Fundoshi (褌) adalah kain penutup tradisional Jepang yang dililitkan di pinggang dan di antara kaki. Dahulu ia dipakai sebagai pakaian dalam oleh banyak laki-laki; kini lebih mudah ditemukan dalam matsuri, acara budaya, dan beberapa bentuk pakaian tradisional. Bentuknya sederhana, tetapi cara mengikat serta konteks pemakaiannya berubah menurut jenis dan kesempatan.
Istilah ini kadang diterjemahkan sebagai cawat atau kain penutup. Terjemahan itu membantu membayangkan bentuknya, tetapi fundoshi bukan sekadar kostum mencolok di jalan. Dalam sejarah sehari-hari Jepang, ia adalah pakaian praktis yang dipakai di bawah busana lain, terutama sebelum pakaian dalam bergaya Barat menjadi umum.
Baca juga:
- Sumo – Kehidupan Para Petarung dan Fakta Menarik
- Sukumizu – Pakaian Renang Sekolah Jepang
- Kimono – Semua tentang pakaian tradisional Jepang
Daftar isi 10
Apa itu fundoshi?
Fundoshi dibuat dari sehelai kain, biasanya katun atau linen, yang diatur di tubuh dengan lilitan, simpul, atau tali. Bagian depan, belakang, dan cara kain menempel di pinggang bergantung pada modelnya. Karena tidak dijahit seperti celana dalam modern, pemakainya perlu menyesuaikan ikatan agar kain tetap aman dan nyaman.
Di masa ketika pakaian siap pakai belum mendominasi, selembar kain yang mudah dicuci dan dikeringkan memiliki kegunaan nyata. Catatan tentang pakaian Jepang dan penggambaran zaman Edo memperlihatkan fundoshi pada pekerja, pedagang, pengrajin, nelayan, serta samurai di balik pakaian mereka. Ini tidak berarti semua orang memakainya dengan cara atau frekuensi yang sama; penggunaan selalu terkait kelas, pekerjaan, wilayah, dan masa.

Dari pakaian sehari-hari ke simbol festival
Pada zaman Edo (1603–1868), fundoshi lazim terlihat sebagai bagian dari pakaian kerja. Pemakaiannya kemudian berkurang pada abad ke-20, ketika celana dalam dengan potongan tetap dan bahan elastis menjadi lebih umum. Perubahan itu tidak menghapus fundoshi dari kebudayaan Jepang, tetapi memindahkannya dari pakaian sehari-hari ke kesempatan yang lebih khusus.
Saat ini, fundoshi paling mudah dijumpai dalam festival daerah. Pembawa mikoshi, yaitu kuil portabel dalam prosesi Shinto, dapat mengenakannya bersama happi. Dalam festival tertentu yang dikenal sebagai Hadaka Matsuri, pakaian ini juga menjadi bagian dari busana peserta. Di sana, fundoshi berkaitan dengan aturan acara dan suasana komunal, bukan dengan gaya berpakaian harian di kota.
Karena itu, foto orang berfundoshi di jalan Jepang biasanya perlu dibaca dalam konteks festival, pertunjukan, atau upacara. Tokyo dan kota besar lain tidak menjadikan fundoshi sebagai pakaian umum untuk bepergian sehari-hari.
Fundoshi dan mawashi bukan hal yang sama
Keduanya sering disamakan karena sama-sama berupa kain yang melilit tubuh. Namun, mawashi adalah sabuk atau kain khusus yang dipakai pegulat sumo. Bahannya lebih berat dan aturan pemakaiannya berbeda dari fundoshi biasa. Menyebut mawashi sebagai fundoshi dapat membantu menjelaskan kemiripan bentuk, tetapi keduanya tidak dapat dipertukarkan begitu saja.

Jenis fundoshi yang sering disebut
Nama model dapat berubah menurut daerah dan cara pengikatan. Tiga bentuk berikut paling berguna untuk memahami perbedaannya.
Rokushaku fundoshi [六尺褌]
Rokushaku menggunakan kain panjang yang dililitkan sendiri tanpa potongan celana. Nama rokushaku merujuk pada ukuran tradisional Jepang, walaupun panjang kain yang dipakai dapat disesuaikan dengan tubuh dan cara mengikat. Bagian belakangnya sering lebih terbuka, sehingga model ini mudah dikenali dalam foto festival atau pakaian renang lama.

Etchū fundoshi [越中褌]
Etchū fundoshi memiliki lembar depan yang menggantung dan tali untuk diikat di pinggang. Bentuk ini kerap dianggap lebih mudah dipahami karena bagian kainnya jelas: tali menahan pinggang, sementara lembar utama melewati selangkangan. Namanya terkait wilayah Etchū, nama lama untuk daerah Toyama.

Mokko dan kuroneko
Mokko fundoshi membentuk kantong di bagian depan dan tampak lebih dekat dengan pakaian dalam modern. Ada pula kuroneko fundoshi, variasi yang membuat bagian kain di belakang lebih sempit. Nama-nama ini menggambarkan konstruksi atau penampilan, bukan aturan tunggal yang berlaku di seluruh Jepang.

Apakah fundoshi dipakai perempuan?
Sejarah fundoshi paling sering dikaitkan dengan pakaian laki-laki. Namun, pemakaiannya tidak sepenuhnya terbatas pada laki-laki, dan ada produk modern yang dibuat untuk perempuan. Model masa kini dapat memakai kain yang lebih lembut, corak berbeda, atau bentuk yang menyesuaikan pakaian dalam kontemporer.
Hal yang penting adalah membedakan produk modern dari kebiasaan sejarah. Tidak tepat menganggap fundoshi sebagai pakaian sehari-hari yang lazim bagi perempuan Jepang. Ia tetap merupakan pilihan khusus, baik karena minat pada pakaian tradisional maupun sebagai produk pakaian dalam alternatif.

Fundoshi dalam anime dan budaya populer
Dalam anime, manga, dan komedi Jepang, fundoshi mudah dikenali sebagai penanda suasana lama, karakter samurai, peserta festival, atau adegan jenaka. Kemunculannya tidak selalu dimaksudkan sebagai gambaran kebiasaan nyata. Justru kontras antara pakaian tradisional dan kehidupan modern sering menjadi bagian dari lelucon atau identitas visual sebuah tokoh.

Ringkasnya
Fundoshi adalah bagian kecil tetapi menarik dari sejarah pakaian Jepang. Ia pernah praktis untuk kehidupan sehari-hari, lalu bertahan melalui festival, sumo, pertunjukan, dan desain modern. Jika melihatnya dalam foto atau anime, perhatikan dulu konteksnya: model kain, acara, dan perbedaan antara fundoshi biasa dengan mawashi akan memberi gambaran yang jauh lebih tepat.
Komunitas
Komentar
0 komentar
Belum ada komentar yang diterbitkan dalam bahasa ini.
Kirim komentar