Jepang hidup lama dalam bayang-bayang perang saudara dan ekspansi di Asia. Dari sejarah yang keras itu, citra yang sering muncul sekarang justru sebaliknya: negeri yang relatif damai, dengan orang yang terlihat tenang di kereta, di gang sempit, bahkan tengah malam. Tapi “damai” di sini bukan berarti tak ada kejahatan sama sekali — yang menarik justru bagaimana masyarakat bereaksi ketika kekerasan benar-benar muncul di depan mata.
Banyak wisatawan Jepang yang jarang terbiasa dengan ancaman di jalanan terkejut di luar negeri, termasuk di Brasil, karena pola kewaspadaan sehari-hari mereka dibentuk di lingkungan yang berbeda. Di layar anime dan film, dunia bisa terasa ekstrem; di kehidupan nyata Jepang, kekerasan jarang jadi bagian rutinitas, sehingga reaksi di lokasi kejadian pun sering terasa lambat, hati-hati, atau ragu-ragu bagi orang luar.
Daftar isi 3
Apakah terjadi kejahatan kekerasan di Jepang?
Ya. Di hampir setiap negara ada kejahatan kekerasan — termasuk di Jepang — hanya saja frekuensinya jauh lebih rendah dibanding banyak tempat lain. Aturan ketat soal senjata, pengawasan sosial, dan sistem hukum yang keras (termasuk hukuman mati untuk kejahatan paling berat) membentuk iklim yang menekan kekerasan bersenjata.
Menurut data pembunuhan disengaja yang dirangkum UNODC, tingkat di Jepang berada di kisaran sangat rendah, sekitar 0,2 per 100.000 penduduk pada tahun-tahun terbaru — setara dengan ratusan kasus per tahun di seluruh negeri, bukan ribuan. Kematian akibat senjata api sangat jarang. Bandingkan dengan negara-negara yang angka pembunuhannya belasan atau puluhan per 100.000: skala dan rasa “normalnya” kekerasan di jalanan jelas berbeda.

Kekerasan yang “tidak terlihat” tetap ada di mana-mana; yang berubah adalah frekuensi, jenis, dan sorotan media. Jepang juga lama dikaitkan dengan angka bunuh diri yang tinggi, meskipun tren jangka panjang turun di beberapa dekade — reputasi itu sering bertahan lebih lama daripada data terbaru. Di sisi lain, di negara dengan kekerasan sehari-hari yang tinggi, kasus serupa di Jepang langsung dibesar-besarkan sebagai “bukti” bahwa citra aman itu bohong.

Manusia cenderung lebih cepat menunjuk cacat daripada merayakan yang berjalan baik. Setiap kali citra negara lain dipuji, ada yang buru-buru mencari skandal untuk “menyeimbangkan” narasi. Perbandingan itu wajar sebagai sudut pandang, tapi tidak mengubah fakta dasar: kekerasan jalanan di Jepang jauh lebih jarang, dan itu memengaruhi cara orang bereaksi saat kejadian langka itu muncul.
Bagaimana orang Jepang bereaksi terhadap kejahatan?
Di Nagoya (25/05/2019), seorang pria menusuk dan memukul pria lain berkali-kali di jalan ramai. Banyak yang merekam, berteriak, tapi hampir tidak ada yang langsung mencegat pelaku. Dari luar, reaksinya bisa terasa menjengkelkan: kenapa tidak bersama-sama menghentikan?
Jawabannya lebih rumit. Campur tangan fisik di tempat umum terasa mendokusai — merepotkan, berisiko, dan berpotensi menyeret saksi ke proses panjang. Ada kekhawatiran pelaku punya tautan ke Yakuza, atau setidaknya akan membalas dendam. Polisi juga akan meminta keterangan; bagi orang yang tidak terbiasa “ikut campur”, itu beban nyata, bukan heroisme film.

Orang Jepang juga jarang dilatih secara sosial untuk bereaksi cepat terhadap perkelahian di depan umum. Di lingkungan di mana kekerasan jarang terlihat, “otot” refleknya berbeda: banyak yang merekam, memanggil polisi, menjaga jarak — bukan langsung bergerombol menyerang. Di tempat di mana perkelahian lebih “biasa”, kerumunan kadang malah berteriak seperti menonton tontonan. Keduanya punya sisi gelap masing-masing.
Dalam kasus Nagoya, polisi tiba, tapi korban meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit. Di media sosial, perdebatan panas: haruskah warga awam campur tangan? Ada yang memikirkan cara mengamankan pelaku tanpa cedera parah — dan di Jepang memang ada alat penahan non-lethal bersejarah, Sasumata, yang masih dijumpai di sekolah dan fasilitas publik. Tapi dalam kepanikan, jarang ada yang sempat berpikir sepraktis itu.

Yang sering diyakini warga: pelaku serius jarang “hilang begitu saja”. Sistemnya keras pada kejahatan kejam, meski prosesnya lambat dan birokratis. Keberanian individu tetap dibutuhkan — tapi menuntut heroisme massal di budaya yang mengutamakan kehati-hatian dan menghindari konflik terbuka adalah harapan yang tidak selalu realistis.
Apakah kejahatan kekerasan disembunyikan oleh media Jepang?
Kasus kekerasan jarang mendominasi jam tayang televisi Jepang dengan cara yang sama seperti di beberapa negara Amerika Latin. Ada yang menuduh: Jepang sengaja menjaga citra “negeri damai” atau menyembunyikan fakta dari warganya. Benarkah?

Lebih masuk akal membaca ini sebagai pilihan editorial dan budaya media, bukan konspirasi total. Dengan frekuensi kekerasan yang relatif rendah, media tidak “memasak” rasa panik harian. Banyak pengamat di Jepang sendiri berpendapat bahwa sorotan berlebihan pada pembunuh justru bisa memicu peniruan pada orang yang rapuh secara psikologis. Jadi, menahan kredit publisitas untuk pelaku bukan otomatis berarti “data dihapus dari peta”.
Di sisi lain, penipuan, kejahatan siber, dan kasus-kasus non-kekerasan justru sering dibahas panjang lebar di Jepang — termasuk penipuan telepon yang menarget lansia. Citra “aman dari tusukan” tidak sama dengan “bebas masalah”. Keamanan publik Jepang kuat di kekerasan bersenjata dan perampokan berdarah; celahnya lebih sering di penipuan, pelecehan, atau kejahatan yang kurang “spektakuler” di kamera.
Media yang memutar kekerasan nonstop bisa membuat penonton cemas berlebihan — atau, sebaliknya, menormalisasi kekejaman. Di Jepang, ritme liputan yang lebih tertahan cocok dengan frekuensi kejadian yang lebih rendah, meski itu membuat orang luar kesulitan “membaca” seberapa serius satu skandal viral. Satu kasus mengerikan di Nagoya atau di kereta tidak otomatis membatalkan statistik nasional; ia justru menegaskan betapa jarangnya pola itu, dan betapa bingungnya orang yang tak terbiasa saat harus bertindak.
Komunitas
Komentar
0 komentar
Belum ada komentar yang diterbitkan dalam bahasa ini.
Kirim komentar