Geta: Sandal Kayu Tradisional Jepang

Geta: Sandal Kayu Tradisional Jepang

Kenali fungsi, bagian, dan ragam geta yang masih lekat dengan yukata, festival, dan budaya Jepang.

Suara karankoron dari kayu yang menyentuh jalan batu langsung membawa bayangan musim panas Jepang. Bunyi itu datang dari geta (下駄), alas kaki kayu yang bentuknya sederhana, tetapi dibuat agar kaki tidak terlalu dekat dengan tanah basah, berlumpur, atau berdebu.

Geta masih mudah ditemui bersama kimono dan yukata, terutama pada festival, penginapan tradisional, atau acara musim panas. Ia bukan sekadar aksesori lama: tinggi alasnya, tali yang menjepit jari kaki, dan cara melangkahnya punya fungsi yang sangat praktis.

Sepasang geta, sandal kayu tradisional Jepang
Daftar isi 6

Bagian utama geta

Bentuk geta mudah dikenali dari alas kayunya yang datar. Bagian ini disebut dai (台). Di atasnya terdapat tiga lubang tempat hanao (鼻緒), tali berlapis kain, dipasang. Hanao dijepit di antara ibu jari dan jari kedua kaki, seperti sandal jepit.

Di bawah dai ada ha (歯), yang secara harfiah berarti “gigi”. Banyak geta memiliki dua gigi kayu; keduanya mengangkat telapak kaki dari permukaan jalan. Tinggi dan bentuk gigi berbeda-beda menurut modelnya, sehingga ada geta yang terasa stabil untuk jalan santai dan ada pula yang memerlukan keseimbangan lebih baik.

Mengapa geta dibuat tinggi?

Fungsi paling mudah dipahami ada pada jarak antara kaki dan tanah. Saat jalan basah atau berlumpur, alas yang tinggi membantu menjaga telapak kaki dan bagian bawah pakaian agar tidak langsung terkena kotoran. Dalam sejarahnya, alas kaki kayu semacam ini juga berkaitan dengan pekerjaan di sawah dan tempat lembap.

Geta kemudian menjadi bagian dari pakaian sehari-hari di Jepang. Kini pemakaiannya lebih sering terkait yukata, suasana festival, atau kesempatan santai. Saat mengenakan yukata, geta lazim dipakai tanpa kaus kaki. Untuk pakaian yang lebih formal, zori biasanya menjadi pilihan yang lebih sesuai, khususnya bila dipadukan dengan tabi.

Bagian bawah geta dengan gigi kayu

Dari alat kerja ke pakaian tradisional

Riwayat geta tidak dimulai dari panggung festival. Jejak alas kayu ditemukan dalam konteks Jepang kuno, dan salah satu kegunaan yang sering disebut berkaitan dengan sawah yang basah. Jarak dari tanah membuat kaki lebih terlindungi ketika orang bekerja di lumpur atau melewati genangan.

Berabad-abad kemudian, perajin menghasilkan banyak bentuk untuk kebutuhan dan selera yang berbeda. Pada masa Edo, geta menjadi semakin akrab sebagai alas kaki masyarakat. Ketika sepatu gaya Barat makin umum, geta tidak hilang; perannya bergeser menjadi bagian yang kuat dari pakaian tradisional, penginapan, perayaan, dan suasana musim panas.

Geta dan zori: jangan tertukar

Keduanya sering dikenakan dengan busana tradisional, tetapi karakternya berbeda. Geta memakai alas kayu yang kaku dan biasanya tampak lebih tinggi. Zori umumnya memiliki alas yang lebih rata dan lebih lentur. Karena itu, geta sering diasosiasikan dengan yukata atau pemakaian kasual, sedangkan zori hadir dalam lebih banyak paduan kimono formal.

Perbedaan ini bukan aturan mutlak untuk setiap kesempatan. Bahan, bentuk tali, tingkat formalitas pakaian, dan acara yang didatangi tetap berpengaruh. Yang penting, jangan menganggap keduanya nama berbeda untuk sandal yang persis sama.

Jenis geta yang sering disebut

Nama geta dapat menunjukkan bentuk, tinggi alas, atau pemakainya. Tidak semua jenis dipakai untuk keadaan yang sama, dan beberapa istilah lebih sering muncul dalam pembahasan sejarah atau kerajinan tradisional.

  • Ashida (足駄): sebutan untuk geta yang tinggi; bentuknya membantu memberi jarak dari tanah yang basah.
  • Takageta (高下駄): geta dengan gigi yang lebih panjang dan tampilan yang sangat tinggi.
  • Ipponba (一本歯): model bergigi satu yang menuntut keseimbangan; bentuk ini kerap dikaitkan dengan gambaran tengu dan latihan di pegunungan.
  • Komageta (駒下駄): salah satu bentuk geta tradisional dengan variasi pada alas dan giginya.
  • Ukon geta (右近下駄): model dengan bagian bawah yang lebih menyatu dan melengkung.
  • Okobo atau pokkuri: alas kayu tinggi yang dikenal dari penampilan maiko. Untuk memahami peran maiko dalam dunia hiburan tradisional, lihat juga pembahasan tentang geisha dan maiko.
Contoh model geta Jepang dengan alas kayu

Bunyi, tali, dan cara berjalan

Karankoron adalah onomatope Jepang untuk bunyi geta saat dipakai berjalan. Bunyi ini bukan selalu sama: kayu, permukaan jalan, dan bentuk alas dapat membuatnya terdengar lebih halus atau lebih nyaring.

Bagian yang paling sering perlu diperhatikan adalah hanao. Tali yang terlalu ketat dapat membuat kaki tidak nyaman, sementara tali yang longgar membuat geta sulit dikendalikan. Karena itu, langkah pendek dan tenang lebih masuk akal daripada berjalan tergesa-gesa, terutama bagi orang yang baru pertama kali mencobanya.

Geta juga hadir dalam cerita rakyat dan simbol keberuntungan. Jika ingin melihat salah satu benda budaya Jepang yang lebih dekat dengan kepercayaan sehari-hari, kenali pula omamori.

Memakai geta berarti menyesuaikan langkah dengan bentuknya. Ketika dipadukan dengan yukata pada malam festival, justru ritme kecil itu yang membuat sepasang sandal kayu ini terasa lebih dari sekadar alas kaki.

Sumber dan tautan berguna

Tentang penulis

Kevin Henrique

Spesialis dengan pengalaman lebih dari 10 tahun dalam budaya Asia, berfokus pada Jepang, Korea, anime, dan game. Otodidak, penulis, dan pelancong yang fokus mengajarkan bahasa Jepang, tips wisata, dan fakta menarik yang mendalam.

Komunitas

Komentar

0 komentar

Belum ada komentar yang diterbitkan dalam bahasa ini.

Kirim komentar

Komentari artikel ini

Memuat pemeriksaan keamanan...

Jangan kirim tautan, embed, atau promosi. Komentar melewati anti-spam dan terjemahan otomatis sebelum tampil.