Higiene itu penting — karena dialah yang menjaga kita dari penyakit, kontaminasi, dan segala macam kejutan yang tidak menyenangkan. Dalam artikel ini, kita akan melihat kebiasaan dan gestur higiene yang di Jepang dianggap biasa — dan yang biasanya langsung noticed oleh setiap pengunjung di hari-hari pertamanya.
Setiap negara punya kebiasaan kebersihannya sendiri. Jepang punya cukup banyak, dan yang menarik adalah kebanyakan benar-benar dipatuhi oleh hampir semua orang. Kalau Anda melanggarnya, Anda akan cepat diperhatikan — dan bukan karena hal baik.
Daftar isi 8
Higiene di tempat umum — meniup hidung dan makan sambil berjalan
Meniup hidung di tempat umum adalah salah satu hal yang di Jepang tidak dilakukan begitu saja. Di banyak budaya sudah dianggap tidak sopan; di Jepang aturannya tegas. Makan sambil berjalan di jalan juga dipandang sama: Anda bisa menabrak seseorang atau mengotorinya — dan tidak ada opsi yang membuat Anda terlihat baik.
Kalau ingin siap, bawalah saputangan atau sebungkus kecil tisu. Kalau ragu, masuklah ke toilet umum. Di situlah orang meniup hidung, bukan di trotoar yang ramai.
Dan selama kita membahas soal jalan: tolong, jangan membuang sampah ke lantai. Di Jepang tempat sampah publik benar-benar langka, jadi yang biasa dilakukan adalah membawa sampah pulang atau mampir ke konbini (toko serba ada), yang hampir selalu punya tempat sampah dan sudut berdiri kecil untuk menyantap camilan. Jalanan tetap bersih karena setiap orang menanggung sedikit tanggung jawab atasnya.
Memakai masker saat sakit, atau sekadar tidak fit 100%
Kalau Anda sedang pilek, alergi musiman, atau sekadar tidak enak badan, mengenakan masker bedah di Jepang adalah hal yang benar-benar normal. Di banyak tempat lain hal ini mungkin dianggap berlebihan; di sini ini adalah etika dasar terhadap orang-orang di sekitar Anda.
Masker adalah, dalam praktiknya, cara paling sederhana untuk mengatakan, "Saya mungkin menular, saya tidak ingin mengganggu siapa pun." Saat musim alergi serbuk sari (sugi, di musim semi), sebagian besar populasi memakai masker — dan bukan hal aneh melihatnya di kereta atau kantor tanpa ada yang bereaksi apa pun.
Topeng tradisional Jepang — topeng Noh, topeng Hannya — lahir dari latar belakang berbeda, bukan higiene, melainkan teater dan spiritualitas. Topeng bedah harian yang kita bicarakan di sini punya fungsi praktis yang sangat berbeda: menutupi droplet, menghangatkan udara di pagi hari yang dingin, dan menjaga jarak sosial secara halus.


Mencuci tangan, merawat penampilan, memantau suhu tubuh
Sejak usia kecil, di Jepang orang belajar mencuci tangan dengan saksama — sebelum makan, sepulang ke rumah, setelah ke toilet. Di restoran, sekolah, dan banyak kantor, hand sanitizer tersedia, biasanya di pintu masuk.
Rambut yang rapi adalah aturan tidak tertulis. Di banyak sekolah dan profesi tertentu, rambut panjang harus diikat. Pria umumnya menjaga tata rambut tetap rapi. Memantau suhu tubuh juga bagian dari rutinitas: banyak rumah tangga dan kantor menyimpan termometer dalam jangkauan, dan rasa lelah sekecil apa pun menjadi alasan untuk memeriksanya.
Kamar mandi Jepang — membersihkan diri sebelum berendam
Di rumah-rumah Jepang, orang membersihkan diri dengan saksama di wastafel atau di bawah shower sebelum masuk bak mandi. Kata ofuro hanya merujuk pada bak mandinya, tempat orang berendam santai di air panas — tetapi bukan tempat orang membersihkan badan. Bak mandi tetap bersih, sehingga beberapa anggota keluarga bisa memakai air yang sama secara bergantian.
Di onsen dan sentō (pemandian umum), aturannya sama: bersihkan diri secara menyeluruh, lalu bersantai. Siapa pun yang melanggarnya cepat terlihat.

Melepas sepatu — di rumah dan kadang di tempat lain
Salah satu aturan pertama yang ditemukan pelancong di Jepang: di pintu masuk rumah (genkan), sepatu dilepas. Di dalam, orang berjalan dengan kaus kaki atau sandal dalam ruangan. Seringkali ada juga sandal khusus untuk toilet, yang dilepas saat kembali ke lorong.
Aturan ini tidak hanya berlaku untuk rumah. Aturan ini juga berlaku di banyak sekolah, beberapa restoran tradisional, kuil, bahkan beberapa kantor. Berjalan dengan sepatu jalanan di atas tatami langsung mengundang teguran — dan memang seharusnya begitu, karena tatami sensitif dan menyerap bau serta kelembapan.


Pembersihan sekolah, bagian tak terpisahkan dari keseharian
Di sekolah-sekolah Jepang, siswa membersihkan kelas, lorong, dan halaman mereka sendiri. Hal ini merupakan bagian tak terpisahkan dari hari sekolah dan sama sekali bukan hukuman: ini bentuk pendidikan. Siapa yang mengotori, membersihkannya.
Kebiasaan ini menumbuhkan rasa tanggung jawab dan menunjukkan bahwa kebersihan bukan tugas orang lain. Sekolah-sekolah Jepang juga dilengkapi dengan peralatan higiene yang lengkap — dari sabun hingga hand sanitizer — yang tidak selalu menjadi hal yang jelas di semua sistem sekolah lain.
Pemilahan sampah, rutinitas harian
Pemilahan sampah dimulai dari rumah. Kemasan, plastik, kertas, sampah organik: semua dipisahkan dengan saksama, dan setiap kategori punya hari pengumpulan sendiri. Kalau aturan tidak dihormati, kadang sampahnya dibiarkan begitu saja di tempat sampah.
Di kebanyakan rumah tangga, ada tiga sampai lima tempat sampah berbeda, sering diberi label di dapur. Di gedung-gedung, ruang sampah memiliki wadah terpisah untuk kaca, kaleng, botol PET, kertas, dan sampah yang bisa dibakar. Siapa yang tinggal di Jepang cepat terbiasa — dan siapa yang melancong ke Jepang bisa memperhatikan sistemnya dari dekat.
Mengapa kebiasaan-kebiasaan ini penting
Dilihat dari luar, aturan higiene Jepang mungkin terkesan ketat. Pada dasarnya aturan itu adalah ekspresi perhatian terhadap orang lain: tetangga di kereta, rekan kerja, keluarga. Kebersihan tidak dipandang sebagai kewajiban individual, melainkan sebagai tanggung jawab bersama.
Pelancong yang berkunjung ke Jepang tidak perlu menguasai semuanya — tetapi menghormati aturan yang paling terlihat (sepatu dilepas, tidak makan di jalan, pemilahan sampah) adalah tanda penghargaan yang selalu diterima dengan baik. Dan, jujur saja: beberapa kebiasaan ini juga layak dicoba di rumah.
Komunitas
Komentar
0 komentar
Belum ada komentar yang diterbitkan dalam bahasa ini.
Kirim komentar