Di Jepang, yang disebut kira-kira names selalu memicu kontroversi. Istilah ini secara harfiah berarti “bersinar” atau “kilau”, tetapi dalam praktiknya merujuk pada nama-nama ekstravaganza yang menyimpang dari standar. Beberapa terdengar kreatif dan modern, yang lain hampir tidak masuk akal: pelafalan buatan yang tidak bisa diucapkan siapa pun, referensi langsung ke merek internasional, atau bahkan penghormatan kepada karakter anime.
Dengan berlalunya waktu, kelebihan orisinalitas ini tidak lagi hanya menjadi keingintahuan budaya, tetapi mulai mengkhawatirkan otoritas. Bagaimanapun, nama bisa menyenangkan bagi orang tua, tetapi bagaimana jika menjadi tidak terucapkan di sekolah, menyinggung di lingkungan kerja, atau menjadi alasan rasa malu bagi anak itu sendiri? Ketegangan antara kebebasan dan tanggung jawab ini akhirnya menghasilkan, pada tahun 2025, undang-undang baru yang secara resmi membatasi pendaftaran nama-nama yang dianggap bermasalah.
Daftar Isi
Apa itu kira-kira names dan bagaimana mereka muncul?
Masalahnya adalah, seringkali, nama-nama ini tidak dapat dibaca tanpa penjelasan. Beberapa membawa makna yang berat, seperti kasus terkenal pada tahun 1993 di mana seorang ayah mencoba mendaftarkan putranya sebagai Akuma (悪魔), “setan”. Yang lain terdengar hanya lucu atau memalukan, seperti upaya menamai anak dengan nama karakter Pokémon atau putri Disney.

Apa yang berubah dengan undang-undang baru pada tahun 2025
Revisi Family Register Act (戸籍法 / Kosekihō) mulai berlaku pada tahun 2025 dan membawa perubahan signifikan dalam cara nama bayi didaftarkan di Jepang. Tujuan utama reformasi adalah memastikan nama-nama tersebut dapat dibaca, dapat diterima secara sosial, dan kompatibel dengan sistem digital.
Pernyataan pelafalan wajib
Hingga saat itu, orang tua hanya mendaftarkan nama dalam kanji, tanpa perlu memberi tahu pelafalan secara resmi. Ini menimbulkan masalah, karena banyak kanji memiliki beberapa pelafalan yang mungkin. Mulai dari reformasi, orang tua harus menunjukkan pelafalan resmi dalam hiragana atau katakana pada saat pendaftaran.
Penerimaan hanya pelafalan yang diakui
Tidak cukup hanya mengarang pelafalan sembarangan. Pemerintah menerbitkan daftar pelafalan yang dianggap untuk penggunaan umum untuk setiap kanji, berdasarkan kamus resmi dan praktik sosial. Pelafalan yang tidak tercantum dalam daftar ini dapat dipertanyakan atau ditolak.
Nama ofensif dan “anti-sosial”
Undang-undang secara eksplisit mengizinkan kantor catatan sipil (koseki tantōsha, yang bertanggung jawab atas pendaftaran) untuk menolak nama dengan konotasi negatif, menghina, atau yang dapat menyebabkan penderitaan sosial bagi anak. Istilah yang terkait dengan kekerasan, setan, kecabulan, atau penghinaan agama masuk dalam kategori ini.
Merek, karakter, dan kata asing
Nama yang mencoba mendaftarkan merek dagang, produk, atau karakter fiksi juga masuk dalam radar larangan. Ini termasuk nama yang diimpor langsung (seperti “Pikachu”) serta kanji yang dipaksa untuk mereproduksi kata asing, seperti Naiki (Nike) atau Raito (Light).
Standardisasi digital
Titik yang sedikit dibahas di luar Jepang adalah bahwa undang-undang ini juga memenuhi kebutuhan teknologi. Dengan digitalisasi lengkap koseki (registrasi keluarga), nama harus dapat dibaca oleh sistem elektronik. Pelafalan yang tidak ada atau karakter tanpa kode resmi dapat menghentikan database nasional, yang digunakan sebagai argumen kuat untuk reformasi.
Proses banding
Jika orang tua bersikeras pada pelafalan yang tidak biasa, mereka dapat memberikan justifikasi tertulis. Kantor catatan sipil mengirimkan kasus ke Kementerian Kehakiman, yang mengevaluasi legalitas permintaan. Dalam banyak kasus, penolakan dipertahankan, tetapi ada ruang untuk pengecualian dalam pelafalan regional atau nama tradisional yang kurang dikenal.
Nama Kira-Kira yang terdaftar secara resmi
Meskipun banyak nama aneh ditolak, ada ratusan orang yang memiliki nama mencolok.
Seiko Hashimoto (mantan atlet / politisi) memberi anak-anaknya nama seperti Girishia (“Yunani”) dan Torino (“Turin”), yang menjadi berita karena dia sendiri mengakui bahwa kanji yang digunakan tidak akan mudah dibaca oleh banyak orang.
Ada laporan tentang orang-orang dengan nama keluarga langka dari Okinawa, atau dengan nama keluarga “berbeda” di daratan, yang menghadapi diskriminasi atau keingintahuan, tepatnya karena nama keluarga tersebut jarang.

Contoh nama yang ditolak dan dikritik
Meskipun tidak ada daftar definitif yang diterbitkan oleh pemerintah, pers Jepang dan internasional menyoroti berbagai nama yang mengilustrasikan masalah tersebut. Beberapa dari mereka telah dicoba di masa lalu dan ditolak, sementara yang lain kemungkinan besar tidak akan lulus aturan baru.
- Akuma (悪魔) – berarti “setan” dan diblokir pada tahun 1993.
- Pikachu – penghormatan langsung ke karakter Pokémon.
- Ōjisama (王子様) – secara harfiah “pangeran”, terdengar lebih seperti gelar daripada nama.
- Naiki (Nike) – adaptasi fonetik merek olahraga.
- Lovely (ラブリー) – kata dalam bahasa Inggris yang digunakan sebagai nama pribadi.
- Pū (プー) – referensi ke Winnie-the-Pooh.
- Daiya (ダイヤ / Diamond) – upaya menulis “berlian” dengan kanji.
- Elsa – terkait dengan karakter Disney, tetapi ditulis dengan pelafalan paksa.
- Purin (プリン) – “puding” dalam bahasa Jepang, digunakan sebagai nama anak.
- Naruto – yang meskipun merupakan nama kota dan makanan, ditandai oleh anime.
Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa batasannya bukan pada kata itu sendiri, tetapi pada dampak sosial dan kelayakan penggunaan sehari-hari.

Nama umum dengan pelafalan alternatif
Tidak semua kira-kira names menarik perhatian karena penulisannya. Seringkali orang tua menggunakan kanji tradisional, tetapi mendaftarkan pelafalan yang tidak biasa. Di atas kertas nama itu tampak umum, tetapi ketika diucapkan dengan suara keras menjadi sesuatu yang benar-benar berbeda.
Contoh yang dikenal adalah 光, biasanya dibaca sebagai Hikari, didaftarkan sebagai Raito (Light), atau 愛, yang biasanya Ai, tetapi telah muncul sebagai Love. Masih ada kasus 海 (umi, laut) dibaca sebagai Marin atau Ocean, dan 心 (kokoro, hati) digunakan sebagai Heart. Dalam situasi seperti itu, julukan akhirnya semakin memperkuat pelafalan kreatif.
Yang lain mendaftarkan nama umum secara resmi, tetapi menggunakan kanji yang dapat memiliki pelafalan lain untuk berarti kata yang berbeda. Biasanya julukan Jepang akhirnya menjadi hasil dari pelafalan alternatif Kanji. Misalnya, nama Pikachu ditulis [光宙] tetapi mungkin kantor catatan sipil terpaksa menerima Mihiro yang juga ditulis [光宙].
Undang-undang baru memberikan kebebasan kepada kantor catatan sipil untuk menolak situasi tertentu, tetapi apakah mereka bisa menghindari permainan nama dan ideogram ini? Bagaimana pendapat Anda tentang seluruh situasi ini?


Tinggalkan Balasan