Mengapa pria Jepang jarang berjenggot? Sejarah dan aturan kerja

Mengapa pria Jepang jarang berjenggot? Sejarah dan aturan kerja

Dari larangan era Edo hingga pemeriksaan penampilan di kantor, jenggot di Jepang lebih sering menjadi soal citra.

Jenggot memang jarang terlihat di Jepang, bahkan kumis pun sering dicukur bersih. Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa pria Jepang jarang memelihara jenggot? Apakah ini soal pertumbuhan rambut wajah, kebersihan, atau aturan sosial? Saya akan mencoba menjawab pertanyaan itu dan menunjukkan apa yang dikatakan wajah bersih tentang masyarakat Jepang.

Daftar isi 4

Satu kata untuk banyak jenis jenggot

Pria Jepang bisa menumbuhkan jenggot. Yang jarang adalah kebiasaan memeliharanya, terutama di lingkungan kerja dan di ruang publik. Di Jepang, kata hige [髭] dipakai untuk rambut wajah secara umum, baik jenggot, kumis, maupun jenggot di dagu. Anda dapat memperjelas bagian yang tumbuh dengan menambahkan kata di depan hige, misalnya kuchihige untuk kumis, agohige untuk jenggot di dagu, dan hōhige untuk jenggot di pipi. Artinya, hige mencakup wilayah yang lebih luas daripada kata jenggot dalam bahasa Indonesia.

Pengucapan hige juga dipakai untuk 卑下 (hige), kata yang berarti merendahkan diri. Keduanya homofon, dan permainan bunyi ini muncul dalam percakapan sehari-hari. Kemiripan bunyi itu membuat kata hige mudah dipakai dalam permainan kata. Dalam sejarah Jepang, jenggot juga pernah menjadi tanda kelas rendah.

Pertumbuhan jenggot berbeda-beda pada setiap pria. Pria Asia Timur rata-rata memiliki rambut wajah yang lebih tipis daripada pria Eropa, tetapi banyak pria Jepang tetap mampu menumbuhkan jenggot lebat. Sebagian besar memilih mencukur setiap hari, dan jenggot yang tidak dirawat dapat dibaca sebagai tanda kurang bersih atau kurang rapi.

Pria tua berjenggot putih panjang mengenakan kimono hitam memotong apel di udara dengan pedang

Dari kehormatan samurai ke larangan era Edo

Sejak Abad Pertengahan hingga awal periode Edo, samurai dianggap wajar memelihara jenggot, dan samurai tanpa jenggot dapat menjadi bahan ejekan. Mereka yang pertumbuhan jenggotnya tipis, seperti Toyotomi Hideyoshi, memakai jenggot palsu atau tsukehige untuk melengkapi penampilan.

Keadaan berubah ketika shogunat Tokugawa memasuki masa damai dan beralih ke pemerintahan sipil (bunji seiji). Semangat zaman Sengoku dianggap sebagai benih pemberontakan, sehingga para daimyo didorong mencukur jenggot. Memelihara jenggot lalu dilarang karena dinilai mengganggu ketertiban. Tokugawa Ietsuna, shogun pada abad ke-17, mengeluarkan larangan jenggot besar (Ōhige Kinshirei), dan banyak samurai mulai mencukur wajah. Gaya wajah bersih menyebar bersama chonmage, sanggul rambut samurai, dan sakayaki, bagian depan kepala yang dicukur.

Ada satu pengecualian yang tercatat: seorang samurai diizinkan memelihara jenggot untuk menutupi bekas luka di wajah. Jenggot juga dapat menjadi tanda berkabung bagi samurai yang kehilangan posisi, dan orang berjenggot dipandang sebagai orang kelas bawah.

Pandangan terhadap orang asing dan Ainu memperkuat norma ini. Kata ketō [毛唐], cacian untuk orang Barat, dibentuk dari anggapan bahwa pria berjenggot adalah orang biadab. Orang Ainu, penduduk asli Hokkaido, secara tradisional memelihara jenggot lebat dan menganggap mencukur jenggot sebagai tindakan tidak hormat kepada dewa. Dalam lukisan Jepang pada masa itu, jenggot dan rambut yang tidak disanggul dipakai untuk menggambarkan Ainu sebagai orang luar, dan citra ini memperkuat prasangka terhadap mereka.

Arah pandangan berbalik pada era Meiji. Dekret tahun 1871 tentang kebebasan memilih potongan rambut (散髪脱刀令) membebaskan orang Jepang dari aturan gaya rambut lama dan mempercepat masuknya kebiasaan Barat. Pada Maret 1873, Kaisar Meiji memotong rambutnya, lalu para pejabat mulai memelihara kumis dan jenggot agar terlihat modern. Jenderal Nagaoka Gaishi terkenal karena kumisnya yang sangat panjang, dijuluki "kumis baling-baling" (puropera hige), yang konon mencapai 70 cm.

Mode itu tidak bertahan lama. Elite Jepang yang melakukan perjalanan ke Eropa pada awal abad ke-20 melihat bahwa jenggot di sana mulai terlihat kuno dan menjadi tanda kelas bawah. Wajah bersih kembali menjadi citra warga kota modern, lalu menjadi norma di dunia kerja sepanjang abad ke-20.

Sekelompok pemeran berkostum Edo dengan sanggul dan kimono di depan rumah kayu beratap genteng di Edo Wonderland

Wajah bersih sebagai aturan di tempat kerja

Jenggot tidak dilarang oleh hukum di Jepang. Yang mengatur biasanya peraturan internal perusahaan, terutama untuk pekerjaan yang berhubungan langsung dengan pelanggan. Karyawan dapat diminta mencukur, dan jenggot yang lebat dapat dibaca sebagai tanda kurang menjaga penampilan atau bentuk pembangkangan. Banyak pekerja menerima aturan itu sebagai bagian dari tuntutan pekerjaan.

Beberapa kasus pernah menetapkan batas. Kasus pertama muncul pada 2008, ketika Noboru Nakamura, pegawai kantor pos di Osaka, memprotes penilaian kerja yang turun karena kumisnya. Asosiasi Pengacara Osaka menilai perlakuan itu tidak masuk akal dan meminta perusahaan menghentikannya. Dua tahun kemudian, Pengadilan Distrik Kobe memerintahkan perusahaan pos membayar 375.600 yen kepada Shiba Hideki, pegawai yang penilaiannya diturunkan karena memelihara jenggot dan rambut panjang.

Tekanan sosial tetap kuat. Dalam wawancara kerja, di sekolah, dan di toko, wajah yang dicukur bersih memberi sinyal bahwa seseorang serius dan rapi. Survei Konfederasi Serikat Pekerja Jepang (Rengō) pada 15 November 2019 terhadap 1.000 pekerja menemukan bahwa 571 orang memiliki aturan penampilan di tempat kerja, banyak di antaranya mengatur jenggot, dan 111 orang mengatakan pelanggaran dapat berujung pada sanksi, termasuk surat pernyataan atau pemutusan kontrak.

Untuk banyak pria muda, wajah bersih masih menjadi pilihan aman karena dinilai lebih cocok dengan citra karyawan yang dapat diandalkan. Standar kecantikan pria di Jepang juga cenderung memilih wajah yang halus dan rapi.

Selebritas dan perubahan pandangan

Selebritas menunjukkan bahwa jenggot tidak selalu menjadi penghalang. Seniman Takashi Murakami, sutradara Hayao Miyazaki, pembuat game Hideo Kojima, Hideaki Kobayashi yang dikenal sebagai Sailor Fuku Ojisan, aktor Yamada Takayuki, dan jurnalis Jumpei Yasuda pernah atau masih memelihara jenggot. Posisi itu memungkinkan mereka tampil dengan gaya yang lebih sulit dipertahankan di kantor tradisional.

Kolase selebritas Jepang berjenggot, termasuk Hideo Kojima, Hayao Miyazaki dan Takashi Murakami, serta dua wanita muda memakai jenggot palsu warna-warni

Di kota besar, jenggot yang dirawat semakin terlihat, terutama di kalangan pekerja kreatif dan pria yang lebih tua. Sebagian pria membiarkan jenggot putih tumbuh setelah pensiun. Jenggot masih menjadi penanda sosial. Penampilan itu dapat menandakan seniman, orang asing, atau pria yang memilih tidak mengikuti norma.

Jenggot sudah lama tidak identik dengan pemberontakan seperti pada masa Edo. Di kantor, jenggot juga belum menjadi pilihan biasa. Bagi pria yang ingin memeliharanya, memotong pendek dan merawatnya dengan rapi menjadi jalan tengah, terutama di lingkungan kerja yang menuntut penampilan bersih.

Di Jepang, jenggot lebih ditentukan oleh kebiasaan sosial dan aturan tempat kerja daripada oleh hukum. Pria yang memeliharanya perlu memperhitungkan lingkungan tempat ia bekerja, terutama jika pekerjaannya berhubungan dengan pelanggan. Jika Anda bekerja di Jepang, apakah bersedia mencukur jenggot demi mengikuti aturan kantor?

Sumber dan tautan berguna

Tentang penulis

Kevin Henrique

Spesialis dengan pengalaman lebih dari 10 tahun dalam budaya Asia, berfokus pada Jepang, Korea, anime, dan game. Otodidak, penulis, dan pelancong yang fokus mengajarkan bahasa Jepang, tips wisata, dan fakta menarik yang mendalam.

Komunitas

Komentar

0 komentar

Belum ada komentar yang diterbitkan dalam bahasa ini.

Kirim komentar

Komentari artikel ini

Memuat pemeriksaan keamanan...

Jangan kirim tautan, embed, atau promosi. Komentar melewati anti-spam dan terjemahan otomatis sebelum tampil.