Animes - Semua tentang kartun Jepang

Animes - Semua tentang kartun Jepang

Arti anime di Jepang dan luar, asal-usul, produksi per musim, genre utama, dan kenapa industri ini jauh lebih luas dari...

Di luar Jepang, banyak orang memakai kata anime seolah itu satu gaya, satu usia, dan satu jenis cerita. Di Jepang, istilah yang sama jauh lebih dekat ke label sederhana untuk animasi… dan perbedaan itu saja sudah menjelaskan banyak kebingungan seputar kartun Jepang.

Yang dari luar terlihat “cuma kartun” sebenarnya industri raksasa: musim penayangan sendiri, budaya studio, genre untuk anak sampai dewasa, plus mesin media yang menjual jauh lebih dari sekadar episode. Berikut peta ringkas tentang arti anime, asal-usulnya, cara dibuat, dan kenapa bisa bikin ketagihan.

Daftar isi 9

Apa Arti Anime?

Anime [アニメ] adalah kata Jepang yang berasal dari bahasa Inggris animation. Di Jepang, anime merujuk pada animasi secara umum, baik Barat maupun Jepang. Di luar Jepang, istilah itu biasanya dikhususkan untuk animasi produksi Jepang.

Bagi banyak penonton di luar negeri, “anime” juga mengisyaratkan gaya garis tertentu, tema yang lebih dewasa, dan ciri visual khas. Stereotipe itu terlalu sempit. Karya seperti Sazae-san tetap animasi Jepang, meski tidak masuk cetakan aksi yang biasa dibayangkan orang.

Bentuk lengkap pinjaman katanya adalah animēshon [アニメーション]; bentuk pendek anime yang dipakai sehari-hari. Memendekkan kata asing biasa dalam bahasa Jepang, jadi versi singkatnya bukan kesalahan: justru yang natural.

Gaya visual anime Jepang

Apa Asal Usul Anime?

Animasi Jepang berakar lebih lama daripada ledakan televisi. Film pendek eksperimental dan komersial sudah muncul sejak awal abad ke-20; pada masa perang dan pascaperang, pengaruh Amerika dan Eropa pada seniman Jepang juga terasa.

Gaya yang banyak orang sebut “anime” semakin jelas di era 1960-an. Osamu Tezuka, lewat karya terkenalnya Astro Boy [鉄腕アトム], membantu menancapkan identitas televisi yang kemudian diolah studio lain. Di pertengahan dekade itu Jepang sudah memproduksi serial dan film yang memadukan desain dari manga dengan cerita berepisode — termasuk hit awal yang diingat di luar negeri seperti Speed Racer.

Saat itu manga sudah mendominasi bacaan populer, jadi adaptasi ke film dan TV terasa seperti langkah alami. Mecha, serial petualangan, dan teknik animasi terbatas yang cocok untuk ritme mingguan menjadi bagian dari DNA medium ini.

Kolase anime klasik dan modern

Anime Apa yang Pertama Dibuat?

Banyak yang percaya anime pertama adalah Astro Boy, padahal itu tidak sepenuhnya tepat. Hakujaden (Legenda Ular Putih) tayang perdana 22 Oktober 1958 dan menjadi produksi warna pertama Toei Animation di sirkuit film panjang komersial.

Sebelumnya sudah ada film pendek dan animasi Jepang. Fragmen awal yang dikenal adalah Katsudō Shashin (sekitar 1907), dengan anak berpakaian pelaut. Ada juga karya pelopor 1910-an, serta judul-judul belakangan seperti Chikara to Onna no Yo no Naka atau dongeng animasi seperti perang monyet dan kepiting. Astro Boy (1963) tidak menciptakan animasi Jepang dari nol: ia memang tonggak televisi yang mempopulerkan format serial mingguan.

Untuk menempatkan judul, studio, dan tahun rilis, daftar anime per studio dan tahun rilis juga membantu.

Bagaimana Anime Dibuat?

Jepang punya budaya baca yang kuat, dan salah satu pasar paling hidup adalah manga: gaya garis dan penceritaan sendiri yang, begitu naik ke TV, membentuk sebagian besar wajah anime.

Selain manga ada light novel (novel ringan) dan game visual novel (penuh dialog, kadang strukturnya dekat manga), yang juga diadaptasi ke televisi dengan bahasa visual serupa. Kalau mau lebih dalam, ada panduan tentang visual novel dan light novel.

Jepang terkenal memproduksi jumlah serial dan film animasi yang sangat besar: ratusan studio, dan setiap tahun ratusan karya baru. Meski begitu, itu baru sebagian kecil dari yang terbit di manga, novel, dan game. Banyak cerita tak pernah dapat adaptasi animasi — makanya katalognya terasa hampir tak habis.

Karakter anime Jepang

Bagaimana Anime Diproduksi dan Dirilis?

Anime dirilis per musim: musim dingin (Januari), musim semi (April), musim panas (Juli), dan musim gugur (Oktober). Setiap musim biasanya mengumpulkan puluhan penayangan mingguan. Serial TV tipikal punya 12 atau 13 episode — disebut “1-cour”.

Beberapa mencapai 24 episode (“2-cour”) atau dibagi dua blok 12 dengan jeda (split cour). Ada juga film, OVA (spesial yang tidak tayang di TV terbuka dengan cara yang sama), spesial, dan format lain.

Pasarnya lebih mirip serial dan film daripada satu produk anak-anak. Tidak ada satu-satunya audiens target: banyak judul untuk remaja dan dewasa, sementara animasi anak sering memakai garis yang berbeda, seperti pada Doraemon.

Produksi dan rilis anime per musim

Apa Saja Genre Anime?

Siapa bilang anime hanya untuk anak-anak, biasanya belum melihat keragamannya. Anime dibagi menurut demografi editorial dan genre. Ada yang ringan; ada yang lebih mengharukan daripada banyak film live-action.

Ada ribuan judul yang bikin mata berkaca, atau yang mendorong kita memikirkan perilaku dan kehidupan sehari-hari. Di bawah ini ringkasan genre utama yang paling sering muncul di majalah, TV, dan katalog streaming.

Shounen — (pemuda laki-laki) dibuat dengan target remaja laki-laki sekitar 14–21 tahun: fantasi, pertarungan, aksi, komedi. Contoh: One Piece dan Naruto.

Shoujo — (pemudi) fokus pada gadis: romance, drama, kehidupan sekolah, musikal, komedi. Banyak juga ditonton pria; contoh populer: Kimi ni Todoke, Maid Sama!, Itazura na Kiss.

Kodomo — (anak-anak) untuk usia sekitar 6–12 tahun, sering lebih sederhana secara visual, banyak yang komedi atau edukatif. Ditonton lintas usia, seperti Doraemon dan Sazae-san dengan ribuan episode.

Contoh genre dan karakter anime

Mecha — robot raksasa atau mesin serupa. Contoh: Evangelion, Gundam, Code Geass.

Kemono — karakter utama berupa hewan, binatang, khimera, dan sejenisnya.

Tentu masih ada genre lain: petualangan, aksi, fiksi ilmiah, komedi, olahraga, drama, fantasi, romance. Plus tema berulang seperti sekolah, bela diri, sihir, horor… itu baru sebagian.

Genre Anime untuk Dewasa

Anime adalah medium untuk segala usia. Bukti sederhananya: pasar judul dewasa sangat besar. Di sini kita sebut beberapa label tanpa masuk ke konten eksplisit.

Seinen — untuk audiens lebih tua, biasanya 20+. Cerita lebih dewasa dan serius: aksi, komedi, drama, realisme, dan lainnya.

Josei — ditujukan untuk wanita dewasa dan muda.

Ecchi — memakai daya tarik seksual (kamera yang “nyenggol” tubuh atau pakaian dalam), tanpa harus pornografi.

Hentai — istilah yang di luar Jepang sering dipakai untuk anime pornografi.

Yuri / Shoujo-Ai (ai = cinta) — relasi romantis antar perempuan; yuri biasanya lebih tegas daripada shoujo-ai.

Yaoi / Shounen-Ai — relasi romantis antar laki-laki; yaoi biasanya lebih tegas daripada shounen-ai.

Label genre anime untuk audiens dewasa

Anime dan Media

Anime, bersama manga, game, dan buku bergaya serupa, menggerakkan industri bernilai miliaran dolar. Dari situ keluar produk tak terhitung: pakaian, mainan, kartu, action figure, dan seterusnya.

Merchandise dan figure anime

Uang juga mengalir lewat konser, CD, dan soundtrack: hampir setiap serial punya opening dan ending yang dinyanyikan band, lalu rilis disk dan OST.

Berkat komunitas otaku, rantai toko, papan iklan, iklan TV, sampul album, hingga seluruh distrik hidup dari gairah itu. Jepang dikelilingi ekosistem media tersebut, dan Akihabara adalah contoh paling terkenal. Untuk arti kata yang lebih tepat, ada panduan apa arti otaku dan distrik otaku di Jepang.

Di luar Jepang, medium ini juga meninggalkan jejak: manga berlisensi, dubbing, subtitle, platform streaming, dan merchandise lokal menunjukkan industri tidak berhenti di kepulauan itu.

Budaya otaku dan produk anime
Contoh bagaimana anime mendorong perdagangan produk.

Kartun Jepang di Indonesia

Di Indonesia, anime sudah puluhan tahun akrab di kalangan anak muda… dan tetap memicu salah paham di sebagian orang dewasa. Kadang dianggap “kekanak-kanakan” hanya karena bentuknya animasi; kadang disempitkan jadi segelintir judul aksi yang pernah tayang di TV nasional.

Lama sekali, yang paling dikenal di layar terbuka adalah shounen aksi dan fantasi. Itu meninggalkan foto yang tidak lengkap: ada romance, slice of life, horor, olahraga, drama, dan karya yang jelas-jelas untuk dewasa. Menghakimi “anime” sebagai satu blok tunggal hampir selalu salah bingkai.

Anime populer di Indonesia

Hari ini pantasannya lebih luas. Platform streaming, convention, fandom di media sosial, dan penerbit manga mendekatkan genre yang dulu jarang dilisensi atau di-dubbing ke bahasa Indonesia. Menonton anime juga jadi cara melirik Jepang: kebiasaan, sekolah, kota, humor, bahkan kosakata bahasa.

Anime bukan “hanya untuk anak”, dan bukan satu hal tunggal. Ada genre, demografi editorial, adaptasi, dan nada yang sangat berbeda. Kalau belum pernah menonton, coba judul yang mirip selera film atau serial favoritmu: kejutan sering datang justru ketika kita tidak mengira gambar bergerak bisa sebegitu serius… atau sebegitu lucu.

Tentang penulis

Kevin Henrique

Spesialis dengan pengalaman lebih dari 10 tahun dalam budaya Asia, berfokus pada Jepang, Korea, anime, dan game. Otodidak, penulis, dan pelancong yang fokus mengajarkan bahasa Jepang, tips wisata, dan fakta menarik yang mendalam.

Komunitas

Komentar

0 komentar

Belum ada komentar yang diterbitkan dalam bahasa ini.

Kirim komentar

Komentari artikel ini

Memuat pemeriksaan keamanan...

Jangan kirim tautan, embed, atau promosi. Komentar melewati anti-spam dan terjemahan otomatis sebelum tampil.