Ketika kita berbicara tentang Japang, hal terakhir yang kita bayangkan adalah kekerasan, pemberontakan, kekacauan, dan kerusuhan. Japang saat ini sangat beradab dan modern. Berbeda dengan Brasil, Japang tidak mengalami krisis politik dan/atau sosial.
Namun tidak selalu begitu.
Pemberontakan beras tahun 1918 adalah serangkaian gangguan populer yang muncul di Japang pada tahun 1918. Kerusuhan tersebut mengakibatkan runtuhnya pemerintahan Terauchi Masatake (Perdana Menteri Japang pada saat itu).
Dari Juli hingga September 1918, Japang dilanda gelombang pemberontakan dari desa-desa nelayan pedesaan hingga pusat industri besar dan ladang batu bara. Ini adalah gejolak terbesar di Japang hingga saat itu, sejak agitasi selama Restorasi Meiji 1868.
Pemberontakan tersebut merupakan respons terhadap inflasi di masa perang, upah rendah, dan spekulasi komoditas. Harga beras berlipat ganda dalam waktu singkat, dan harga barang konsumen lainnya juga meningkat, sementara upah tetap rendah. Japang juga terkena pandemi flu pada 1918-1919 seperti sebagian besar dunia lainnya.
Penyebab Pemberontakan Beras

Awal abad ke-20 bagi Japang adalah era yang drastis. Pada saat yang sama Japang menjajah Korea dan Manchuria dan berada di tengah perang dunia, bangsa itu mengalami situasi ekonomi yang rumit. Kenaikan harga beras yang sangat cepat menyebabkan kesulitan ekstrem di daerah pedesaan, di mana beras adalah konsumsi utama.
Petani mulai bertindak dengan permusuhan terhadap pedagang beras dan pejabat pemerintah yang membiarkan harga konsumen lepas kendali.
Kenaikan harga beras terjadi pada puncak spiral inflasi pasca-Perang Dunia I. Krisis inflasi mempengaruhi sebagian besar barang konsumen dan sewa. Akibatnya, penduduk kota juga mulai bertindak agresif terhadap pedagang dan pejabat pemerintah.
Intervensi Siberia semakin memperburuk situasi, dengan pemerintah membeli stok beras untuk memberi makan tentara Japang. Ini semakin meningkatkan harga beras. Akhirnya, campur tangan pemerintah dalam urusan ekonomi menyebabkan protes pedesaan menyebar ke kota-kota.
Protes awal terjadi di kota nelayan kecil Uozu, provinsi Toyama, pada 23 Juli 1918.
Dimulai dengan petisi damai. Namun, gangguan dengan cepat berubah menjadi kerusuhan, pemogokan, penjarahan, pembakaran kantor polisi dan kantor pemerintah, dan konfrontasi bersenjata. Pada 1918, terdapat 417 sengketa terpisah yang melibatkan lebih dari 66.000 pekerja.
Hasil Pemberontakan Beras

Sekitar 25.000 orang ditangkap. 8200 orang dihukum karena berbagai kejahatan, dengan hukuman mulai dari denda kecil hingga hukuman mati. Namun, kerusuhan tidak terjadi di daerah termiskin. Juga tidak di antara pekerja termiskin.
Mengambil tanggung jawab atas keruntuhan ketertiban umum, Perdana Menteri Terauchi Masatake dan kabinetnya mengundurkan diri pada 29 September 1918.


Tinggalkan Balasan