Ada beberapa tempat di Jepang yang mungkin akan Anda temui dengan tanda tertulis: "Hanya Orang Jepang", Japanese Only, atau 日本人のみ. Jangan khawatir: plakat seperti itu sangat jarang. Kalau ada yang melihatnya, biasanya sudah tersebar di internet sebelum Anda sempat memotretnya sendiri.
Niat papan itu memang menjauhkan orang asing dari pintu. Tapi jangan langsung menyamakan semua kertas di kaca dengan satu cerita. Ada toko yang cuma bilang stafnya tidak bisa bahasa lain. Ada yang menolak wajah asing, bahkan ketika orang itu sudah berbicara bahasa Jepang. Dan ada juga yang lahir dari prasangka polos-polosan.
Jepang bukan satu-satunya negara dengan plakat semacam ini. Ada di banyak tempat; saya sendiri pernah menemui papan yang terang-terangan hanya mengizinkan orang kulit putih di negara seperti Amerika Serikat. Menilai seluruh orang Jepang dari satu pintu acak justru membuat kita mengulang pola yang sama: menghakimi kelompok dari satu contoh.

Daftar isi 5
Mengapa ada tempat usaha yang menolak orang asing?
Alasannya campur. Staf mungkin tidak cukup tenang untuk melayani pelanggan yang tidak berbahasa Jepang. Layanan itu sendiri bisa eksklusif, seperti bar keanggotaan atau snack bar kecil. Kadang bisnisnya gelap, atau dekat dengan yakuza.
Sebagian plakat ini muncul bersama tanda +18. Banyak tempat hiburan malam dan fūzoku memang menutup pintu untuk tamu asing. Itu bukan restoran ramen di stasiun; itu dunia lain, dengan aturan sendiri, dan jarang layak dijadikan ukuran seluruh Jepang.
Saya rasa pemilik jarang memasang papan itu hanya karena "ah, gue nggak suka gaijin". Sikap itu merusak omzet mereka sendiri. Kami sudah masuk ke tempat yang sangat Jepang, semacam PUB kecil, di mana pemiliknya hampir tidak pernah bertemu orang asing, tidak bisa bahasa lain, dan justru senang kenalan.
Hal yang sering tertukar: banyak onsen dan kolam renang melarang orang bertato. Itu bukan plakat Japanese Only. Asosiasi tato dengan yakuza masih kuat di pemandian umum, dan aturannya berlaku juga untuk orang Jepang. Jangan campur dua larangan itu seolah satu cerita yang sama.
“Japanese Only” atau hanya bahasa Jepang?
Di sini letak kebingungan yang paling sering. Papan yang bilang staf hanya bisa bahasa Jepang, atau minta tamu memesan dalam bahasa Jepang, tidak sama dengan papan yang menolak siapa pun yang kelihatan asing.
Toko keluarga dengan dua orang di dapur dan satu di lantai memang bisa kewalahan jika setiap pesanan harus lewat aplikasi terjemah, permintaan ubah menu, atau penjelasan alergi yang panjang. Di Jepang, mengubah isi hidangan juga tidak semudah di restoran Barat. Kalau papan itu cuma peringatan bahasa, orang yang bisa memesan dalam bahasa Jepang biasanya masih bisa masuk.
Yang lain sudah melewati garis itu. Pada 2023, sebuah izakaya di Naha, Okinawa, memasang tulisan yang mengaku stafnya hanya berbahasa Jepang, lalu menutup dengan Japanese Only dan menolak pelanggan dari luar negeri. Dinas pariwisata kota sempat meminta papan itu diturunkan. Pemilik awalnya menolak, kemudian menurunkannya dan bilang tulisannya keliru. Kalau masalahnya benar-benar bahasa, warga asing yang lancar berbahasa Jepang tidak seharusnya ditolak di pintu.
Onsen Yunohana di Otaru: saat papan itu sampai ke pengadilan
Kasus yang paling sering dikutip terjadi di Otaru, Hokkaido. Pada 1990-an, beberapa pemandian air panas memasang Japanese Only setelah keluhan soal pelaut Rusia yang tidak mengikuti tata tertib onsen. Yunohana Onsen menolak masuk orang asing — dan, dalam satu kunjungan yang kemudian jadi perkara, juga menolak orang yang sudah menjadi warga negara Jepang tetapi "tidak terlihat seperti orang Jepang".
Pengadilan Distrik Sapporo pada 2002 memerintahkan Yunohana membayar ganti rugi kepada para penggugat, sekitar satu juta yen per orang. Pemerintah kota Otaru tidak dianggap ikut bertanggung jawab; Mahkamah Agung menolak banding terhadap kota itu pada 2005. Putusan itu tidak menghapus semua papan di Jepang, tetapi menegaskan bahwa menolak orang karena ras atau kewarganegaraan bisa kalah di pengadilan.
Apakah ada prasangka dalam plakat-plakat ini?
Tidak bisa disangkal ada mentalitas anti-asing di Jepang. Itu bukan tanpa alasan di kepala sebagian orang: orang asing kadang menjaga reputasi yang buruk, dan karena tubuh asing sangat menonjol di kereta atau di lorong toko, satu orang yang berisik bisa membuat kelompok kelihatan berisik. Sesekali cerita seperti itu muncul di media. Ada juga jarak yang masih tersisa di generasi yang hidup dengan ingatan Perang Dunia II.
Tapi itu tidak menjadikan penghinaan sebagai hal yang pantas. Kalau Anda orang yang sopan, mengapa harus menanggung akibat dari orang yang tidak Anda kenal? Diskriminasi terhadap orang asing di Jepang memang ada; plakat di pintu hanyalah bentuk yang paling kelihatan, bukan satu-satunya.

Apa yang harus dilakukan kalau ketemu plakat ini?
Meskipun sulit menemukan tempat yang terang-terangan menolak non-Jepang, cara menghadapinya biasanya sederhana: pergi ke tempat lain. Bukan Anda yang kehilangan sesuatu. Mereka yang kehilangan pelanggan.
Umumnya, tempat dengan papan seperti itu tidak punya reputasi yang bagus. Orang Jepang sendiri sering menghindarinya. Pelayanannya pun jarang yang istimewa. Restoran rantai, kafe di daerah wisata, dan izakaya yang terbiasa dengan tamu luar biasanya justru lebih rileks.
Kalau papan itu menyinggung, pikirkan dulu sebelum menghabiskan malam untuk mengadu di internet. Tempat semacam ini tidak eksklusif milik Jepang; ada juga di negara seperti Rusia dan Korea Selatan. Foto satu pintu viral tidak mewakili jutaan pintu yang tidak memasang apa-apa.
Komunitas
Komentar
0 komentar
Belum ada komentar yang diterbitkan dalam bahasa ini.
Kirim komentar