Apakah Anda pernah bertanya-tanya jam berapa di Korea? Mungkin Anda sedang merencanakan perjalanan ke Seoul atau sekadar penasaran dengan zona waktu Korea. Dalam artikel ini, kita akan menyelami waktu Korea, keunikannya, dan fakta menarik.
Ada baiknya juga menyimak artikel kami yang membahas waktu Jepang secara khusus: Jam berapa di Jepang? JST, UTC+9, dan selisih dengan Indonesia
Daftar isi 8
KST (Korea Standard Time)
Waktu resmi di Korea disebut KST, yang berarti Korea Standard Time, dan dalam bahasa Korea dikenal sebagai 한국 표준시 (Hanguk pyojunsi). Zona waktu Korea adalah UTC+9: 12 jam lebih cepat dari Brasília (UTC-3), dua jam lebih cepat dari Jakarta (WIB, UTC+7), dan satu jam lebih cepat dari WITA (UTC+8).
Menarik untuk dicatat bahwa Korea, seperti Jepang, tidak menerapkan waktu musim panas. Oleh karena itu, selisih waktunya tetap sama sepanjang tahun di negara-negara yang juga tidak memakai waktu musim panas. Jika di Brasília pukul 15.00, di Seoul sudah pukul 03.00 keesokan harinya; dari Jakarta, pukul 09.00 WIB sama dengan pukul 11.00 KST.
Selain Jepang, Korea berbagi zona waktu dengan Timor-Leste, Palau, wilayah timur Indonesia (Papua dan Maluku), dan kawasan Yakutsk di Rusia. Matahari terbit di Seoul berkisar dari pukul 05.11 pada Juni hingga 07.47 pada awal Januari, sedangkan matahari terbenam berkisar dari pukul 17.13 pada awal Desember hingga 19.57 pada akhir Juni.
Waktu di Korea - Perbedaan dan Fakta Menarik
Seperti di Jepang, Korea juga memiliki praktik melewati pukul 24.00 dalam situasi tertentu. Di Korea, ini umum dalam program TV, jam kerja, dan bahkan transportasi umum: pukul 25.00 berarti pukul 01.00 keesokan harinya, sehingga aktivitas yang berlanjut hingga dini hari tidak perlu mengubah tanggal.
Sistem 12 Jam dalam Kehidupan Sehari-hari: Meskipun sistem resminya adalah 24 jam, dalam kehidupan sehari-hari, orang Korea sering menggunakan sistem 12 jam, terutama dalam percakapan informal. Mereka membedakan pagi dan sore dengan menggunakan "오전" (sebelum tengah hari) dan "오후" (setelah tengah hari).
Pengaruh Historis dalam Pengukuran Waktu: Selama periode pengaruh Tiongkok, Korea mengadopsi sistem zodiak untuk menghitung jam, cerminan budaya dan filosofi yang juga dikenal di Tiongkok. Sistem kuno ini membagi siang dan malam menjadi 12 periode, masing-masing dinamai menurut tanda zodiak Tiongkok.
Makna Budaya Jam Tertentu: Jam-jam tertentu memiliki makna budaya di Korea. Angka empat, 사 (sa), berbunyi sama dengan hanja 死 yang berarti kematian, sehingga pukul 4:44 pagi atau sore sering dihindari, dan banyak gedung melewatkan lantai empat.
Waktu Musim Panas: Korea Selatan sempat menerapkan waktu musim panas pada 1948-1951, 1955-1960, dan terakhir pada 1987-1988, ketika Seoul menjadi tuan rumah Olimpiade dan jam dimajukan satu jam agar pertandingan siang hari bisa disiarkan langsung pada waktu tayang utama di Amerika Serikat. Sejak itu, Korea tidak lagi mengubah jam dan selalu memakai KST.
Sejarah Waktu dan Jam di Korea
Di Korea pra-modern, waktu diukur dengan cara yang berbeda dari konvensi Barat. Sistem tradisionalnya membagi siang dan malam menjadi 12 periode yang panjangnya berubah mengikuti musim, karena dihitung berdasarkan lamanya sinar matahari.
Sebelum modernisasi, Korea mengikuti sistem waktu tradisional, di mana setiap wilayah memiliki perhitungan waktu sendiri berdasarkan matahari. Dengan adopsi zona waktu standar, Korea menyederhanakan pengukuran waktu di seluruh negara, terutama setelah perluasan jaringan kereta api.
Jam mekanis Barat masuk ke Korea pada abad ke-17, sementara jam air dan jam matahari sudah lebih dulu dipakai. Zona waktu yang berlaku hari ini baru ditetapkan pada abad ke-20, melalui beberapa kali perubahan.
Jam Air dan Jam Matahari
Orang Korea menggunakan jam air yang disebut "물시계" (mulsigye), umum di Asia, untuk mengukur waktu melalui aliran air. Perangkat ini penting untuk menghitung jam di istana dan kuil. Jam air paling terkenal di Korea, Jagyeongnu (자격루), dibuat pada 1434 oleh Jang Yeong-sil pada masa Raja Sejong dan dianggap sebagai salah satu jam air paling canggih pada masanya karena menandai waktu secara otomatis dengan lonceng, gong, dan drum.
Selain jam air, jam matahari yang disebut "해시계" (haesigye) juga digunakan untuk mengukur waktu selama siang hari, terutama di tempat umum dan kuil. Salah satunya, angbu-ilgu (앙부일구) berbentuk seperti mangkuk perunggu, dipasang pada 1437 agar siapa pun bisa membaca waktu di ruang terbuka.

Pengaruh Asing dan Modernisasi
Selama periode Joseon, terutama pada abad-abad terakhir, Korea mulai berhubungan dengan teknologi Barat, termasuk jam mekanis. Pengaruh asing ini mempercepat modernisasi sistem pengukuran waktu di negara ini.
Akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, Korea mulai mengadopsi sistem waktu matahari 24 jam, lebih selaras dengan konvensi internasional. Gerakan ini adalah bagian dari reformasi modernisasi dan westernisasi.
Standardisasi Zona Waktu
Standardisasi zona waktu di Korea terjadi secara bertahap. Pada 1908, Kekaisaran Korea mengadopsi GMT+8:30. Pada 1912, saat pendudukan Jepang, pemerintah kolonial memajukan jam ke GMT+9 agar sama dengan waktu Jepang. Pada 1954, di masa Presiden Syngman Rhee, Korea Selatan kembali ke GMT+8:30, lalu pada 1961 pemerintahan Park Chung-hee menetapkan GMT+9 kembali, yang bertahan hingga saat ini.
Korea Utara juga sempat memakai zona waktunya sendiri: dari 15 Agustus 2015 hingga 5 Mei 2018, jam di sana memakai UTC+8:30 sebagai Waktu Pyongyang, sebelum akhirnya kembali ke UTC+9 agar sejalan dengan Korea Selatan.
Jejak sejarah ini masih terasa dalam kehidupan sehari-hari: jam Korea mengikuti meridian 135° timur, sehingga tengah hari di Seoul baru terjadi sekitar 30 menit setelah pukul 12.00 di jam dinding.
Bagaimana Mengucapkan Jam dalam Bahasa Korea?
Bahasa Korea memiliki dua sistem angka: bilangan asli Korea (하나, 둘, 셋) dan bilangan Sino-Korea (일, 이, 삼). Keduanya dipakai bersama saat menyebut waktu. Untuk jam, orang Korea memakai bilangan asli: "pukul tiga" adalah "세 시" (se si), dan "세" adalah bentuk pendek dari "셋", angka asli untuk tiga. Angka tiga Sino-Korea adalah "삼". Kedua sistem ini dijelaskan lengkap dalam daftar angka dalam bahasa Korea.
Satuan jam adalah "시" (si) dan menit adalah "분" (bun). Jam memakai bilangan asli, sedangkan menit dan detik memakai bilangan Sino-Korea. Jadi, pukul 3.15 adalah "세 시 십오 분" (se si sibo bun), dan pukul 2.45 adalah "두 시 사십오 분" (du si sasibo bun). Untuk menyebut setengah jam, ada kata "반" (ban): "세 시 반" berarti pukul 3.30.
Periode Hari: Korea juga menggunakan istilah "오전" (ojeon) untuk a.m. (sebelum tengah hari) dan "오후" (ohu) untuk p.m. (setelah tengah hari). Oleh karena itu, "pukul 09.00 pagi" akan menjadi "오전 아홉 시" (ojeon ahop si). Tengah malam diungkapkan sebagai "자정" (jajeong), dan tengah hari sebagai "정오" (jeong-o). Untuk menanyakan waktu, gunakan "지금 몇 시예요?" (jigeum myeot siyeyo?), yang berarti "sekarang jam berapa?".
Angka asli 1 sampai 4 berubah bentuk di depan "시": 한 시, 두 시, 세 시, dan 네 시, yang berasal dari 하나, 둘, 셋, dan 넷. Sementara itu, penanda hari, bulan, dan tahun mengikuti pola lain yang dijelaskan dalam artikel hari, bulan, dan tahun dalam bahasa Korea.
Perbedaan Waktu Korea dan Seluruh Dunia
Korea satu jam lebih cepat dari Tiongkok, dan Australia bergantung pada kota serta musimnya: Sydney 1 jam lebih cepat dari Seoul pada waktu standar dan 2 jam lebih cepat saat waktu musim panas Australia berlaku.
Tabel di bawah ini menunjukkan perbedaan waktu Korea dan kota-kota serta negara-negara utama lainnya di seluruh dunia:
| Wilayah | Selisih dengan Seoul | Keterangan |
|---|---|---|
| Jakarta, Bangkok, Hanoi | -2 jam | WIB/ICT, UTC+7 |
| Bali, Makassar, Singapura, Manila, Beijing, Hong Kong | -1 jam | WITA/PHT/CST/HKT, UTC+8 |
| Jayapura, Tokyo, Dili, Palau | 0 | WIT/JST, UTC+9 |
| Yakutsk | 0 | UTC+9 |
| Vladivostok | +1 jam | UTC+10 |
| Sydney | +1 jam, +2 jam saat musim panas Australia | AEST/AEDT |
| Auckland, Wellington | +3 jam, +4 jam saat musim panas Selandia Baru | NZST/NZDT |
| Mumbai, New Delhi | -3 jam 30 menit | IST, UTC+5:30 |
| Dubai, Riyadh | -5 jam | UTC+4 |
| Teheran | -5 jam 30 menit | UTC+3:30, tanpa waktu musim panas |
| Moskow | -6 jam | UTC+3, tanpa waktu musim panas |
| Kairo | -7 jam, -6 jam saat musim panas | UTC+2, waktu musim panas sejak 2023 |
| Johannesburg | -7 jam | SAST, UTC+2 |
| Athena, Helsinki | -7 jam, -6 jam saat musim panas | EET/EEST |
| Paris, Berlin, Madrid, Roma, Amsterdam | -8 jam, -7 jam saat musim panas | CET/CEST |
| London, Dublin, Lisabon | -9 jam, -8 jam saat musim panas | GMT/BST, WET/WEST |
| São Paulo, Rio de Janeiro, Buenos Aires | -12 jam | UTC-3 |
| New York, Toronto, Montreal | -14 jam, -13 jam saat musim panas | EST/EDT |
| Dallas | -15 jam, -14 jam saat musim panas | CST/CDT |
| Kota Meksiko | -15 jam | UTC-6, tanpa waktu musim panas sejak 2022 |
| Los Angeles, Vancouver | -17 jam, -16 jam saat musim panas | PST/PDT |
Karena KST selalu UTC+9 sepanjang tahun, hanya waktu musim panas di tempat lain yang menggeser hitungan. Dari Indonesia, konversinya sederhana: waktu WIB ditambah dua jam, WITA ditambah satu jam, dan WIT sama persis dengan KST. Pukul 09.00 di Jakarta sama dengan pukul 11.00 di Seoul. Untuk menelepon kantor di Korea dari Jakarta, waktu paling nyaman adalah pagi hingga siang WIB, saat jam kerja di Seoul sudah berjalan.






Komunitas
Komentar
0 komentar
Belum ada komentar yang diterbitkan dalam bahasa ini.
Kirim komentar