Antara bayangan Meiji yang monumental dan era Shōwa yang panjang, Jepang punya satu jembatan singkat: zaman Taishō. Namanya melekat pada kaisar yang jarang tampil di depan publik, tapi pemerintahan itu justru penuh gejolak—perang dunia, ledakan industri, gempa, dan percobaan demokrasi yang kelak dikenang sebagai Demokrasi Taishō.
Yoshihito (嘉仁), yang dikenal dengan nama anumerta Kaisar Taishō (大正天皇), naik takhta pada 1912 dan memerintah hingga 1926. Kesehatan yang rapuh membatasi perannya di panggung politik; yang tetap hidup adalah nengō (nama era), warisan budaya, dan konteks transisi yang membentuk Jepang modern sebelum militerisme menguat.

Daftar isi 6
Nama anumerta, nengō, dan cara Jepang menamai era
Di Jepang, kaisar yang sudah wafat dikenang dengan nama anumerta (tsuigō), yang dalam praktik modern sejalan dengan nengō—nama resmi periode pemerintahannya. Yoshihito dikenal sebagai Kaisar Taishō; putranya Hirohito dikenang sebagai Kaisar Shōwa. Itu beda dengan nama pribadi semasa hidup dan dengan sistem kalender Barat yang kita pakai sehari-hari.
Nengō Taishō menandai tahun-tahun 30 Juli 1912 sampai 25 Desember 1926. Membandingkannya dengan kalender kekaisaran Jepang membantu memahami berita, arsip, dan karya budaya yang masih menulis tanggal dalam format era, bukan hanya Masehi.
Ada juga tradisi Buddha kaimyō (nama Dharma) yang bisa diberikan kepada individu, tetapi di lingkup kaisar modern yang paling relevan bagi pembaca sejarah adalah pasangan nengō–nama anumerta: satu label untuk era, satu cara resmi merujuk penguasa setelah meninggal.
Kaisar Taishō: kehidupan, kesehatan, dan keluarga
Yoshihito lahir di Tokyo pada 31 Agustus 1879, putra Kaisar Meiji dan dayang Yanagiwara Naruko. Seperti saudara yang lebih tua, ia tumbuh dengan tubuh rapuh: meningitis di minggu-minggu pertama kehidupan membekas pada kesehatan fisik dan neurologisnya. Pendidikan di istana berjalan lebih lambat; ia unggul di beberapa kegiatan, misalnya berkuda, tetapi kesulitan di bidang yang menuntut abstraksi tinggi.
Pada 10 Mei 1900 ia menikah dengan Kujō Sadako (kemudian Permaisuri Teimei). Pasangan itu memiliki empat putra—Hirohito (kelak Kaisar Shōwa), Yasuhito (Pangeran Chichibu), Nobuhito (Pangeran Takamatsu), dan Takahito (Pangeran Mikasa)—semuanya bertahan hidup. Klaim bahwa “satu anak meninggal saat lahir” tidak sesuai dengan garis keturunan yang tercatat.
Yoshihito juga dikenal menyisipkan kata-kata asing, terutama Prancis, dalam percakapan—kebiasaan yang mengganggu ayahnya, Meiji. Ia sering digambarkan sebagai “kaisar Tokyo” pertama: hampir seluruh hidupnya dihabiskan di atau dekat ibu kota, berbeda dari generasi sebelumnya yang lebih terikat pada Kyoto.
Naik takhta dan peran yang terbatas
Setelah wafatnya Meiji, Yoshihito naik takhta pada akhir Juli 1912. Berbeda dari citra Meiji yang aktif, Taishō jarang memainkan peran politik publik yang menonjol. Seiring memburuknya kondisi neurologis, ia semakin menarik diri: setelah 1919 praktis tidak menjalankan tugas resmi, dan pada 25 November 1921 putra mahkota Hirohito diangkat sebagai sesshō (pemangku regensi) sampai kematian ayahnya.

Zaman Taishō: perang, industri, dan Gempa Besar Kantō
Zaman Taishō (1912–1926) bukan “keluar dari feodalisme”—sistem feodal sudah dirombak jauh sebelumnya lewat Restorasi dan era Meiji. Yang terjadi di sini adalah lanjutan modernisasi ekonomi, partisipasi Jepang dalam Perang Dunia I di pihak Sekutu, serta gejolak sosial di dalam negeri.
Selama perang di Eropa, industri Jepang—kimia, farmasi, tekstil—menikmati ruang di pasar Asia. Ketika Eropa pulih, keunggulan itu menipis dan tekanan ekonomi kembali terasa. Pada 1 September 1923, Gempa Besar Kantō menghancurkan Tokyo–Yokohama dan memperdalam krisis material serta sosial. Kaisar sendiri, menurut catatan biografi, sedang di luar pusat bencana; putra mahkota tetap di istana di tengah kekacauan.
Di pentas internasional, Jepang ikut Konferensi Perdamaian Versailles (1919) dan mengukuhkan posisi sebagai kekuatan regional. Di dalam negeri, ledakan industri dan bank besar berjalan beriringan dengan ketegangan buruh, urbanisasi, dan perdebatan politik yang semakin terbuka.
Demokrasi Taishō: apa yang benar-benar berubah
Demokrasi Taishō adalah sebutan sejarawan untuk gelombang liberalisasi relatif pada era ini: partai di parlemen lebih berperan, kabinet berbasis partai menguat, media dan gerakan sosial lebih hidup, dan ruang debat publik lebih lebar dibanding citra Meiji yang oligarkis.
Titik yang sering dikutip adalah undang-undang hak pilih laki-laki universal tahun 1925: hak memilih diperluas bagi pria dewasa (umumnya di atas 25 tahun), tanpa syarat properti seperti sebelumnya. Itu bukan demokrasi penuh—perempuan masih di luar kotak suara, dan lembaga kekaisaran tetap di puncak konstitusi Meiji—tetapi cukup untuk menjadikan era ini acuan “demokrasi kekaisaran” sebelum babak militerisme Shōwa awal.
Gelombang itu tidak abadi. Menjelang akhir Taishō dan awal Shōwa, nasionalisme dan pengaruh militer menguat kembali. Memahami Taishō justru membantu melihat bahwa jalan Jepang ke Perang Dunia II bukan garis lurus tanpa cabang demokratis di tengahnya. Ringkasan era yang lebih luas ada di sejarah Jepang menurut periode.
Regensi, kematian, dan warisan singkat
- Regensi Hirohito (1921–1926) menandai bahwa pemerintahan sehari-hari sudah bergeser ke putra mahkota jauh sebelum nengō berganti.
- Pada awal Desember 1926 diumumkan bahwa kaisar menderita pneumonia; ia meninggal pada 25 Desember 1926 di Hayama Imperial Villa (Kanagawa), usia 47 tahun. Hirohito naik takhta dan era Shōwa dimulai.
- Secara budaya, zaman Taishō digambarkan lewat pengaruh Barat di kota, pertumbuhan media massa, dan kontras antara kaisar yang hampir tidak terlihat dengan masyarakat yang semakin politis.
- Warisan politik yang sering dibahas: pengalaman partai, pemilu yang lebih luas, dan memori “demokrasi singkat” yang kelak dirujuk lagi setelah 1945.
Membaca Kaisar Taishō tanpa memisahkannya dari nengō-nya mudah membuat salah fokus: tokohnya rapuh dan jarang di depan kamera sejarah, tetapi periode yang memakai namanya justru salah satu jembatan paling padat antara Jepang “Meiji yang membangun negara” dan Jepang “Shōwa yang dilanda perang dan, kemudian, pemulihan”. Untuk konteks perang dan kejatuhan kekaisaran di abad ke-20, lanjutkan ke sejarah kekaisaran dan Perang Dunia II.
Komunitas
Komentar
0 komentar
Belum ada komentar yang diterbitkan dalam bahasa ini.
Kirim komentar