Bukatsu — Klub sekolah di Jepang dan kegiatan ekstrakurikuler

Bagaimana klub sekolah di Jepang bekerja dan apa yang mereka ceritakan tentang kehidupan siswa.

Jika kamu sering menonton anime, kamu pasti sudah memperhatikan bahwa di sekolah-sekolah Jepang selalu ada klub sekolah. Artikel ini membahas klub sekolah Jepang secara mendalam: strukturnya, jenis-jenis yang ada, dan keunikan bagian dari kehidupan sekolah ini.

Klub-klub ini memberikan banyak pengalaman dan kenangan tak terlupakan. Klub-klub ini dianggap serius karena berfungsi sebagai latihan untuk karier dan kehidupan dewasa di kemudian hari. Di beberapa sekolah, bergabung dengan klub bersifat wajib.

Daftar isi 6

Apa itu kurabu dan bukatsu?

Klub sekolah, yang sering disebut kurabu (クラブ), adalah kegiatan ekstrakurikuler yang dikembangkan dan dikelola sendiri oleh para siswa. Di sekolah menengah atas, istilah bukatsu (部活, secara harfiah "aktivitas klub") juga banyak digunakan.

Setiap klub biasanya memiliki ruang atau fasilitas tersendiri. Dibutuhkan seorang konselor (guru) untuk mengawasi dan membimbing klub, serta seorang ketua (kaichō). Beberapa sekolah menetapkan jumlah minimum anggota (sekitar lima orang).

Tidak semua orang menyukai ide klub, karena tergantung klub yang kamu pilih, kegiatan ini bisa memakan banyak waktu. Beberapa siswa bertahan di sekolah hingga malam; yang lain harus mengikuti rapat atau pertandingan di akhir pekan.

Kegiatan klub berlangsung setelah jam sekolah dan biasanya berlangsung sekitar lima hingga tujuh jam; kadang-kadang kelompok ini bahkan bertemu sebelum sekolah dimulai.

Itulah sebabnya beberapa siswa akhirnya membuat atau bergabung dengan klub yang praktis tidak melakukan apa-apa dan memiliki kewajiban kehadiran yang minim, seperti klub membaca atau bahkan klub tidur siang.

Siswi dengan seragam sekolah Jepang di depan sekolah

Sangat umum bagi siswa untuk merasa tertekan saat memilih klub, karena pilihan itu akan memengaruhi kinerja akademis dan pertemanan yang mereka jalin dengan sesama kōkōsei (siswa SMA).

Banyak klub menjalankan kampanye rekrutmen, karena risiko harus tutup karena kekurangan anggota memang nyata. Anggota dapat keluar dari klub dan bergabung dengan klub lain kapan saja. Tujuan utama klub tidak hanya untuk mendorong kegiatan seperti olahraga, permainan, seni, musik, dan sebagainya, tetapi juga untuk mendorong sosialisasi yang intens.

Cara kerja klub sekolah di Jepang

Beberapa sekolah mewajibkan partisipasi dalam kegiatan klub; yang lain menjadikannya opsional atau menyerahkannya kepada klub masing-masing. Banyak siswa SMA memiliki pekerjaan paruh waktu, yang dapat berbenturan dengan klub yang menuntut dedikasi tinggi, seperti klub olahraga.

Siswa yang tidak bergabung dengan klub mana pun atau absen dari kegiatan klub disebut kitakubu (帰宅部). Kemungkinan untuk mendirikan klub praktis tidak terbatas: ada klub olahraga, klub seni, klub memasak, kendo, manga, anime — atau apa pun yang menarik minat siswa.

Untuk mendirikan klub, diperlukan jumlah anggota minimum, seorang konselor, proposal dengan tujuan, dan kadang-kadang seorang sponsor atau sukarelawan dari pihak kampus.

Siswa di atap sekolah Jepang

Batasan dan aturan untuk mendirikan serta mengelola klub ditetapkan oleh masing-masing sekolah. Kadang, OSIS bertanggung jawab untuk menyetujui dan mengawasi klub-klub baru.

Tingkat komitmen yang dituntut oleh bukatsu terkenal ketat. Beberapa pengamat asing mengkritik sistem ini karena waktu yang dituntutkannya dari para siswa.

Di dalam klub sekolah, selain ikatan antarsiswa, budaya senpai dan kōhai juga dipraktikkan. Banyak pendatang baru di klub olahraga harus menunggu bertahun-tahun sebelum boleh mengikuti kompetisi antarsekolah.

Beberapa anggota mengembangkan keterampilannya hingga tingkat profesional, dan beberapa sekolah memiliki tim yang berlomba di tingkat nasional. Yang lain bergabung hanya untuk hobi atau untuk kebersamaan dengan teman-teman.

Ketika siswa melanjutkan ke pendidikan tinggi, mereka sering kali dapat mengonversi kredit dari pencapaian mereka di klub sekolah. Beberapa sekolah tidak menetapkan jumlah minimum anggota, tetapi biasanya ada batas maksimum.

Kadang-kadang, anggota diminta keluar dari klub karena kurang pengalaman atau karena bergabung terlambat.

Keunikan klub sekolah di Jepang

Akhiran -bu (部) digunakan untuk merujuk pada klub, seperti klub bisbol (yakyūbu). Yang lain lebih memilih akhiran -kai, yang berarti "asosiasi" atau "perkumpulan". Berikut beberapa istilah lain:

  • undō-bu — 運動部 (klub olahraga);
  • bunka-bu — 文化部 (klub budaya).
Siswa berlatih di sebuah klub sekolah Jepang

Klub olahraga adalah klub yang menuntut aktivitas fisik; klub budaya adalah klub tanpa fokus olahraga — bahkan shogi atau musik klasik termasuk dalam kategori ini.

Apakah klub sekolah Jepang benar-benar tidak diawasi? Jika kamu menonton anime, kamu mungkin sudah memperhatikan betapa minimnya penampakan konselor atau guru yang mengelola klub.

Kenyataannya, banyak sekolah Jepang ingin mendorong siswa untuk menjadi mandiri, mengambil keputusan sendiri, mengurus administrasi, mengelola uang, dan mengembangkan keterampilan kepemimpinan.

  • Klub sekolah juga tersedia di perguruan tinggi.
  • Anggota klub sering melakukan perjalanan untuk kegiatan selama liburan sekolah.

Berikut beberapa contoh klub sekolah yang umum:

  • Olahraga: bola basket, tari, bulu tangkis, bola tangan, rugby, bisbol, renang, atletik, tenis meja.
  • Seni: teater, perfilman, fotografi, melukis, tari, sastra.
  • Seni tradisional Jepang: kimono, upacara minum teh, ikebana (rangkaian bunga), kaligrafi Jepang.
  • Ilmu humaniora (umum di perguruan tinggi): sejarah, filsafat, politik, sosiologi.
Seorang siswi memberikan cokelat pada Hari Valentine, sebuah acara sekolah

Anime tentang klub sekolah

Setiap tahun, beberapa anime tayang yang menggambarkan kegiatan klub sekolah. Hampir setiap anime yang berlatar sekolah menampilkan kurabu atau bukatsu di satu titik. Membuat daftar menyeluruh mustahil, tetapi berikut beberapa anime terbaik yang menampilkan kehidupan siswa melalui kacamata sebuah klub sekolah:

  • The Melancholy of Haruhi Suzumiya (brigade SOS);
  • Kuroko's Basketball (bola basket);
  • Ace of Diamond (bisbol);
  • Haikyuu!! (bola voli);
  • Free! (renang);
  • Charlotte (OSIS);
  • Hyouka (sastra klasik);
  • Love Live! (idol);
  • K-On! (musik ringan);
  • My Teen Romantic Comedy SNAFU (klub layanan sukarela);
  • Chihayafuru (karuta);
  • Boku wa Tomodachi ga Sukunai (klub tetangga);
  • Kokoro Connect (klub penelitian budaya);
  • SKET Dance (klub penolong sekolah).
Komposisi adegan dari anime bertema klub sekolah

Apakah kamu pernah mengikuti sebuah klub? Adakah klub yang ingin kamu ikuti? Atau kamu ingat anime tentang klub sekolah Jepang yang tidak kami sebutkan? Kami sangat senang membaca komentar kamu dan melihat kamu membagikan artikel ini. Terima kasih!

Artikel terkait di skdesu.com:

Apakah klub sekolah wajib?

Klub sekolah (bukatsu) tidak diwajibkan secara mutlak di Jepang, tetapi klub memegang peran penting dalam kehidupan siswa dan budaya sekolah. Partisipasi sangat didorong dan sangat dihargai, baik oleh sekolah maupun oleh masyarakat Jepang secara umum.

Beberapa sekolah mungkin mengharuskan kamu memilih kegiatan ekstrakurikuler, tetapi jika kamu tidak ingin menghabiskan sebagian besar waktumu di sekolah atau di acara akhir pekan, ada klub yang menuntut dedikasi jauh lebih rendah.

Komitmen waktu

Waktu dan tenaga yang dibutuhkan berbeda-beda antar-klub, dan beberapa klub jelas lebih santai daripada yang lain. Umumnya, klub yang berfokus pada kegiatan rekreasional dan kasual cenderung menuntut lebih sedikit dari anggotanya, sementara klub yang sangat kompetitif dan terspesialisasi dapat menuntut dedikasi yang jauh lebih tinggi. Jenis-jenis klub berikut biasanya meminta lebih sedikit:

  1. Klub rekreasi: klub permainan, klub hobi, dan klub lain yang berfokus pada kegiatan santai biasanya paling ringan. Contohnya termasuk klub catur, klub fotografi, atau klub memasak.
  2. Klub budaya: klub yang berfokus pada budaya, bahasa, atau seni (teater, musik, tari, puisi) menawarkan lingkungan kreatif dan, meskipun memerlukan latihan, biasanya tidak sepadat klub olahraga yang kompetitif.
  3. Klub sukarela: biasanya memiliki jadwal fleksibel yang memungkinkan siswa berpartisipasi sesuai waktu mereka sendiri.

Perhatikan bahwa ketersediaan klub dan intensitas partisipasi sangat bervariasi antar-sekolah, tergantung pada permintaan siswa. Sebaiknya selalu periksa pilihan klub di sekolahmu dan bicarakan dengan ketua atau pembimbing klub untuk memahami persyaratan dan ekspektasi yang sebenarnya.

Sumber dan tautan berguna
Kevin Henrique

Tentang penulis: Kevin Henrique

Spesialis dengan pengalaman lebih dari 10 tahun dalam budaya Asia, berfokus pada Jepang, Korea, anime, dan game. Otodidak, penulis, dan pelancong yang fokus mengajarkan bahasa Jepang, tips wisata, dan fakta menarik yang mendalam.

Komunitas

Komentar

0 komentar

Belum ada komentar yang diterbitkan dalam bahasa ini.

Kirim komentar

Komentari artikel ini

Memuat pemeriksaan keamanan...

Jangan kirim tautan, embed, atau promosi. Komentar melewati anti-spam dan terjemahan otomatis sebelum tampil.