihat hukum, tekanan sosial, pengasuhan anak, dan rutinitas sehari-hari daripada mengulang stereotip lama.
Daftar isi 5
Perselingkuhan bukan hal sepele dalam hukum Jepang
Dalam hukum perdata Jepang, perselingkuhan bukan sekadar masalah pribadi yang tidak punya konsekuensi. Pasal 770 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Jepang memasukkan tindakan tidak setia dari pasangan sebagai salah satu dasar untuk mengajukan perceraian melalui pengadilan. Itu tidak berarti setiap hubungan gelap otomatis berakhir di hakim, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa isu ini diperlakukan serius bila konflik sudah tidak bisa diselesaikan secara damai.
Di sisi lain, banyak perceraian di Jepang tetap berlangsung melalui kesepakatan bersama tanpa sidang panjang. Karena itu, perselingkuhan sering menjadi bagian dari krisis yang lebih besar, bukan satu-satunya penyebab. Hubungan yang sudah lama retak, kelelahan kerja, jarak emosional, masalah keuangan, dan beban mengasuh anak kerap muncul bersamaan.
Mengapa tidak semua kasus berakhir dengan perceraian?
Jawabannya biasanya bukan karena pasangan menganggap selingkuh sebagai hal biasa. Banyak rumah tangga tetap bertahan karena alasan yang sangat praktis: anak-anak masih kecil, biaya hidup tinggi, ritme kerja melelahkan, atau kedua pihak belum siap memecah kehidupan sehari-hari yang sudah berjalan bertahun-tahun. Ada juga yang memilih berdamai setelah skandal awal mereda, walau kepercayaan tidak lagi sama.
Gambaran lama tentang suami yang selalu pulang larut dan istri yang diam menahan semuanya juga tidak cukup lagi untuk menjelaskan Jepang hari ini. Tekanan kerja memang masih besar, tetapi peran laki-laki dan perempuan dalam rumah tangga sudah lebih beragam. Karena itu, penyebab perselingkuhan pun tidak bisa dipukul rata. Kadang masalahnya kesepian, kadang komunikasi yang buruk, kadang relasi itu sendiri sudah lama kosong.
Apa yang berubah pada 1 April 2026?
Perubahan terbesar dalam beberapa tahun terakhir bukan soal “Jepang jadi lebih longgar” terhadap perselingkuhan, melainkan aturan setelah perceraian ketika ada anak. Selama bertahun-tahun, sistem Jepang pada praktiknya mewajibkan penetapan satu orang tua saja sebagai pemegang otoritas orang tua setelah perceraian. Itu sebabnya banyak pasangan menunda perpisahan meski hubungan mereka sudah rusak.
Mulai 1 April 2026, reformasi yang dijelaskan Kementerian Kehakiman Jepang membuka dua kemungkinan setelah perceraian: otoritas orang tua tunggal atau bersama. Jika kedua pihak sepakat, mereka dapat memilih salah satunya. Jika tidak ada kesepakatan, pengadilan keluarga yang memutuskan berdasarkan kepentingan terbaik anak. Dalam perkara yang melibatkan kekerasan dalam rumah tangga, risiko kekerasan, atau situasi yang membuat kedua orang tua tidak mungkin bekerja sama, pengadilan wajib menetapkan otoritas tunggal.
Apakah Jepang benar-benar kasus yang unik?
Jepang memang punya tekanan sosial, budaya malu, dan cara yang cenderung lebih tertutup dalam mengelola konflik keluarga. Namun itu tidak otomatis berarti perselingkuhan lebih normal atau perceraian lebih langka daripada di tempat lain. Data resmi yang dirangkum Statistical Handbook of Japan 2025 justru menunjukkan bahwa jumlah perceraian dan tingkat perceraian sudah menurun sejak puncaknya pada awal 2000-an. Pada 2023, tercatat 183.814 perceraian dengan tingkat 1,52 per 1.000 penduduk.
Angka itu membantu menempatkan diskusi pada jalur yang lebih realistis. Jepang bukan “negara perselingkuhan”, tetapi juga bukan tempat di mana semua pasangan diam-diam menerima pengkhianatan. Yang ada adalah masyarakat yang sedang berubah, dengan keluarga yang mencoba menyeimbangkan kerja, cinta, pengasuhan, dan reputasi sosial di tengah aturan yang juga ikut diperbarui.
Cara melihat topik ini tanpa sensasi berlebihan
Kalau tujuan Anda adalah memahami topik ini dengan lebih jernih, pertanyaan yang paling berguna bukan “apakah orang Jepang lebih sering selingkuh?”, melainkan “apa akibatnya bagi pasangan, anak, dan keputusan hukum setelah itu?”. Dari sudut itu, pembahasannya jadi lebih matang. Perselingkuhan tetap bisa memicu luka besar, tetapi respons keluarga Jepang tidak pernah sesederhana satu klise budaya.
Melihat istilah seperti uwaki, furin, dan rikon dalam konteks hukum dan kehidupan sehari-hari juga membantu menghindari kesan dramatis yang sering muncul di internet. Di balik kata-kata itu ada pilihan yang sangat nyata: bertahan, berpisah, membagi pengasuhan, dan memulai ulang hidup setelah kepercayaan rusak.
Baca juga:
Komunitas
Komentar
0 komentar
Belum ada komentar yang diterbitkan dalam bahasa ini.
Kirim komentar